-->

Legenda - Buaya Kedung Depis 3 # Desa Banjarsari

Legenda - Buaya Kedung Depis 3 # Desa Banjarsari
Legenda - Buaya Kedung Depis 3 # Desa Banjarsari
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa lagi dengan taman legenda (cerita rakyat). Legenda kali masih meneruskan kisah Buaya Kedung Depis pada bagian 3 yakni Desa Banjarsari.

Selengkapnya adalah sebagai berikut.


BUAYA KEDUNG DEPIS

DESA BANJARSARI

Oleh: Parpal Poerwanto

Setelah satu rumah jadi, mereka istirahat untuk memulihkan tenaga. Sekembalinya tenaga pulih, ibu-ibu sibuk mencari ubi-ubian yang tumbuh liar di tempat itu. Kemudian memasaknya untuk sekadar mengganjal perut supaya tidak kelaparan.

Dua minggu selanjutnya telah berdiri dua rumah sederhana lagi. Kini, rumah sederhana itu jumlahnya ada tiga buah. Masing-masing untuk keluarga Raden Kencana, Raden Sungging, dan Raden Irapati.

"Kanda, saya juga yakin apa yang Kanda katakan tempo hari bahwa tempat ini kelak akan ramai. Untuk itu, saya punya usul, sebaiknya kita beri nama dulu tempat ini," kata Raden Irapati setelah tinggal beberapa hari di tempat baru itu.

"Betul Dimas. Kita belum sempat memberi nama tempat ini. Mungkin Dimas Irapati sudah menyiapkan nama?"
"Belum Kanda. Tapi kalau boleh usul, bagaimana jika desa ini dinamakan Banjar?"
"Nama yang bagus, Dimas. Sebab tanah ini sangat luas dan cocok untuk perkampungan. Tapi, kalau boleh usul pula, nama itu sebaiknya ditambah dengan sari. Jadi, lengkapnya Banjarsari.... Bagaimana Dimas Sungging?" tanya Raden Kencana minta pendapat Raden Sungging yang sedari tadi tidak ikut bicara.
"Kalau saya setuju saja, Kanda," jawab Raden Sungging.

Akhirnya kesepakatan diraih. Permukiman baru itu dinamai Banjarsari. Sejak itu mereka memutuskan untuk menempati desa yang mereka buka bersama dengan kehidupan baru bersama.

Kehidupan sebagai rakyat biasa telah mereka jalani. Sebagai mata pencaharian, mereka mengolah tanah sekitar pekarangan rumah. Tanah itu sangat subur. Semua tanaman tumbuh dengan mudah dan hasilnya sangat memuaskan. Selain menanm padi, mereka juga menanam ketela pohon dan ubi jalar. Ada juga bermacam-macam sayuran seperti bayam, kangkung, dan lombok.

Hari berganti bulan dan tahun. Mereka benar-benar meninggalkan adat istana. Baik dari segi makan atau tata cara lainnya. Namun, ada suatu hal yang dirasa janggal oleh Raden Irapati.
"Kanda, kita telah sepakat untuk hidup seperti layaknya rakyat biasa. Namun ada suatu kejanggalan pada diri kita," kata Raden Irapati kepada Raden Kencana.
"Kejanggalan apa, Dimas?"

"Kita masih sering menggunakan istilah kerajaan. Kalau Kanda berkenan, mari kita tinggalkan istilah kerajaan itu. Panggilan kanda, dimas, diajeng tidak cocok digunakan hidup di pedesaan."

"Ya betul, Dimas. Saya juga merasakan demikian. Namun, sebutan apa yang pantas digunakan sehari-hari, Dimas?"

"Kita bisa menggunakan kakang dan mbakyu untuk yang lebih tua. Sedangkan untuk yang lebih muda menggunakan sebutan adi. Selain itu, kita tanggalkan sebutan raden."


Begitulah kehidupan putra Pajang yang telah tinggal di Desa Banjarsari. Mereka benar-benar telah meninggalkan adat kerajaan. Dengan begitu, keakraban terasa lebih terasa.

Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa dengan legenda Buaya Kedung Depis seri 4, Kedatangan Tamu.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - Buaya Kedung Depis 3 # Desa Banjarsari"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel