-->

REVITALISASI DEWAN KESENIAN MENUJU WONOGIRI SEBAGAI KOTA WISATA

 

REVITALISASI DEWAN KESENIAN MENUJU WONOGIRI SEBAGAI KOTA WISATA

Taman Tembang dan SastraWonogiri – Menitik keberhasilan Bupati Wonogiri Joko “Jekek” Sutopo dalam melaksanakan panca programnya memang dapat diacungi jempol. Program prioritas yang meliputi jalan, pasar, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan petani tersebut sudah terlaksana dengan baik bahkan merambah ke bidang lain seperti penyediaan air bersih dan destinasi wisata.

Namun demikian, bisakah keberhasilan itu dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) seperti yang diharapkan? Menurut Solopos.com PAD Kabupaten Wonogiri 2019 sebesar Rp223,7 miliar dan diprediksi akan naik menjadi Rp247,3 pada 2020 ini.  Namun, apakah angka itu cukup tinggi bagi sebuah kabupaten? Misal kita bandingkan dengan penghasilan daerah sebuah desa di Bali. Desa Kutuh, Kuta, Bali berpendapatan Rp50 miliar setahun. Desa Kutuh bisa mencapai penghasilan sedemikian besar karena menjadi Desa Tujuan Wisata, dan tentunya banyak pendatang dari luar (kaum boro) yang mencari dan menggantungkan hidup di wilayah tersebut.

Desa Kutuh pada awalnya merupakan desa minus. Tekstur dan kondisi geografis tidak jauh beda dengan desa-desa bagian selatan Kabupaten Wonogiri. Alam perbukitan kapur menambah kegersangan wilayah itu. Namun, dibalik alam itu memiliki sebuah pantai yang indah. Karenanya, secara sadar masyarakat setempat kemudian “gugur gunung” memapras perbukitan yang menghalangi pantai tersebut. Semua dilakukan secara gotong royong dan swadaya oleh warga Desa Kutuh dengan menggunakan alat berat bantuan dari Pemerintah. Pantai itu diberi nama Pantai Pandawa yang beroperasi tahun 2013. Pada 2018 menghasilkan pendapatan desa sebesar Rp50 miliar. Penghasilan yang sangat fantastis bagi sebuah desa.

Contoh kesadaran lain yang dilakukan masyarakat Bali adalah adanya Patung Garuda Wisnu Kencana yang sangat terkenal itu. Lokasi Patung Garuda Wisnu Kencana merupakan perbukitan kapur yang minus air dan jelas kurang subur untuk bercocok tanam, tepatnya di Bukit Unggasan, Jimbaran, Bali.

Dari dua ilustrasi di atas yang harus digarisbawahi adalah adanya kesadaran masyarakat. Masyarakat di kedua wilayah tersebut awalnya banyak yang menjadi kaum boro. Hal yang ini tidak jauh berbeda dengan warga Wonogiri pada umumnya. Namun, sampai kapankah kesadaran akan muncul sehingga dapat mengubah kaum boro menjadi pilot kesadaran dalam mengembangkan potensi wilayahnya atau menjadi lokomotor kemajuan di wilayah sendiri? Hal inilah yang harus diperhatikan dan diperhitungkan oleh semua warga, para pengusaha, dan pemerintah Kabupaten Wonogiri.

Wonogiri Kaya Potensi Pariwisata

Wonogiri kaya tempat wisata, seperti Bukit Cumbri, Gunung Gandul, Grojogan Setren, Grojogan Jurug Kemukus, Grogojan Samberlowo, Kahyangan, dan lain-lain.  Juga wisata buatan seperti Museum Karts, Museum Wayang, Kampung Bali, dan lain-lain. Setelah Kampung Bali semoga nanti ada Pelangi Dunia yakni kawasan wisata berupa miniatur dunia yang pernah digagas di era pemerintahan Bupati Wonogiri, Begug Poernomosidi.

Wonogiri juga memiliki destinasi wisata sebagai pendulang PAD utama di sektor pariwisata, yaitu Objek Wisata Waduk Gajahmungkur. Objek wisata ini merupakan destinasi wisata utama di Kabupaten Wonogiri. Sayang, objek wisata ini dipengaruhi oleh kondisi air yang berbeda antara musim penghujan dan kemarau. Untuk itu ada baiknya untuk dibuat sebuah cekungan di suatu wilayah agar kondisi airnya tetap stabil, baik di musim kemarau maupun di musim penghujan agar wisata air dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, Wonogiri memiliki banyak pantai yang memesona. Sebut saja Pantai Nampu, Pantai Banyutowo, Pantai Sembukan, Pantai Dadapan, dan Pantai Payungan. Seandainya ada kesadaran warga dan pemerintah untuk meniru langkah warga Desa Kutuh dan Bukit Unggasan, Bali, maka tidak mustahil sektor pariwisata di Wonogiri akan menggeliat sehingga Wonogiri menjadi tujuan kaum boro dan tentunya dapat meningkatkan PAD.

Jika di Bali ada Patung Garuda Wisnu Kencana, kita punya ikon yang dapat menarik dunia pariwisata, yaitu Kethek Ogleng. Misalnya dibuatlah Patung Kethek Ogleng yang (jika bisa) ketinggiannya melebihi Patung Garuda Wisnu Kencana. Jika di area Patung Garuda Wisnu Kencana disajikan pentas Tari Kecak, maka di area Patung Kethek Ogleng disuguhkan Tari Kethek Ogleng serta pragmen Raden Inu Kertapati.

Di bidang seni-budaya, Wonogiri juga sangat kaya. Selain Kethek Ogleng kita punya Srandil (Srandul), seni pedalangan asli Wonogiri (Pracimantoro, semoga penerusnya masih ada: hal ini perlu kajian dan penelusuran khusus), seni oklik, musik bas (musik bambu Pracimantoro), musik lesung (ini pernah muncul beberapa tahun silam, sebagai ajang festival di Kecamatan Ngadirojo), campursari, klenengan/musik gamelan, reog, ketoprak, wayang orang, dan lain-lain.

Revitalisasi Dewan Kesenian

Keberhasilan suatu daerah menjual dunia pariwisata tidak terlepas adanya paket wisata yang memadukannya dengan seni-budaya. Selama ini, seni-budaya di Wonogiri belum tergarap dengan sepenuhnya. Hal ini perlu perhatian dan melibatkan peran serta masyarakat dengan mendirikan kantong-kantong budaya di setiap kecamatan. Revitalisasi Dewan Kesenian juga merupakan keniscayaan. Sebab, jika hanya menggantungkan kepada Pemerintah Daerah dalam hal ini dinas terkait, sangatlah tidak mungkin.

Keberadaan Dewan Kesenian dan kantong-kantong budaya akan bersinergi dalam semangat dan tumbuh kembang seni-budaya di Wonogiri. Dewan Kesenian harus memiliki tempat khusus untuk menampung aspirasi dan area kegiatan bagi semua seniman di Wonogiri. Sebagai gambaran, di utara shalter bus Wonogiri sepertinya ada lahan kosong yang belum dimanfaatkan. Lokasi itu bisa didirikan pendapa terbuka dan sebuah kantor kecil untuk sekretariat Dewan Kesenian. Pendapa itu bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk berbagai acara seni-budaya. Semua diagendakan dengan baik. Seniman dari tiap-tiap Kantong Budaya mengisi acara secara bergilir. Juga melibatkan para siswa di seluruh sekolah di Wonogiri.

Para seniman dari Kantong Budaya juga mengisi acara di tempat-tempat wisata sebagai paket wisata yang menyatu. Hal ini tentunya disesuaikan dengan kondisi wisata terkait. Misalnya di Museum Karts bisa disajikan Musik Bas (Musik Bambu) dan srandul. Di Area Patung Kethek Ogleng (jika ini terealisasi) bisa disajikan tarian Kethek Ogleng atau pragmen Raden Inu Kertapati. Begitu juga di tempat-tempat wisata lainnya. Artinya, tiap tempat wisata jangan sampai ada sajian kesenian yang sama. Hal ini harus diatur, ditata, dan dijadwal secara apik dan berencana. Inilah peran dari Dewan Kesenian dan Kantong Budaya.

Penutup

Agar Wonogiri menjadi kota tujuan wisata dan tujuan para kaum boro sehingga dapat meningkatkan PAD, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, dimulai dari kesadaran bersama untuk membangun Wonogiri menjadi kabupaten tujuan wisata. Kedua, revitalisasi dewan kesenian dan kantong-kantong budaya untuk mendukung paket wisata. Semoga. (Parpal Poerwanto)

Catatan: tulisan ini diambil dari buku Dari Kami untuk Pak Bupati (Ungkapan Hati Warga Wonogiri untuk Sang Pemimpin)


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "REVITALISASI DEWAN KESENIAN MENUJU WONOGIRI SEBAGAI KOTA WISATA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel