LEGENDA TAMBAK MERANG
Wednesday, 10 May 2017
5 Comments
![]() |
| Legenda Tambak Merang |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - Legenda - Pemerhati taman tembang dan sastra yang budiman, postingan kali ini kami mencoba untuk menghadirkan sebuah legenda atau kisah asal-usul terjadinya nama sebuah desa yaitu Desa Tambak Merang.
Legenda Desa Tambak Merang Kecamatan Girimarto Kabupaten Wonogiri ini dikisahkan oleh seorang Kyai Tambak Merang, dibaca oleh Parpal Poerwanto. Berikut kisah selengkapnya.
LEGENDA TAMBAK MERANG
Oleh : Parpal Poerwanto
Suatu ketika terjadilah paceklik akibat tanaman padi terserang puso. Persediaan bahan makanan makin hari makin menipis. Masyarakat mulai resah dan kebingungan mencari makan. Tidak bisa dihindari lagi tangis kelaparan terdengar di mana-mana. Seorang Kyai merasa sangat prihatin atas musibah itu. Ia rela mengumpulkan padi gabuk (merang) dari persawahan milik para petani. Melihat ada orang yang dirasa berbuat aneh, salah satu orang menegurnya.
“Bukankah yang kamu kumpulkan itu merang, Kyai?” tanya seseorang kepada Kyai itu.
“Betul,” jawab Kyai dengan tenang.
“Untuk apa merang-merang itu dikumpulkan?”
“Saya berharap bisa dijadikan benih padi, sebab saya tahu persediaan bibit masyarakat sudah habis dimakan setiap hari.”
“Ha, ha, ha…. Itu namanya pekerjaan yang sia-sia! Mana mungkin merang bisa dijadikan bibit?”
Kyai itu tidak menghiraukannya. Ia terus bekerja mengisi bakulnya dengan merang dari tanaman padi yang terkena puso. Setelah mendapatkan merang yang banyak, ia pergi menuju sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rumput ilalang. Kemudian Kyai itu mencabuti ilalang yang tumbuh di tanah lapang itu. Selesai mencabuti ilalang, ia menaburkan merangnya ke seluruh permukaan tanah. Melihat kelakuan yang aneh dari Kyai itu, orang yang menegurnya kembali datang.
“He, apa yang kamu lakukan, Kyai! Bukankah menabur merang tidak akan tumbuh padi?”
“Manusia wajib berusaha. Kalau kita pasrah pada keadaan, kita tidak akan makan dan menemui ajal,” jawab Kyai itu.
Orang yang diberi penjelasan itu bukannya membantu tetapi malah sebaliknya. Ia mengundang orang-orang sekitar untuk melihat tindakan Kyai itu.
“Lihatlah Kyai itu! Apa yang ia lakukan di tempat ini? Apakah ia bisa merubah merang menjadi padi? Ha, ha, ha…!”
Selesai menabur merang, Kyai itu duduk bersandarkan pohon waru. Ia sabar menunggu dan senantiasa berdoa atas kemurahan Tuhan Yang Maha murah. Sehari, dua hari, belum ada tanda-tanda kalau akan tumbuh padi. Akan tetapi pada hari berikutnya tumbuhlah merang-merang itu menjadi tanaman padi. Setelah cukup umur, kemudian ia bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan sebagai bibit dan ditanam di sawah mereka.
Ketika orang-orang berkumpul menerima bibit, berkatalah Kyai itu.
“Hai kalian dengar. Kelak tempat ini akan ramai dihuni orang. Untuk mengingat kejadian ini maka tempat ini saya namakan Tambak Merang. Tambak Merang berasal dari kata tambak yang artinya tanah lapang dan merang merupakan kulit padi atau padi gabuk tak berisi."
Kyai itulah yang mengawali tinggal di Tambak Merang. Tidak lama kemudian Tambak Merang menjadi perkampungan yang ramai sekali. Kelak, salah satu keturunan Kyai itu ada yang memiliki kesaktian. Orang-orang sekitar menyebutnya Kyai Tambak Merang. Karena kesaktiannya banyak orang yang datang berguru padanya. Konon diceritakan, dalam menularkan ilmunya, Kyai Tambak Merang cukup meniup telinga atau ubun-ubun orang yang diajarinya. Setelah menerima ilmu orang tersebut menjadi patuh terhadap perintah Kyai Tambak Merang. Murid-murid itu akan mengajak seluruh anggota keluarga beserta harta benda yang dimilikinya. Lama-kelamaan anggota dan anak buahnya banyak sekali. Semua yang sudah berguru tidak akan pulang ke rumahnya. Mereka membuat tempat tinggal di pekarangan belakang milik Kyai Tambak Merang. Semua kebutuhan sehari-hari sudah dipenuhi.
Suatu hari Kyai Tambak Merang mengutus anak buahnya untuk membuat sebuah lapangan. Setelah jadi, lapangan itu digunakan sebagai tempat gladi keprajuritan. Tujuannya adalah untuk menghalau penjanjah Belanda jika sewaktu-waktu datang ke Tambak Merang. Akan tetapi banyak orang yang resah. Mereka mengira Kyai Tambak Merang akan memberontak. Dikiranya Kyai Tambak Merang akan mendirikan kerajaan sendiri. Atas dasar itu ada warga yang melapor ke Bupati Wonogiri. Guna meyakinkan laporan warga, Bupati Wonogiri beserta prajuritnya mendatangi Tambak Merang. Kedatangan Bupati beserta rombongan itu dikira akan menangkap Kyai Tambak Merang beserta anak buahnya.
“Utusan kompeni Belanda telah datang. Untuk itu, siapkan teman-temanmu, temui mereka!” kata Kyai Tambak Merang kepada anak buahnya.
Salah satu anak buah yang dianggap pemimpin segera mempersiapkan pasukan lengkap dengan persenjataan. Mereka membawa berbagai senjata tradisional seperti kelewang, pedang, keris, bambu runcing dan bandil. Setelah diberi komando, anak buah Kyai Tambak Merang menyerang rombongan Bupati. Melihat pasukan yang banyak dan siap dengan persenjataan, Bupati berserta rombongan lari tunggang-langgang. Mereka tidak mengira bahwa akan mendapat serangan. Bupati Wonogiri kehilangan semua prajuritnya. Ia tersesat di Jatiroto sekitar 15 kilo meter dari Tambak Merang.
Dalam hati Bupati Wonogiri malu jika harus kalah sebelum bertanding. Oleh karena itu ia datang kembali ke Tambak Merang. Kali ini kedatangannya tanpa prajurit yang menyertai. Sesampainya di Tambak Merang disambut oleh pasukan perang yang sudah siap tempur. Ada sebagian yang sudah melontarkan bandil yaitu senjata yang terbuat dari batu kali yang diikat dengan tambang. Akan tetapi Bupati Wonogiri tidak gentar menghadapinya. Malahan, Bupati Wonogiri berkata dengan suara lantang.
“Jika kalian tidak kembali ke rumah masing-masing, ini Bupati Wonogiri musuhmu!”
Sambil berkata demikian, Bupati Wonogiri menghunus sebuah keris dan diacungkan sampai di atas kepala. Dari keris itu keluarlah cahaya yang sangat menyilaukan. Tiba-tiba pasukan yang sudah beringas itu menghentikan tindakannya. Hal itu disebabkan karena tidak kuat melihat pamor yang dikeluarkan oleh keris itu. Karenanya, pasukan Tambak Merang lari kocar-kacir.
“Hai Kyai Tambak Merang. Perbuatanmu sudah bisa dikatakan melawan negara. Untuk itu menyerahlah supaya semuanya bisa segera diselesaikan!” kata Bupati dengan wibawa.
Akhirnya Kyai Tambak Merang menyerahkan diri kepada Bupati Wonogiri. Sejak saat itu semua siswa di perguruan Tambak Merang bubar dan kembali ke rumah masing-masing.
Kesimpulan
Cerita ini termasuk legenda.
Legenda ini menceritakan terjadinya nama sebuah tempat yaitu Tambak Merang, sekarang masuk wilayah Kecamatan Girimarto, Wonogiri. Berawal dari masa paceklik, kemudian muncullah sebuah usaha dari seseorang untuk mengatasi masalah itu. Selain itu juga mengisahkan salah satu keturunan Kyai yang mempunyai tujuan baik. Akan tetapi karena kurangnya pengetahuan tentang pentingnya komunikasi, tujuan itu tidak tercapai. Cerita di atas mengajarkan kepada kita bahwa hidup itu membutuhkan perjuangan dan ilmu pengetahuan. Perjuangan dan ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan.
Cerita ini juga bisa anda lihat videonya di Youtube Legenda Tambak Merang.

Terima kasih pak, sekarang aku tahu asal-usul Tambak Merang dimana tempat aku bekerja saat ini.
ReplyDeleteHmmmm......anak turun Kyai Tambak Merang sekarang masih ada gak ya?
Mungkin saya ini pak soale nenek moyangku semua dari tamnak merang heeee
ReplyDeleteBerarti tambah nama saja pak sukatno wijaya, mejadi sukatno wijaya tambak merang. terima kasih kunjungannya
ReplyDeleteModus Kyai Tambak Merang membangun padepokan kemarin ditiru oleh Dimas Kanjeng.
ReplyDeleteDimas Kanjeng njaluk dhuwite
ReplyDelete