-->

Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 4

Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 4
Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 4
TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN BUDAYA. Edisi kali ini disajikan budaya tentang Jamasan Pusaka Mangkunegaran di Wonogiri. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

JAMASAN PUSAKA    

MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 4

Oleh: Parpal Poerwanto

Penyelenggaraan upacara jamasan pusaka Mangkunegaran di Kabupaten Wonogiri tahun 2009 diyakini sebagai prosesi yang terbesar sejak diadakan tradisi jamasan pusaka tersebut. Sebab setelah itu acara serupa tidak diadakan semeriah sebelumnya karena adanya pandangan pro dan kontra. Terlepas dari masalah itu, pada kesempatan ini penulis merekam dan menuangkan kembali bagaimana jalannya prosesi upacara jamasan pusaka Mangkunegaran di Wonogiri pada tahun 2009.

Tradisi upacara jamasan pusaka Mangkunegaran di Wonogiri awalnya dilaksanakan di daerah tempat pusaka-pusaka tersebut berada (Nglaroh Selogiri dan Bubakan Girimarto). Tradisi jamasan pusaka diselenggarakan di Obyek Wisata Waduk Gajahmungkur baru dilaksanakan pada tahun 1986 atas prakarsa Bupati Wonogiri Oemarsono.

Pada masa Mangkunegoro VIII, Bupati Oemarsono meminta izin kepada Mangkunegaran untuk diperbolehkan mengirab dan mencuci (menjamas) pusaka-pusaka milik Mangkunegoro I (R.M. Said) di Obyek Wisata Sendang Asri Waduk Gajahmungkur Wonogiri. Kangjeng Adipati Mangkunegoro VIII mengizinkan sehingga pada waktu itu yaitu pada hari Minggu Legi di bulan Sura tahun 1986 ada acara prosesi penyerahan pusaka-pusaka Mangkunegaran ke Bupati Wonogiri untuk diadakan jamasan. Waktu itu yang ditunjuk sebagai subamanggala adalah R.M. Suparman Ponco Prabowo (Soerjanto, wawancara, 13 Januari 2010).


Acara penyelenggaraan jamasan dan kirab pusaka Mangkunegaran yang pertama kali sukses mengundang antusias warga yang luar biasa. Untuk itu Kangjeng Adipati Mangkunegoro X berkenan memberi gelar kepada Bupati Wonogiri yaitu Bupati Sepuh KRTH H. Drs. Oemarsono. Akan tetapi hal tersebut ditolak oleh Gubernur Jawa Tengah waktu itu, dan supaya dikembalikan. Akibatnya, pada penyelenggaraan jamasan dan kirab yang kedua panitia bingung. Waktu acara serah terima dari Mangkunegaran ke Bupati Wonogiri dilaksanakan di jalan raya tepatnya di Plinteng Semar (Taman Selopadi). Hali ini dilakukan karena adanya kekhawatiran panitia berkaitan dengan larangan Gubernur terhadap pemberian gelar kepada Bupati Oemarsono tersebut. Dananya pun berasal dari para donatur. Penyelenggaraan jamasan dan kirab kedua ini membuat kecewa masyarakat. Akhirnya melalui berbagai pertimbangan pada penyelenggaraan ketiga diperdakan. Sehingga sampai sekarang acara tersebut menjadi sebuah tradisi dan dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten (Lilik GHD, wawancara, 28 Desember 2009).

Tujuan dari penyelenggaraan jamasan pusaka itu hanya bertujuan untuk membersihkan dan merawat pusaka serta tujuan magis yaitu memelihara mana (kekuatan ghaib) yang ada dalam pusaka-pusaka tersebut. Setelah upacara jamasan pusaka ditangani oleh pihak kabupaten maka memiliki tujuan lain yaitu sebagai upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan kepariwisataan, khususnya wisata budaya serta meningkatkan perekonomian rakyat.

Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara jamasan pusaka juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahapan tersebut diawali dari : (1) pengambilan pusaka di tempat penyimpanan;  (2) tirakatan; (3) kirab/arak-arakan; dan (4) pemandian atau jamasan pusaka di Obyek Wisata Waduk Gajahmungkur. Penyelenggaraan jamasa pusaka di Obyek Wisata Waduk Gajahmungkur tentu memiliki nilai lebih jika dibandingkan diselenggarakan di Nglaroh (Selogiri) dan Bubakan (Girimarto) jika ditinjau dari segi kepariwisataan dan sosial ekonomi karena tempatnya merupakan salah satu andalah wisata di Kabupaten Wonogiri serta letaknya tidak terlalu jauh dari jantung kota Wonogiri.

Sebagai catatan, sejak  penyelenggaraan upacara jamasan pusaka  Mangkunegaran dilaksanakan pertama kali pada hari Minggu Legi, selanjutnya hari yang dipilih adalah hari Selasa Kliwon (Anggoro Kasih) atau Jumat Kliwon (Sukro Kasih) di bulan Sura, karena pada hari-hari tersebut merupakan hari yang dianggap penuh dengan berkah dan petuah (Lilik GHD, wawancara, 28 Desember 2009).  Hari Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon juga dianggap mempunyai sawab, sehingga dengan diselenggarakannya jamasan pusaka pada hari-hari tersebut diharapkan sawab yang ada dapat memberikan kekuatan dan keampuhan bagi pusaka tersebut.


Hari Selasa Kliwon (Anggoro Kasih) ini adalah hari diturunkannya Wahyu Cakraningrat atau Wahyu Jatmika di tanah Jawa atau Nusantara (Suryo S. Negoro, 2000:52). Namun saat ini, setelah dikemas untuk kepentingan kepariwisataan, upacara jamasan pusaka Mangkunegaran dilakukan pada hari libur, yaitu pada hari Minggu tanggal 27 Desember 2009 dengan alasan untuk menarik wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing. Bahkan, pada puncak acara biasanya diadakan upacara ruwatan massal.


Hari libur dipilih karena pada waktu itu tidak menyita rutinitas kerja para pegawai dan diharapkan akan dapat menyedot pengunjung lebih banyak (Sentot Sujarwoko, wawancara, 27 Desember 2009).

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 4"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel