PUISI-CELOTEH LELAKI SETENGAH BAYA DI SEBUAH STASIUN KERETA API
Thursday, 28 December 2017
Add Comment
![]() |
| PUISI-CELOTEH LELAKI SETENGAH BAYA DI SEBUAH STASIUN KERETA API |
CELOTEH LELAKI SETENGAH BAYA DI SEBUAH STASIUN KERETA API
Oleh: Parpal Poerwanto--lelaki itu membanggakan kaosnya bergambar seorang ibu
(pagi yang merah
kau tumpahkan darah merah
membakar siang
jalanan merah)
lalu
telah kutunai dendam
yang kau tanam dalam piringan sejarah
pada kaosku yang tak sempat dicuci
empat bulan sudah
lihatlah!
betapa teduh senyum ibu
pada penderitaanku
dan kegelisahan sebentuk cita-cita di awan
burung lepas kibaskan sayap
menghibur hari
mengantar matahari pulang
telah kubayar dendam
yang kausumbatkan di mulut bocah-bocah
meringkuk pada dajal-dajal sejarah
durhaka pada ajimumpung
dengarlah!
bocah-bocah itu bicara,
kerinduanku menjelma cadas
telah kutebus dendam itu dengan semangat api
dalam sekam yang taburkan di ubun-ubunmu
desingan peluru melesat dari mata kucingmu
dan bara itu
mengurung cecurut-cecurut yang kau inginkan
menjadi dendeng untuk langsungkan pesta adigung
lihatlah!
kaos ini menjadi saksi
kalian yang sembunyi
di dalamnya sebuah mata pisau berkarat
oleh ludah yang kau tampung berabad
lihatlah!
lunglai tanganku merenang lautan yang
kau bangun benteng-benteng dan burung malam itu
selalu mengintai dengan sorot matanya yang liar
tak kauingatkah
berapa banyak nyawa di belakang Diponegoro
berapa ribu yang harus dibayar atas keperkasaan
Pattimura
atau Cut Nyak Dien dan Untung Suropati?
lalu kemana
kemana akan kau bawa cecurut-cecurut
yang kehilangan Hasanudin atau Sang Proklamator
di sini,
hanya sanggup bicara dengan bahasa merah
yang lahir dari darah dan kalah
Gambir, 970122

0 Response to "PUISI-CELOTEH LELAKI SETENGAH BAYA DI SEBUAH STASIUN KERETA API"
Post a Comment