Cerpen - AKULAH BANOWATI
Monday, 12 March 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - AKULAH BANOWATI |
AKULAH BANOWATI
Aku Banowati memang penuh pesona. Siapa yang tidak setuju? Ah, itu orang iri saja! Lelaki mana yang takkan tergoda melihat kerlingan mataku. Tubuhku molek sempurna, bagai porselin yang tak disentuh setitik debu pun. Bicaraku memang pedas tetapi akan selalu semayam di hati setiap lelaki hingga ketagihan untuk mendengarkannya lagi.
Sayang, cintaku terlarang. Berawal dari pertemuan yang tak sengaja, ketika kakakku Irawati hilang digondol maling. Seorang pemuda tampan yang selama ini hanya kudengar cerita tentangnya kini berdiri di hadapanku. Pandangnnya lembut menusuk jiwaku yang penuh asmara padanya. Tuturnya yang lembut meluluhlantakkan suasana hati. Hati yang kasmaran.
Sebenarnya aku telah lama mendengarkan kisahnya sebagai lelananging jagad, play boy sejati. Dia masih ada hubungan saudara, sebab bibiku adalah salah satu istri ayahnya. Aku benar-benar takluk di hadapannya. Belum ada pemuda yang membuat perasaanku teraduk-aduk seperti ini. Ada sih, sebenarnya seorang pemuda yang sangat memerhatikan aku. Namun dia itu pengecut, tidak berani berterus terang. Aswatama nama orang itu. Sebenarnya ia pemuda yang baik dan cukup rupawan meski tidak setampan Janaka. Mungkin karena dia merasa bahwa bukan dari golongan bangsawan, jadinya minder. Apa yang kuharapkan dari orang seperti dia?
Cintaku terlarang. Benar-benar terlarang. Terjadi ketika jelang pernikahanku dengan raja termasyur, Jaka Pitana. Raja muda yang sebenarnya gagah perkasa, digdaya mandraguna. Kekuasaannya sangat besar dengan kerajaan terbesar dan terkaya di bumi ini. Sayang, hatiku telah tertambat ke Janaka. Untuk itu, di hadapan ayah aku minta persyaratan. Aku mau dijodohkan dengan Jaka Pitana asalkan pada acara siraman harus dilaksanakan di kamar tertutup dan Janakalah yang memandikannya.
Bagai disambar petir Prabu Salya mendengar perimintaan putrinya itu. Dadanya bergemuruh saat mendengar nama Janaka. Ia yang memang materialistis merasa sangat sayang bila harus mengambalikan bawaan lamaran yang tak terkira nilainya itu. Apalagi harus ditukar dengan hanya seorang satria Pandawa. Ah, bagaimanapun juga dirinya harus memihak Jaka Pitana. Untuk itu Prabu Salya menemui Patih Sengkuni yang memang ahlinya politik, taktik, dan intrik.
Benar, di tangan Sengkuni, permintaanku direstui oleh calon suamiku. Waktu yang ditentukan tiba. Siraman segera dimulai. Cinta terlarang itu dimulai. Aku dan Janaka masuk kamar mandi yang luas. Di dalamnya terdapat kolam dengan wangi sejuta bunga. Kami berenang memadu asmara di antara semerbaknya bebunga itu. Berjam-jam, hingga kami lunglai dibuatnya.
Selesai mandi, aku memakai pakaian yang telah sediakan. Sedangkan Janaka kembali memakai pakaiannya. Sebelum keluar, kami sempat saling melumat bibir. Dup, ketika kubuka pintu kamar mandi, semua yang hadir menatap kami dengan sejuta pertanyaan di otak mereka masing-masing. Hanya ada seorang yang kelihatan tegang dan tidak tenang, dialah Aswatama.
