Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Gua Santana
Tuesday, 6 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Gua Santana |
GUA SANTANA
Oleh: Parpal PoerwantoDi sebelah bawah Kedung Maya, ada tempat yang dianggap angker yaitu Bengawan Gua Santana. Dinamakan demikian karena alur perahu yang melewati tempat tersebut bertemu dengan sebuah batu besar. Di atas batu tersebut terdapat sebuah gua. Di atas gua terdapat astana (makam) yang menurut cerita merupakan patilasan Sunan Bonang. Tempat itulah yang dinamakan Gua Sentana. Setiap perahu yang melintas harus berhati-hati dan dilarang bicara keras apalagi mengeluarkan kata-kata jorok.
Di kisahkan, ketika jaman wali di desa Bonang adalah seorang pemuda yang berkelana mencari kerja. Bertemulah ia dengan seseorang penduduk desa tersebut.
“Assalamu’alaikum, bolehkah hamba bertanya, Bu?” si pemuda bertanya penuh hormat.
“Kamu siapa? Rupanya aku belum pernah melihatmu sebelumya?” Ibu Tua balik bertanya.
“Betul, Bu. Hamba bukan warga sini. Asal hamba dari dusun seberang.”
“Lalu apa yang bisa kubantu?”
“Hamba ini hidup sebatang kara. Jika ada tuan sudi memperkerjakan hamba, maka hamba dengan tulus akan mengabdi.”
Ringkas cerita, Si Ibu Tua sangat tertarik dengan kehalusan budi dari pemuda tersebut lewat kata-katanya yang sopan dan bersahaja. Maka, diajaklah pemuda tersebut pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Si Ibu Tua melaporkan perihal pemuda itu kepada suaminya, Kiai Ageng. Ternyata Kiai Ageng juga tertarik pada pemuda tersebut. Kebetulan Kiai Ageng belum dikaruniai anak, maka pemuda pencari kerja itu tidak diambilnya sebagai pekerja tetapi diangkatnya menjadi anak dan diberi nama Bocah.
Bocah memang pemuda yang cerdas dan rajin bekerja. Selain itu, Bocah orangnya suka memberikan pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Semua itu dijalankan dengan hati yang ikhlas. Sering kali ia membawakan dagangan ibu-ibu atau bapak-bapak yang keberatan untuk diantar ke pasar. Apabila ada yang hendak memberikan imbalan, ia selalu menolak dengan halus sehingga tidak menyinggung perasaan. Mengetahui semua itu, Kiai Ageng semakin mencintai anak angkatnya.
Diceritakan, Bocah memang mendapat keajaiban dari Tuhan Yang Maha Esa. Konon, setiap hari Jumat selalu menjalankan salat Jumat di Mekkah tanpa bisa diketahui oleh siapapun termasuk anggota keluarga. Memang Bocah sangat merahasiakan kelebihannya itu. Akan tetapi, lama-kelamaan rahasia terbongkar juga, sebabnya adalah sebagai berikut.
Adalah seseorang yang naik haji dari daerah Lasem. Selesai menjalankan ibadah haji, Si Haji tadi hendak pulang ke Jawa. Akan tetapi sial, ia kehabisan ongkos. Si Haji kemudian bertandang ke seseorang Syeh dan meminta petunjuk. Semua yang ia alami diutarakan sejelas-jelasnya kepada Syeh tersebut. Syeh meraba iba kepada haji dari Lasem tersebut. Maka ia memberi petunjuk agar haji dari Lasem tadi bisa pulang ke rumahnya.
Saran Syeh, jika Si Haji ingin pulang ke Jawa, maka tunggulah hari Jumat depan. Ketika banyak jamaah mengerjakan salat Jumat di masjid Mekkah, Si Haji disuruh mencari seorang haji yang berjubah kain lurik berwarna hitam. Selesai mengerjakan salat Si Haji disuruh memegang jubah yang dikenakan sambil meminta pertolongannya.
Hari yang ditunggu pun tiba. Banyak muslimin yang hendak mengerjakan salat Jumat di masjid Mekkah. Si Haji melihat-lihat di mana seorang jemaah yang memakai kain lurik warna hitam. Hatinya merasa was-was karena sosok yang dikatakan oleh Syeh belum muncul dihadapannya. Akan tetapi, pandangannya menjadi berbinar ketika dilihatnya ada seorang pemuda yang memakai pakaian seperti yang diungkapkan oleh Syeh beberapa waktu lalu. Maka Si Haji mendekati pemuda itu dan berusahan duduk di sebelahnya.
Selesai salat Jumat, Si Haji segera memegang jubah yang dikenakan oleh pemuda itu sambil minta belas kasihan agar si pemuda sudi menolongnya untuk pulan ke Jawa. Karena merasa iba dan sipatnya yang suka menolong, pemuda itu berkenan menolongnya. Kepada Si Haji, pemuda berpesan untuk memegangnya dari belakang dan memejamkan mata. Selain itu tidak boleh membuka mata sebelum ada perintah dari pemuda.
Setelah mendapat isyarat untuk membuka mata, Si Haji segera membukanya. Ia kaget karena tahu-tahu sudah sampailah di rumah. Padahal hanya beberapa detik saja ia memejamkan mata. Karena rasa bersyukurnya, Si Haji mengajak pemuda itu untuk mampir di rumahnya. Karena ada urusan, pemuda itu menolak secara halus sambil meminta kepada Haji jika ada waktu senggang untuk bertandang ke Bonang. Kemudian kedua orang itu berpisah.
Tidak lama kemudian, Haji Lasem hendak bertandang ke rumah pemuda di Bonang. Untuk oleh-oleh, istrinya telah menyiapkan berbagai makanan. Setelah semuanya siap, berangkatlah Haji Lasem menuju Bonang. Sesampainya di Bonang sudah disambut oleh pemuda dan dipersilakan masuk ke rumah. Melihat ada tamu, Kiai Ageng ikut bergabung. Setelah saling memperkenalkan diri, terlibatlah pembicaraan yang hangat antara Haji Lasem, Kiai Ageng, dan Bocah. Arah pembicaraan sampailah kepada maskud dan tujuan Haji Lasem datang dengan banyak oleh-oleh. Dengan apa adanya Haji Lasem menceritakan awal pertemuannya dengan Bocah anak Kiai Ageng.
Setelah cukup lama, maka Haji Lasem segera pulang ke rumah.
Sepeninggal Haji Lasem, Kiai Ageng terngiang-ngiang kata-kata dari Haji Lasem. Ia tidak mengira anak angkatnya itu ‘waliyullah’ yaitu orang yang dikasihi dan diberi kelebihan oleh Allah. Sejak itu, Kiai Ageng merasa sangat sungkan kepada anak angkatnya. Melihat hal itu, Bocah juga merasa tidak enak perasaannya. Karenanya, ia segera minta ijin untuk pergi mencari ilmu sebagai bekal hidupnya nanti. Meskipun dengan berat hati, Kiai Ageng dan Nyai Ageng melepas kepergian Bocah.
Ringkas cerita, sampailah Si Bocah di negara Cirebon. Ia menuju Pesantren Cirebon. Melihat ada tamu yang datang, para santri menyambung. Si Bocah memperkenalkan diri bahwa dirinya anak dari Lasem dan ingin berguru di Pesantren Cirebon. Lurah Pondok menerimanya. Bocah menjadi santri dan bergabung dengan para santri lainnya.
Pada waktu itu, di Pesantren Cirebon memiliki tata cara mengisi padasan (tempat berwudu) dengan cara bergiliran. Santri dibuat kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri dari sepuluh anak. Ketika tiba giliran kelompok Bocah dan teman-temannya, Bocah menyelesaikannya seorang diri dengan waktu yang amat singkat Padahal padasan tersebut besar sekali sebab untuk wudu ratusan orang. Teman-temannya sangat heran. Biasanya, padasan tersebut diiisi sepuluh orang, kira-kira baru selesai dua jam kemudian. Kabar kesaktian Bocah cepat menyebar. Para santri membicarakannya di setiap tempat dan kesempatan. Lurah Pondok segera melapor kepada Kanjeng Sunan Cirebon. Mendapat laporan itu Sunan Cirebon kemudian berkata, “Aku tidak percaya kalau padasan itu sudah penuh. Coba lihat kembali!” Lurah Pondok dan beberapa santri menuju padasan untuk memastikan bahwa airnya benar-benar penuh atau belum. Mereka tercengang. Dilihatnya tak setetespun air berada di pedasan tersebut. “Padasan kering, padasan kering tak ada airnya….!”para santri membicarakannya.
Mendengar pembicaraan para santri itu, Bocah segera berkata, “Tadi airnya telah penuh. Coba dilihat kembali!”
Para santri membuktikan lagi. Sekarang dilihatnya padasan itu airnya penuh. Kejadian itu lalu dilaporkan kembali kepada Kanjeng Sunan Cirebon. Mendengar laporan dari para santri, Sunan Cirebon berkata, “Alhamdulillah, sekarang panggillah santri baru itu!”
Santri baru telah menghadap Sunan Cirebon. Sunan Cirebon melihat wajah santri itu dengan seksama. Dari aura yang terpancar, Sunan Cirebon tahu bahwa santri itu kelak akan menjadi seorang waliullah. Untuk itu Sunan Cirebon mengamanatkan agar Bocah kembali ke Bonang dan menyebarkan agama Islam di sana.
Setelah pamitan dan mendapat restu, Bocah kembali ke Bonang. Ia berkewajiban menyebarkan agama Islam di daerahnya. Karena berdiam di Bonang maka sering disebut Sunan Bonang. Konon, sesudah wafat Sunan Bonang dimakamkan di sutau tempat yang dinamakan Gua Santana.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Gua Santana"
Post a Comment