-->

KETOPRAK MENEMBUS BATAS WAKTU

KETOPRAK MENEMBUS BATAS WAKTU
KETOPRAK MENEMBUS BATAS WAKTU
KETOPRAK MENEMBUS BATAS WAKTU

Taman Tembang dan Sastra – Budaya – (Solo) Sarasehan Budaya digelar Paksura (Paguyuban Kethoprak Surakarta) dengan tema Ketoprak di Era Milenial berlangsung di Wisma Seni mendapat respon positif dari para pelaku kethoprak di Kota Surakarta (29/11).

Sebagai narasumber adalah ST Wiyono, budayawan Kota Surakarta dan Ari Purnomo, penggerak ketoprak dari Yogyakarta mencoba mengurai berbagai permasalahan ketoprak di era milenial yang mendapat tanggapan beragam dari seniman dan pelaku ketoprak di Kota Surakarta. Di antaranya  Gigok Anurogo, Suharno Unisri, Wahyu Eko, Tatak Prihantoro, Bambang Kemasan, Iin RRI, Kun Prastowo, dan Totok Balekambang.

Narasumber dan pegiat ketoprak saling berpendapat bagaimana ketoprak tetap eksis dan mampu menembus batas waktu menyikapi tuntutan zaman.

Sarasehan dibuka oleh BRM Bambang Irawan atau biasa disapa Gusti Lintang selaku Ketua Dewan Kesenian Surakarta.
"Modal kesenian di Kota Surakarta mulai terbangun dan komunitas bersangkutan yang mampu mengembangkan. Tuntutan zaman mengharuskan kesenian menjadi kegiatan ekonomi kreatif memang sebuah proses tanpa ujung. Saat ini masih sebatas branding," urai Gusti Lintang.

Sementara, Ahmad Dipoyono sebagai Ketua Paksura menjelaskan bahwa sarasehan ini diharapkan dapat memberi jawaban atas keresahan para pegiat ketoprak akan eksistensi ketoprak di Kota Surakarta untuk masa mendatang.

"Di era milenial ini, seni ketoprak harus berani memutus trade mark konvensional yang kadhung (terlanjur) melekat pada ketoprak. Harus hadir sebuah konsep pembaharuan untuk menyikapi zaman. Jangan lelah atau terhenti pada dataran konseptual, harus diwujudkan secara nyata di atas panggung dan biarlah waktu yang akan menilai," urai Ari Purnomo, yang merupakan putra maestro ketoprak Yusuf Agil.

Sementara itu ST Wiyono merasa prihatin atas 'derajat' ketoprak yang saat ini ratingnya kalah jauh dengan seni tampilan lainnya.

"Tidak cukup bernostalgia saja. Bila dahulu ketoprak merupakan primadona pentas, suatu waktu harus kembali menjadi seni tradisi komunal yang diminati masyarakatnya. Guna mencapai tahapan itu yang sudah selayaknya saling bahu membahu dan menyatukan kekuatan dari para pelaku ketoprak," urai ST Wiyono.

Eksistensi ketoprak di Kota Surakarta pada waktu akhir-akhir ini kembali marak dengan hadirnya pentas di berbagai kelurahan di Kota Surakarta sebagai rangkaian kegiatan tahunan seni budaya kelurahan di Kota Surakarta.

"Sejarah mencatat bahwa ketoprak adalah kesenian asli Kota Surakarta sejak jaman RM Wreksadiningrat (1914), maka sudah selayaknya apabila ketoprak kembali ke rumah. Kembali ke Kota Surakarta dengan berbagai penyikapan kebutuhan zamannya. Menegaskan Surakarta sebagai Kota Budaya," ujar Kun Prastowo, pegiat ketoprak Jebres. (KP)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "KETOPRAK MENEMBUS BATAS WAKTU"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel