TAK ADA SEJENGKAL TANAH UNTUK SAJADAH DALAM SUDUT PANDANG EDHIE PRAYITNO IGE
Wednesday, 23 December 2020
Add Comment
TAK ADA SEJENGKAL TANAH UNTUK SAJADAH DALAM SUDUT PANDANG EDHIE PRAYITNO IGE
Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Ketika perbincangan halal dan haram menyeruak, kumpulan cerpen ini hadir begitu saja. Saat sesama umat saling klaim bahwa golongannya paling syar”i, Tak Ada Sejengkal Tanah untuk Sajadah muncul menawarkan sesuatu. Daya gugat cerpen-cerpen Mas Budi Wahyono ini sangat kuat, dalam dan luas. Bukan hanya menggugat dampak serius akibat saling merasa benar, namun juga sistem keberagaman yang melahirkan “penguasa kebenaran” itu sendiri.
Dalam cerpen Tak Ada Sejengkal Tanah untuk Sajadah, ditunjukkan betapa sangat ilusifnya mengharap relasi transenden manusia-Tuhannya tanpa justifikasi bahwa untuk bersujud sekalipun ternyata butuh syarat-syarat hasil tafsir manusia lain.
Pun dengan Sali Menuntun Sapi. Cerpen ini menegaskan bahwa keberagaman tak lebih dari gaya hidup semata. Bagaimana mungkin bisa menuding pihak lain tidak taat hanya dengan membandingkan perilaku kelompoknya. Seperti biasanya, Mas Budi Wahyono menuliskannya dengan cermat dan detail. Mengambil latar realis, memudahkan pembaca memahami isi pesan cerpen-cerpennya.
Jika saya memiliki wewenang, saya akan mewajibkan kaum “pemilik tafsir kebenaran” untuk membaca buku ini. (edhie prayitno ige – editor di kanal berita liputan6.com).
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, buku ini dapat dipinang melalui no WA 08156571449 dengan pengganti biaya cetak sebesar Rp60K (belum termasuk ongkir).

0 Response to "TAK ADA SEJENGKAL TANAH UNTUK SAJADAH DALAM SUDUT PANDANG EDHIE PRAYITNO IGE"
Post a Comment