-->

Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Petilasan Gunung Giri

Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Petilasan Gunung Giri
Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Petilasan Gunung Giri
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDA – Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita sepanjang Bengawan Solo pada kisah Petilasan Gunung Giri. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

PETILASAN GUNUNG GIRI

Oleh: Parpal Poerwanto

Petilasan Gunung Giri terletak di sebuah bukit di atas aliran sungai Bengawan Solo. Kebe-radaannya dikelilingi oleh hutan jati bernama Alas Kethu. Petilasan ini sangat ramai dikunjungi orang-orang terutama yang sering mengadakan wisata ritual.

Petilasan ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian gapura pintu masuk yang dijaga arca Batara Kala, paseban, makam keluarga Mangkunegaran, dan bangunan utama tempat batu gilang yang dulunya merupakan tempat salat Sunan Giri. Menurut cerita yang berkembang, asal mula Petilasan Gunung Giri adalah sebagai berikut.

Sepeninggal Sunan Giri, Wasingo yang telah menjadi siluman singa berwarna putih tetap berdiam di Gunung Giri. Wasingo adalah sosok misterius yang selalu membututi Sunan Giri ketika hendak mencari kayu jati sebagai tiang masjid Agung Demak Bintoro. Karena dianggap salah oleh Sunan, Wasingo dikutuk menjadi seekor singa penunggu bukit kecil Gunung Giri.


Wasingo merasa menjadi satu-satunya penguasa di tempat itu. Tiba-tiba datanglah seekor Ular Buntung yang mengaku sebagai raja di Gunung Giri. Ular Buntung berbentuk seperti gendang sebesar pohon kelapa. Ular memiliki pasukan yang berjumlah ribuan.

“Hai manusia    keparat!  Beraninya kau petentang-petenteng di daerah kekuasaanku. Siapa namamu, he!” bentak Ular Buntung.
“Aku penguasa baru disini,” jawab Wasingo tenang tetapi tetap membuat panas telinga Ular Buntung.
“Apa? Tidak salah dengarkah aku?”
“Kata-kataku jelas. Telingamu juga masih waras.”
“He, he, he…. Rupanya kau sengaja memancingku marah, ya? Kau tadi belum sebutkan namamu. Jangan mati dulu sebelum kutahu namamu.”
“O ya…., dengar baik-baik namaku Wasingo. Aku dinobatkan Kanjeng Sunan Giri untuk menjadi raja di sini!”
“Tidak bisa. Sebelum kau dating kemari, akulah penguasa wilayah ini!”
“Sekarang apa maumu?” tantang Wasingo.
“Akan kupertahankan apa yang menjadi hakku!”
“Baiklah kalau begitu, terimalah ini!” Wasingo menyerang Ular Butung.

Maka terjadilah pertaruangan antara Wasingo dengan Ular Buntung beserta anak buahnya.. Dalam pertarungan itu Ular Buntung dan anak buahnya kalah. Ia minta ampun agar diberi  kesempatan untuk hidup. Wasingo mengabulkan. Ular Buntung diberi tugas untuk menjaga pintu masuk areal Petilasan Gunung Giri dan tetap memimpin anak buahnya.

Sepeninggal Ular Buntung datanglah seekor Rusa Emas. Dinamakan Rusa Emas karena rusa tersebut memiliki tanduk yang bercahaya. Rusa Emas merasa dirinya berhak menguasai Gunung Giri. Karenanya, ia tidak senang terhadap Wasingo yang dianggap sebagai pendatang baru telah berani menguasai Gunung Giri.

“Ini ada rusa gemuk. Sudah lama aku tidak makan daging rusa. Kemarilah rusa manis, dagingmu akan kusantap!” Wasingo mengejek.

Merasa diremehkan, Rusa Emas menantang Wasingo. Pertarungan pun tidak dapat dielakkan. Lagi-lagi Wasingo memenangkan pertarungan satu lawan   satu   itu.   Sebagai akibatnya,    Rusa Emas menjadi bawahan Wasingo. Ia diberi tugas membantu Ular Buntung menjaga pintu masuk.


Ketika itu Wasingo sudah merasa aman duduk sebagai raja penguasa Gunung Giri. Apalagi ia telah memiliki bawahan yang setia yaitu Ular Buntung beserta ribuan anak buahnya dan Rusa Emas. Akan tetapi itu tidak terlalu lama. Tiba-tiba datang serbuan berupa bola api. Bola api itu bisa berbicara layaknya manusia. Ia mengaku bernama Kyai Dahono. Kiai Dahono adalah tamtama Ratu Pantai Selatan (Ratu Kidul). Oleh Ratu Kidul tamtama itu diberi hak untuk memimpin para jin dan siluman yang berada di Petilasan Gunung Giri.

Merasa terusik ketenteramannya, Wasingo marah. Ia segera mengerahkan  bala pasukan siluman penghuni Petilasan Gunung Giri. Kiai Dahono diserang beribu-ribu tentara siluman. Akan tetapi dengan mudah Kiai Dahono dapat melumpuhkan pasukan siluman. Maka majulah Ular Buntung dan Rusa Emas menyerang Kiai Dahono. Pertarungan pun tidak dapat dielakkan. Kiai Dahono memang bukan tamtama sembarangan. Dengan mudah ia dapat mengalahkan Ular Buntung dan Rusa Emas.

Melihat semua bawahannya kalah, majulah Wasingo. Serta merta ditendangnya Kiai Dahono. Namun, Kiai Dahono waspada. Ia dapat menangkis serangan Wasingo. Sejurus kemudian, Wsaingo menjadi bulan-bulanan Kiai Dahono. Wasingo menyerah kalah kemudian membuat perhitungan dengan Kiai Dahono.


“Ampun, Kiai. Aku minta hidup!” rengek Wasingo.
“Baiklah kuampuni dirimu. Sekarang apa maumu?” Tanya Kiai Dahono.
“Kuserahkan sepenuhnya kerajaan Gunung Giri ini kepada Kiai asalkan aku diberi kepercayaan.”
“Maksudmu?”
“Ya, aku ingin mengabdi kepada Kiai.”
“Baiklah, akan kuangkat dirimu sebagai patih di sini. Mari bersama-sama menjaga ketenteraman kerajaan ini,” kata Kiai Dahono penuh bijaksana. Bukan itu saja, Kyai Dahono juga tetap memberikan kepercayaan kepada Ular Buntung dan Rusa Emas sebagai kerangka kerajaan siluman di Petilasan Gunung Giri.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi unggahan lainnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Petilasan Gunung Giri"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel