Cerpen - JERITAN SEORANG ISTRI
Saturday, 10 March 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - JERITAN SEORANG ISTRI |
JERITAN SEORANG ISTRI
Oleh: Parpal Poerwanto
Shinta sudah bulat tekadnya. Ia akan buktikan kepada dunia bahwa dirinya suci. Jauh terjamah dari tangan Rahwana, yang dianggap kotor oleh kebanyakan manusia. Air matanya sudah terkuras. Kata-kata iba penuh keyakinan tak mengusik hati suami yang dicinta dan dihormati selama ini.
Suami yang konon titisan dewa itu telah hilang mata hatinya. Di mana jiwa mengayomi dan memelihara cinta yang pernah dijalin dan didamba bersama selama ini? Justru rasa cemburu buta dengan sejuta syakwasangka kemudian melakukan intimidasi rumah tangga. Benarkah itu sifat titisan Wisnu?
Shinta mengambil napas panjang. Kayu-kayu kering sudah dipersiapkan tinggal memberi sumbu penyala daun-daun kering untuk menangkap api dari pemantik.
Selama bertahun-tahun dirinya di sarang penculik yang konon ganas dan tak berperikemanusiaan. Dirinya tidak pernah diperlakukan kasar. Bahkan tutur kata Rahwana penuh rasa, penuh harap, penuh kasih. Serta hormat kepada wanita yang dicintai. Andai saja dunia belum pernah mempertemukan dirinya dengan Rama, mungkin ceritanya pasti lain. Siapa yang tak takluk oleh kata-kata indah dan welah asih?
Ya, kata-kata indah. Semua yang terucap dari mulut Rahwana adalah penuh bunga. Tapi bukan sekedar bunga bualan yang berbusa-busa. Janji-janji Rahwana selalu ditepati. Apapun yang dipinta pasti tersedia dan Rahwana sendiri yang melayani. Lagi pula siapa yang meragukan akan kekayaan Rahwana? Adakah seorang perempuan yang tidak gila dengan harta?
Welas asih? Siapa orangnya apalagi seorang raja diraja yang sudi menunggui perempuan yang belum tentu mencintai dirinya dengan penuh rasa tanggung jawab. Rahwana tidak ingin ada seekor nyamuk pun yang bisa menggigit kulit Shinta tanpa tangannya harus menyentuh sedikit pun kulit Shinta.
Rahwana tak ingin kulit Shinta tergores sedikitpun. Selain penjagaan yang ketat di luar rumah, Rahwana sendiri yang memastikan putri titisan Bethari Widawati nir dari segala yang menyebabkan rasa tak nyaman dan sakit.
Ah, andai saja aku bukan seorang istri. Namun aku hanyalah seorang istri yang tidak punya hak untuk membela diri. Apalah gunanya membela diri bahwa ancaman bakar diripun justru direstui. Dan tuntas sudah bahwa rasa cemburu dan tidak percaya –karena aku hanyalah seorang istri.
Pemantik sudah dinyalakan. Sumbu daun-daun kering telah mengeluarkan asap. Walau baru sedikit, perih di mata dan sangat pedih di hati.
Hati Shinta menjerit. Ia hanya berharap ada uluran tangan halus penuh cinta dan tanpa curiga menurunkannya dari atas perapian. Namun, harapan itu tak terjawab. Bahkan rasa menyesal pun tak nampak dari sorot mata lelaki yang dicintai dengan segenap jiwa raga itu.
Mungkin benar kata orang, batas cinta dan benci itu hanyalah membran tipis fatamorgana. Batas percaya dan curiga itu bak selaput maya.
Api mulai merambat.
Telapak kaki mulai hangat. Namun, terasa bagaikan bara yang memberangus seluruh jasadnya. Jasad yang masih bernapas. Jasad yang ingin lepas dari segala tindas. Jasad yang kini sudah tidak berhasrat. Jasad yang dibiarkan merana nelangsa karena rasa dan mata gelap.
Api semakin meninggi.
Desir angin
Pada batang dan ranting
Bawalah aku, jerit istri korban api cemburu.
Wonogiri, 240715
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - JERITAN SEORANG ISTRI"
Post a Comment