Yup, buah cinta terlarang itu tumbuh dalam rahimku. Suamiku, Prabu Anom Jaka Pitana hanya mau mengakui sebagai anak bila bayi dalam kandungan itu adalah laki-laki. Aku stres. Siang malam aku berdoa agar anakku lahir seorang laki-laki. Secara sembunyi-sembunyi juga kukabarkan kepada Janaka tentang ancaman suamiku. Janaka berjanji akan mencari jalan yang terbaik. Benar, ketika Prabu Jaka Pitana sedang berburu anakku lahir. Dengan penuh harap aku menginginkan bayi laki-laki. Namun, ternyata bayi itu perempuan. Aku benar-benar galau. Bingung. Maka kukabarkan persoalan itu kepada Janaka.
Bukan kekasihku...eh maaf, Janaka namanya jika tidak punya akal brilian. Entah didapat dari mana, tiba-tiba dia membawa seorang bayi laki-laki mungil. Anakku, dengan restuku, diganti dengan anak itu. Belakangan baru kudiberi tahu Janaka bahwa bayi lak-laki yang dikasih nama Lesmana Mandra Kumara oleh suamiku itu adalah anak jin. Namun demikian aku berusaha untuk mencintainya agar semua berjalan baik-baik saja. Sementara anakku dititipkan kepada salah seorang istrinya dan diberi nama Pergiwa.
Ternyata, semua yang kulakukan bersama Janaka tidak lepas dari pengawasan seseorang. Siapa lagi jika bukan Aswatama? Maka, pada sebuah pertemuan agung, Aswatama melaporkan apa yang dia ketahui tentang rahasiaku itu kepada suamiku, Prabu Jaka Pitana. Maka marahlah ayahku, Prabu Salya. Aswatama mendapat umpatan yang tiada terkira. Bahkan ayah membelaku dengan dalih bahwa sebenarnya Aswatama itu cemburu karena sebenarnya dirinya jatuh cinta pada aku Banowati. Patih Sengkuni juga tidak mempercayainya dan bisa meyakinkan Prabu Jaka Pitana bahwa Aswatama itu kebanyakan menghayal. Sehingga mati kutulah Aswatama waktu itu.
Aku adalah Banowati. Kata orang aku binal. Namun, sebenarnya merekalah yang pikiran liar tanpa nalar dan akal. Cinta kan soal hati. Dan hatiku hanya tertambat kepada Janaka. Inikah yang disebut binal?
Aku adalah Banowati. Mereka mengatakan aku jalang. Emm, sebenarnya merekalah yang suka angannya melayang bila sedang kupandang. Lalu apa gunanya mata jika bukan untuk memandang?
Aku Banowati. Tidak pernah berhenti bermimpi. Hidup ini tiada sesuatu yang lebih indah jika dibandingkan dengan bersanding hidup dengan lelaki yang dicintai. Di tengah-tengah perang barata yuda jaya binangun yang saat ini tengah terjadi, aku tak henti-henti berdoa untuk kemenangan Pandawa, musuh dari suamiku dan sekutunya. Ah, cinta memang perlu pengorbanan. Orang tua, saudara, suami, anak, semua ipar beserta seluruh pendukungnya satu per satu menuntaskan kewajibannya di tegal kuru. Seluruhnya habis tiada sisa. Hanya dirinya yang sisa. Dengan langkah penuh harap dilaluinya gelimpangan mayat untuk menuju ke kubu musuh. Namun bukan untuk membunuh tetapi ingin bertemu dengan idaman hati yang selama ini dinanti-nanti.
Akan tetapi, belum puas diriku merasakan indahnya surga bumi, datanglah Aswatama yang dengan rindu dendamnya merayu-rayu. Aku dirangkulnya. Aku berontak dan berusaha menjerit. Tiba-tiba sebuah keris menusuk jantungku. Sebelum aku menutup mata, sempat beradu pandang. Ada cinta yang begitu dalam kulihat di matanya. Sebelum napasku terakhir berhenti, aku merasakan pelukannya yang begitu tulus serta ciumannya yang begitu hangat mendarat di keningku.
Wonogiri, 020715
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - AKULAH BANOWATI"
Post a Comment