Langkah Kuda dan Misteri Saku Celana
Di kampung kami, saya dikenal sebagai Mas Guru
Bonang—seorang pendidik yang punya hobi yang teramat mulia: berpikir keras di
atas papan catur sambil memegang gelas kopi hitam tanpa gula. Namun, jauh
sebelum sebutan "Mas Guru" ini melekat, ada satu babak sejarah kelam
penuh keringat, intrik taktik, dan sedikit aroma mistis dalam hidup saya.
Kejadiannya sewaktu saya masih kelas 5 SD. Karena
satu-satunya murid di sekolah yang sanggup mengingat gerakan kuda tanpa bikin
bidak-bidak lain berjatuhan, saya ditunjuk mewakili SD tercinta untuk lomba
catur tingkat kecamatan.
Jarak lokasi perlombaan dari rumah? Sembilan kilometer.
Bagi anak SD zaman sekarang, jarak 9 km itu artinya minta
diantar naik motor matic sambil pegang es krim. Tapi zaman saya dulu?
Jawabannya cuma satu: Jalan kaki.
Sebelum berangkat menembus debu jalanan, Ayah melepas saya
di depan pintu bagaikan jenderal melepas prajurit ke medan perang. Beliau
menepuk bahu saya dengan tatapan dalam, lalu menyelipkan gulungan kertas kusam
ke dalam saku celana pendek saya.
"Nang, iki gawanen. Sangu buat tanding. Kantongi terus,
jangan dibuka sebelum selesai!" bisik Ayah penuh misteri.
Saya mengangguk mantap. Saku celana terasa mengganjal. Hati
saya langsung tenang. Wah, mantap betul, pikir saya waktu itu, pasti ini uang
sangu buat beli es lilin atau getuk habis tanding nanti!
Sesampainya di tempat pertandingan dengan napas senen-kamis
dan telapak kaki hampir rata dengan aspal, pertandingan pun dimulai. Satu per
satu musuh dapat kuatasi. Dan kini tinggalah calon juara. Saya memilih papan
catur yang lebar dengan buah catur yang besar-besar.
Musuh saya di babak menentukan adalah seorang anak dari SD
seberang yang badannya tegap dan raut mukanya mirip jawara silat.
Baru berjalan belasan langkah, bencana melanda. Mungkin
karena saraf otak saya agak bergetar akibat jalan kaki 9 kilometer, menteri
saya dimakan tanpa ampun. Tidak berhenti di situ, perwira-perwira saya dibantai
habis!
Di atas papan kayu yang lebar itu, situasi saya sangat
tragis: Musuh punya Menteri penuh daya, sedangkan saya cuma punya satu Kuda
penyakitan.
Secara matematis, saya sudah harus menyerah. Secara moral,
saya sudah siap-siap menangis. Tapi kemudian saya teringat aturan sakral
perlombaan hari itu yang dibacakan wasit sewaktu pembukaan:
"PERATURAN UTAMA: PEGANG HARUS JALAN! Siapa memegang
bidak, bidak itu wajib dijalankan!"
Aturan itu terpatri abadi di dalam kepala saya.
Musuh saya mulai jumawa. Dialah sang penguasa papan catur.
Posisinya begitu dominan sampai-sampai dia memindahkan menterinya sambil
bersiul-siul kecil.
Saya memeras otak. Kuda saya melompat ke sana-sini bagaikan
belalang panik. Dan tiba-tiba... BINGO!
Melalui celah petak yang tak disangka-sangka, Kuda saya
melompat mulus melangkahi pawang-pawang musuh, mendarat tepat di posisi yang
amat sangat mematikan: SKAK-STAR!
Secara bersamaan, Kuda saya mengancam Raja musuh sekaligus
Menterinya yang agung jumawa itu!
Musuh saya kaget setengah mati. Matanya melotot. Secara refleks—murni
respons biologis seorang bocah yang panik menterinya mau dicaplok—tangannya
langsung meraih dan memegang menteri gacoannya untuk diselamatkan!
Padahal... Rajanya sedang terkena SKAK!
Dalam hukum catur universal, kalau Raja sedang diskak,
pemain wajib menyelamatkan Raja terlebih dahulu. Bidak lain sama sekali tidak
boleh digerakkan.
Melihat tangan musuh sudah mantap memegang menteri, jiwa
pengacara dalam diri saya mendadak bangkit. Saya berdiri dari kursi, menunjuk
musuh saya, lalu berteriak nyaring melampaui suara toa masjid!
"WASIT! DIA PEGANG MENTERI! PEGANG HARUS JALAN!"
Wasit datang berlari-lari kecil. Setelah mengamati papan
catur, melihat Kuda saya yang gagah perkasa, dan memergoki tangan musuh yang
masih memegang menteri, sang Wasit mengelus dagu.
"Menurut aturan pasal panitia, kamu sudah memegang
menteri, maka menteri harus jalan. Tapi karena Rajamu lagi diskak, kamu TIDAK
BISA menjalankan menteri. Berarti kamu melanggar aturan secara tidak sah!"
tegas Wasit.
Musuh saya megap-megap seperti ikan lele kekurangan air.
"Tapi Pak... saya cuma refleks!"
"Tidak ada refleks dalam catur tingkat kecamatan!"
kata Wasit mantap. "Diskualifikasi! Kemenangan jatuh kepada... SD Mas Guru
Bonang!" Guru saya langsung menghambur dan memeluk saya.
Kemenangan dramatis se-kecamatan berhasil diraih hanya
bermodalkan Kuda tunggal dan kejelian memanfaatkan pasal
"pegang-jalan".
Saya mendadak teringat "sangu" dari Ayah di saku
celana. Dengan senyum lebar, saya merogoh saku, berniat mampir ke warung buat
membeli jajan.
Namun, saat lipatan kertas kusam itu dibuka... tidak ada
sepeser pun uang di dalamnya.
Bukan lembaran rupiah, melainkan secarik kertas tulisan
tangan Ayah dengan aksara Jawa dan latin yang rapi. Isinya bukan deretan angka,
melainkan tulisan berupa mantra penenang hati dan ajian penunduk musuh yang (mungkin)
kerap dibaca para sepuh zaman dulu!
Saya berdiri tertegun di pinggir jalan desa yang sepi.
Untung Pak Guru segera datang dan mengajakku jajan di warung. (PAL)
.jpg)
0 Response to "Langkah Kuda dan Misteri Saku Celana"
Post a Comment