-->

Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 14

Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 14
Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 14
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini masih meneruskan kisah Cempurung Ki Ageng Donoloyo yaitu kisah ke-14. Legenda ini menceritakan terjadinya Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.


CEMPURUNG

KI AGENG DONOLOYO # 14

Oleh: Parpal Poerwanto

Kedatangan Sunan Giri ke hutan Watusomo menjadikan Ki Ageng Donosari bertanya-tanya. Jangan-jangan Sunan Giri diutus Sultan untuk menelusur keberadaan keluarga Majapahit. "Kanjeng Sunan, apa Paduka diutus Kanjeng Sultan Demak untuk mencari sisa-sia keluarga Majapahit?"
"Mengapa Kisanak bertanya demikian? Siapa sebenarnya Kisanak?" Sunan Giri tampak heran.
"Terus terang, aku adalah Dono Kusumo, Njeng Sunan."
"Pangeran Dono Kusumo...," kata Sunan Giri sambil merangkul Pangeran Dono Kusumo ya Ki Ageng Donosari.

Selanjutnya Ki Ageng Donosari menceritakan perjalanan dan tujuan meninggalkan Majapahit bersama dengan Dewi Donowati dan Pangeran Meleng hingga keberadaan hutan jati.
"Jadi, hutan ini milik Pangeran?" tanya Sunan Giri.
"Betul Njeng Sunan. Tapi mohon jangan panggil saya pangeran karena sekarang saya ini adalah warga Watusomo. Orang-orang memanggilku Donosari."

Kemudian Sunan Giri juga menceritakan perihal kedatangannya di tempat itu.

"Kanjeng Sultan Demak akan membangun masjid agung, Njeng Sunan?"

"Ya, karenanya semua wali mendapat tugas mencari kayu untuk tiang penyangga utama masjid."


Sejenak, Ki Ageng Donosari diam seperti ada yang dipikirkan. Sebagai waliullah, Sunan Giri tahu bahwa Ki Ageng Donosari tenagh mempunyai persoalan. Maka berkatalah Sunan Giri. "Sepertinya ada yang mengganjal dalam hati, Ki Ageng. Coba katakan, mudah-mudahan bisa kita pecahkan bersama."

Kemudian dengan terbuka Ki Ageng Donosari menceritakan perselisihpahaman antara dirinya dengan Ki Ageng Sokoboyo, kakaknya. Yang menjadi beban pikiran adalah tentang tulah yang diucapkan kakak iparnya beberapa waktu lalu.
"Itu persoalannya."
"Betul, Kanjeng."
"Allah Maha Adil, tentu akan memihak yang benar. Jangan kawatir, Ki."
"Benar Kanjeng. Tapi saya masih megkawatirkannya. Untuk itu perkenankan saya minta bantuan Njeng Sunan."
"Bantuan apa, Ki Ageng?"

"Saya mohon agar Njeng Sunan berkenan mendoakan minta kemurahan Tuhan Yang Maha Bijaksana. Pertama, tulah Kakang Sokoboyo tidak menjadi kenyataan. Kedua, supaya daerah Watusomo ini tidak pernah mengalami kekurangan sandang dan pangan. Ketiga, supaya daerah ini terlepas dari wabah penyakit. Terakhir, supaya wilayah sini tidak pernah menjadi ajang peperangan."


"Ki Ageng, kita adalah hamba Allah. Kita hanya bisa berdoa, tetapi tentu Allahlah yang menjadi penentunya. Untuk itu, mari berdoa bersama-sama semoga apa yang menjadi hajat Ki Ageng dikabulkan oleh Allah."

Selesai bermunajat, datanglah angin topan dan disusul hujan deras sekali. Berkali-kali petir menyambar membelah angkasa memuntahkan suaranya yang menggelegar. Konon, permohonan Ki Ageng Donosari ini dikabulakn oleh Allah. Daerah sekitar hutan, rakyat hidup dalam kecukupan dan terhindar dari wabah penyakit. Selain itu, juga tidak pernah terjadi peperangan di wilayah tersebut.

Sahabat, terima kasih atas kunjuangannya. Nantikan seri ke-15, ya! Sampai jumpa.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 14"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel