Legenda - CEMPURUNG - KI AGENG DONOLOYO # 15
Sunday, 18 February 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 15 |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, jumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini masih meneruskan kisah Cempurung Ki Ageng Donoloyo yakni pada seri ke-15. Kisah ini menceritakan terjadinya Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
CEMPURUNG
KI AGENG DONOLOYO # 15
Oleh: Parpal Poerwanto
Sunan Giri tertarik dengan sebatang pohon jati yang besar. lurus, dan kokoh. Itulah jati Cempurung yang merupakan cikal bakal hutan jati di daerah Watusomo.
Pada saat Jati Cempurung ditebang, ada keanehan yang terjadi. Sewaktu pohon itu roboh, salah satu dahannya lepas dan menempel (Jawa: gondelan) pada sebuah pohon lainnya. Dahan jati itu bisa menyatu dengan pohon yang ditempelinya.
"Allah Maha Pencipta. Apapun yang dikehendaki-Nya pasti terjadi. Lihatlah dahan jati Cempurung itu. Setelah lepas dari batang, bisa menempel dan hidup," kata Sunan Giri sambil menunjuk ke arah dahan jati tersebut.
"Betul Kanjeng, Allah Mahakuasa...."
"Oleh sebab itu Ki Ageng, sebagai saksi bahwa semua itu terjadi, pohon jati itu kunamakan Jati Gondel....!" kata Sunan Giri. Tiba-tiba ada suara petir menyambar.
Selesai ditebang, Jati Cempurung akan dihanyutkan di kali Keduang. Kali itu terletak di selatan tidak jauh dari tempat itu. Kali Keduang bermuara di Bengawan Solo. Rencananya, melalui aliran Bengawan Solo kayu tersebut akan dibawa. Selepas Bengawan Solo di Ujungpangkah, Gresik, kayu akan diangkut dengan kapal sampi Demak Bintoro. Namun, ternyata kayu itu menjadi berat sekali. Sudah berpuluh-puluh orang dikerahkan untuk menggotongnya tetapi tidak terangkat sedikitpun.
Melihat keganjilan itu, atas izin dari Sunan Giri, Ki Ageng Donosari segera mencari jalan keluarg. Ki Ageng mendatangkan seorang pesinden. Pesinden muda itu cantik parasnya. Bajunya yang berwarna gadhung mlathi atau hijau pupus ditambah kain jarit lurik kawung sangat serasi dipandang. Pesinden yang bersuara merdu itu kemudian disuruh duduk di atas kayu sambli melantunkan tembang-tembang macapat. Anehnya, kayu jati itu bukannya bertambah berat tetapi seakan-akan bisa berjalan sendiri. Maka sampailah Jati Cempurung di Kali Keduang.
Sebelum meninggalkan tempat itu, berkatalah Sunan Giri kepada Ki Ageng Donosari. "Ki Ageng, ada beberapa hal yang perlu aku sampaikan untuk mengingat perjalananku mencari tiang penyangga Masjid Demak, pertama, sepanjang perjalanan di wilayah ini, yang kusaksikan hanyalah hamparan hutan dan pegunungan. Maka Ki Ageng, saksikanlah bahwa daerah ini kuberi nama Wonogiri. Isya Allah kelak akan menjadi daerah yang ramai penduduknya."
"Wonogiri, Njeng Sunan?" Ki Ageng memastikan.
"Betul. Wono artinya hutan, dan giri berarti gunung."
"Baik, Njeng Sunan."
"Kedua, karena besar jasamu terhadap negara, maka mulai hari ini namamu kuubah menjadi Ki Ageng Donoloyo. Dono artinya hadiah dan loyo artinya papan atau tempat. Ki Ageng telah memberikan sebuah hadiah berupa kayu jati untuk saka guru Masjid Demak dan di tempat inilah aku menerima hadiah itu. Sesuaikan hutan ini dengan namamu, yaitu Hutan Donoloyo."
"Terima kasih, Njeng Sunan. Semoga Allah selalu memberkati kita."
"Masih ada lagi Ki Ageng. Untuk menandai permintaanmu agar wilayah ini tidak kekurangan sandang pangan, tidak terjadi pagebluk dan tidak menjadi ajang peperangan, dan sekaligus sebagai ucapan terima kasih dari Sultan Demak kepadamu melalui diriku, maka aku titipkan tiga buah pusaka. Yaitu keris Kyai Mangu, patrem Nyai Denok, dan sepucuk tombak Kyai Cempurung. Terimalah Ki Ageng."
"Terima kasih, Kanjeng Sunan. Semoga pusaka ini menjadi penanda kehadiran Sunan kemari."
Selanjutnya Sunan Giri mengawal kayu Jati Cempurung di Sungai Keduang. Sampai di Bengawan Solo berkenan mampir di bukit dimana tongkatnya dulu ditancapkan. Betapa kagetnya Sunan Giri ketika menyaksikan orang yang membututinya masih menunggu tongkat yang dikira dirinya di bukit tersebut. Kemudian, Sunan Giri mencolek orang tersebut dari belakang.
"Ma, ma, maaf, Kisanak," kata orang itu penuh ketakutan.
"Kamu itu sebenarnya siapa dan ada maksud apa?"
"Aku Wasingo. Aku tidak punya maksud apa-apa terhadap Kisanak."
"Jika tidak punya maksud tertentu mengapa selalu membuntuti aku?"
Wasingo hanya menundukkan kepala. Setelah beberapa saat tidak menjawab, maka Sunan Giri berkata, "Jika kamu tidak mau menjawab, berarti kamu betah tinggal di sini. Maka tunggulah tongkatku, sebab aku yakin bahwa kamu ingin memiliki tongkat itu!"
Seketika Wasingo bagaikan patung yang tidak bisa bergerak. Satu-satunya tanda bahwa Wasingo masih hidup adalah tarikan napasnya. Sedangkan bagian tubuh lainnya sangat sukar digerakkan.
Selanjutnya Sunan Giri berkata lagi, "Sakiskanlah olehmu Wasingo, untuk menginat perjalananku, maka tempat ini aku namakan Gunung Giri. Sudahlah, mudah-mudahan kamu selamat tiada kurang suatu apa. Aku akan meneruskan perjalanan ke Demak."
Sunan Giri berhasil membawa Jati Cempurung ke Demak Bintoro untuk dijadikan salah satu tiang utama Masjid Demak.
Menurut kabar, sepeninggal Sunan Giri, Wasingo sangat setia menunggu Gunung Giri sampai tiba ajalnya. Konon, menurut cerita, arwahnya pun tidak mau pergi dari Gunung Giri. Wasingo menjelma menjadi seekor singa putih. Singa itu sering muncul apabila ada orang yang akan berbuat jahat seperti mencuri kayu di daerah tersebut.
Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Nantikan seri ke-16 (tamat), ya! Sampai jumpa.

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG - KI AGENG DONOLOYO # 15"
Post a Comment