Peduli Sastra Jawa (Sekadar Catatan Kecil)
Peduli Sastra Jawa
(Sekadar Catatan
Kecil)
Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Pada tahun 2023, banyak momen yang layak
diperhatikan terkait bahasa dan sastra
Jawa atau kegiatan literasi di lingkung Kabupaten Wonogiri. Tentu tulisan ini
terlalu sempit untuk dijadikan tolok ukur bahwa kegiatan budaya lisan dan tulis
dengan bahasa Jawa telah mengalami perkembangan.
Dapat dikatakan bahwa
tulisan ini sekadar menjadi catatan penulis yang terlibat langsung dengan
beberapa kegiatan tersebut, catatan ini dimaksudkan untuk turut mengajak peduli
berbagai pihak agar lebih mengembangkan literasi khususnya sastra Jawa.
Momen pertama adalah
Pelatihan Menulis Cerita Rakyat yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Wonogiri bagi guru Bahasa Jawa SMP. Kegiatan itu
dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas guru sekaligus ndhudhah cerita rakyat yang bertebaran di setiap kecamatan yang
rencananya akan dijadikan buku. Namun hingga akhir tahun tampaknya masih tertatih-tatih
untuk mewujudkan buku tersebut.
Momen kedua adalah
keberhasilan penulis-penulis Wonogiri yang tergabung di Komunitas Satra Giri
Kawedhar (KSGK) pada bulan Agustus dalam menyabet kesempatan dari Balai Bahasa
Jawa Tengah. Tiga penulis Wonogiri menyumbang 13 judul cerita anak bergambar
dua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Jawa), mereka adalah: Arih Numboro (7
judul), Parpal Poerwanto (5 judul) dan Didit Setyo Nugroho (1 judul). Jumlah 13
judul diantara 125 judul yang akan diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah
tentu sebuah prestasi yang membanggakan sekaligus memberi kesempatan bagi anak
untuk mendapatkan cerita berbahasa Jawa dengan kualitas lebih baik karena semua
tulisan yang lolos seleksi dilakukan kurasi serta pembenahan melalui sarasehan
penulisan selama dua hari di Kota Surakarta.
Momen ketiga adalah
Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang digelar oleh Balai Bahasa Jawa Tengah.
Seleksi peserta untuk kelompok SD dan SMP (putra/putri) dilakukan secara
berjenjang di tingkat kecamatan hingga tingkat Kabupaten Wonogiri guna mencari
yang terbaik sebagai wakil ke tingkat Provinsi Jawa Tengah. Jenis lomba yang
dipertandingkan adalah: Mendongeng Berbahasa Jawa, Baca Tulis Aksara Jawa,
Sesorah Bahasa Jawa dan Menulis Cerkak Bahasa Jawa.
FTBI tentu diharapkan
menjadi wahana bagi anak-anak Jawa Tengah untuk lebih mengenal dan memahami
bahasa Jawa sekaligus sebagai tolok ukur sampai dimana apresiasi mereka
terhadap bahasa ibu. Sepintas memperhatikan tampilan mereka di tingkat
kabupaten, tampaknya masih harus dilakukan pembenahan intensif agar mereka
mampu tampil maksimal di tingkat provinsi. Pertama,
mendongeng adalah seni pertunjukan lisan yang memiliki kekhasannya tersendiri.
Si penampil harus dapat memberi tontonan menarik dan menghibur agar materi yang
disampaikan dapat dipahami pemirsa. Sisi perform itulah yang tampaknya belum
dijiwai oleh si penampil maupun oleh pembina sehingga penampilan mereka belum
khas dan maksimal. Kedua, penulisan
cerkak masih jauh dari kata layak karena semua peserta lomba belum mampu
menghasilkan karya sastra yang menarik. Masih terjadi kesalahan-kesalahan
elementar seperti tanda baca, struktur penulisan, alur cerita hingga
paramasastra Jawa yang salah kaprah. Ketiga, untuk Sesorah Bahasa Jawa dan Baca
Tulis Aksara Jawa sedikit lebih baik keadaannya.
Momen keempat adalah
Sarasehan Budaya dengan tajuk “Revitalisasi Dongeng dalam Pembentukan Karakter”
yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Sekretaris Daerah Kabupaten
Wonogiri bekerja sama dengan Komunitas Sastra Giri Kawedhar (KSGK) bagi guru
PAUD/TK dan guru SD. Kegiatan yang lebih ditekankan pada teknik penulisan
dongeng berbahasa Jawa tersebut diikuti lebih dari 110 peserta. Kegiatan ini
diharapkan dapat menyemarakkan kembali posisi dongeng sebagai alat pembelajaran
dalam membentuk karakter peserta didik sekaligus sebagai upaya untuk filter
budaya manca bagi generasi Indonesia.
Momen lain yang juga
layak mendapat apresiasi adalah digelarnya Lomba Dongeng Anak di Pasar Doplang
Pandan Slogohimo, Gerakan Peduli Dongeng (28 November) oleh Komunitas Sastra
Giri Kawedhar (KSGK) dan pemutaran film berbahasa Jawa dengan judul Ki Ageng
Donoloyo oleh CTD Production.
Semua momen-momen
tersebut muaranya adalah untuk memule
dan ngleluri bahasa/sastra Jawa agar
tidak punah ditelan pergerakan zaman dan beradaban. Walau sejatinya, kepedulian
semua pihak untuk pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa di Kabupaten
Wonogiri perlu terus digelorakan agar ke depan muncul tunas-tunas bertalenta
yang akan menjadi generasi penerus bahasa Jawa.
Kontributor : Kun Prastowo (penulis dan pemerhati budaya Jawa)
Editor: Parpal
Poerwanto

0 Response to "Peduli Sastra Jawa (Sekadar Catatan Kecil)"
Post a Comment