-->

Legenda - Buaya Kedung Depis 4 # Kedatangan Tamu

Legenda - Buaya Kedung Depis 4 # Kedatangan Tamu
Legenda - Buaya Kedung Depis 4 # Kedatangan Tamu
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa lagi dengan taman legenda. Kali ini masih melanjutkan legenda Buaya Kedung Depis bagian 4 yakni Kedatangan Tamu.

Selengkapnya adalah sebagai berikut.

BUAYA KEDUNG DEPIS (4)

KEDATANGAN TAMU

Oleh: Parpal Poerwanto

Sekitar tiga tahun Raden Irapati yang kini menggunakan sebutan Ki Irapati beserta keluarga dan saudara-saudaranya tinggal di tempat yang baru. Mereka hidup sangat sederhana. Anak-anak dan ibu-ibu sudah terbiasa pergi ke ladang untuk mengolah tanah. Meskipun kehidupannya sangat berbeda jika dibandingkan dengan kehidupan di Pajang tetapi mereka kelihatan sangat bahagia.

Lama-lama keberadaaan mereka diketahui oleh penduduk desa lain. Suatu hari, Ki Irapati kedatangan tamu. Tamu itu berasal dari desa sebelah kira-kira jaraknya lima kilometer dari Banjarsari. Setelah diperkenankan masuk, tamu iatu memperkenalkan diri dan kemudia menyampaikan maksud kedatangannya.

"Perkenalkan, nama saya Marto. Maaf, mungkin kedatangan saya yang tidak diundang ini mengganggu  Kisanak." Kata orang itu dengan sopan. Tangannya diulurkan untuk bersalaman. Ki Irapati membalas jabat tangan itu. Kemudian menjawab, "Oh tidak, tidak. Saya senang sekali Kisanak mau bertandang ke rumah ini. Oh ya, nama saya Irapati. Barangkali ada sesuatu yang perlu dibicarakan, Kisanak Marto?"

"Begini Kisanak Irapati, kedatangan saya kemari mau menyampaikan sesuatu."
"Sesuatu? Coba katakan, jangan sungkan-sungkan....!" Ki Irapati mengerutkan dahi siap-siap untuk mendengarkan yang disampaikan Marto.
"Kisanak, jauh sebelum Kisanak bersama rombongan tinggal di tempat ini, saya bersama warga lain pernah mendiami tempat ini. Tapi...." Marto tidak melanjutkan ucapannya.

"Tapi apa, Kisanak?"

"Kami terpaksa pindah."

"Terpaksa pindah? Apa sebabnya?"

"Kami pindah karena tempat ini tidak aman."

"Tidak aman? Apa tempat ini banyak perampok atau pencuri?" Ki Irapati agak terkejut.

"Bukan itu Kisanak, bukan...."

"Kalau bukan itu penyebabnya, lalu apa, Kisanak?"

"Kisanak lihat, di bawah sana mengalir sebuah bengawan. Dari air itulah penduduk mendapatkan air. Baik untuk mengairi tanaman maupun keperluan sehari-hari lainnya. Ternyata, di sungai itu banyak buayanya. Setiap hari selalu ada korban keganasan buaya-buaya itu."


Ki Irapati mendengarkan dengan seksama. Ki Irapati tahu bahwa Bengawan Semanggi atau Bengawan Solo banyak buayanya. Namun, sejauh ini belum pernah mendengar bahwa buaya-buaya itu memakan korban. Maka, dengan hati-hati supaya tamunya tidak tersinggung, Ki Irapati segera berkata, "Kisanak Marto, mungkin saja orang-orang yang menjadi korban kurang waspada terhadap datangnya buaya. Syukurlah selama tiga tahun kami bersama sanak keluarga di sini tidak pernah ada buaya yang datang mengganggu."

"Betulkah demikian, Kisanak?" tanya orang itu seakan tidak percaya. Sebab, selama Marto dan warga lainnya tinggal di tempat itu, hampir setiap hari ada orang yang kehilangan sanak keluarganya. Setidaknya hewan-hewan piaraan mereka yang tengah dimandikan di bengawan juga tidak luput dari buasnya buaya-buaya Kedung Depis.

"Sungguh Kisanak, saya tidak bohong. Mudah-mudahan bahaya iti tidak akan datang lagi." Ki Irapati meyakinkan. Marto diam. Kelihatan sedang berpikir. Kemudian, Marto berkata lagi, "Jika demikian, bolehkah saya mempunyai permintaan, Kisanak...."
"Tentang apa? Silakan...."
"Karena saya bersama warga lain pernah tinggal di tempat ini, bagaimana kalau semua warga itu saya ajak kembali tinggal di tempat ini. Terus terang, saya lebih merasa cocok tinggal di sini. Selain tanahnya subur, keperluan airpun sangta mudah didapat. Hali ini sangat berbeda dengan tempat kami sekarang ini. Di sana tanahnya gersang karena jauh dari bengawan."

Mendengar ucapan itu, Ki Irapati mengangguk-anggukan kepala. Awalnya, Ki Irapati mengira bahwa kedatangan Marto akan mengganggu ketenteramannya tinggal di tempat itu bersama sak-keluarganya. Ternyata Marto malah ingin ikut bergabung tinggal bersama. "Silakan, Kisanak. Saya akan lebih senang jika desa ini menjadi ramai dihuni penduduk."

"Terima kasih, Kisanak. Jika demikian saya sampaikan kabar gembira ini kepada warga lain. Mungkin beberapa hari lagi rombongan dari desa kami akan segera datang. Permisi...."
"Mangga, salamku untuk semua sanak-keluarga di sana...."
"Ya, ya, Kisanak, sampai jumpa...."

Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa dengan kelanjutan kisah ini pada bagian 5 Banjarsari Semakin Ramai.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - Buaya Kedung Depis 4 # Kedatangan Tamu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel