-->

Budaya - PANCASILA MASIH HIDUP

Budaya - PANCASILA MASIH HIDUP
Budaya - PANCASILA MASIH HIDUP

PANCASILA MASIH HIDUP


TAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Sore itu, Ki Janthit Sanakala bercengkerama dengan para seniman dan budayawan senior di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, di Surakarta. Inti sarasehan itu adalah membicarakan bagaimana caranya agar karya para seniman itu bisa bermanfaat nyata dalam kehidupan di masyarakat.

Ketika hendak pulang, langit sore tampak mendung pertanda akan segera turun hujan. Segeralah motor bututnya dipancal kemudian mencari jalan pintas agar sampai di rumah tidak kehujanan. Namun apa di kata, sesampainya di selatan Gading hujan lebat sekali. Ki Janthit pun nekat. Seluruh pakaian basah kuyub.

Sesampainya di depan kantor Kabupaten Sukoharjo motor ngadat. Ki Janthit turun. Ia mencoba memperbaiki motornya. Namun, tak ada hasil. Tidak ada jalan lain kecuali menuntun motor itu di tengah hujan sampai ketemu bengkel.

Sampai di selatan pertigaan, datanglah motor dari belakang kemudian berhenti sambil menanyakan kenapa motor Ki Janthit. Setelah dijawab bahwa motor itu mblebeg, si pengendara motor yang berboncengan itu tancap gas sambil berkata akan mencarikan bengkel terdekat. Ki Janthit hanya mengiayakan saja. Ia tidak memikirkan orang itu lagi, sebab selain belum kenal, mana mungkin ada orang mau menolong di jaman yang serba materialistis ini.

Ki Janthit melanjutkan perjalanan. Namun, beberapa menit kemudian si pengendara motor kembali datang. Ia mengatakan bahwa tidak ada bengkel terdekat. Kemudian, ia menawarkan akan mendorong pakai kaki motor Ki Janthit hingga menemukan bengkel.
Tidak ada pilihan lain bagi Ki Janthit terhadap tawaran itu. Sebab rumahnya masih cukup jauh, yakni sekitar tujuh kilometer.

Sesampainya di dekat pabrik tekstil, Ki Janthit minta berhenti. Ada bengkel di tempat itu. Motor masuk bengkel. Si penolong juga ikut masuk bengkel. Ia masih sangat muda. Celananya cingkrang, gojag-gajeg. Orang yang dibonceng tadi adalah perempuan cantik. Mungkin istrinya.
Ki Janthit pikirannya tertuju pada isi dompet. Ia tahu bahwa tak sepeserpun ada uang. Tidak apa, nanti ninggal KTP dulu. Toh, aku orang dekat sini. Begitu batinnya.

Tidak lama kemudian, motorpun bisa distater. Ki Janthit menanyakan ongkos servis. Oleh tukang bengkel dijawab 45 ribu, tetapi sudah dibawar oleh Mas Penolong.
Ki Janthit sontak hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih kepada Si Penolong. Kemudian, si Penolongpun melanjutnya perjalanannya. Saking ternganganya, Ki Janthit lupa minta tahu siapa jati diri si Anak Muda tadi.

Ki Janthit kembali duduk. Ia merenung. Ternyata di jaman yang serba mengagugkan kebendaan ini, jiwa Pancasila masih hidup di bumi pertiwi. Ia benar-benar malu hati karena diajari praktik mengamalkan Pancasila oleh anak muda yang tidak dikenalnya.

Ki Janthit mendapatkan kaca benggala. Selama ini dirinya sering bicara tentang nasionalisme, komitmen, budaya, spritual, tetapi praktiknya masih kalah dengan anak muda tadi. Semoga jiwa Pancasila anak muda tadi tetap hidup dan terjaga di bumi pertiwi ini. (Parpal Poerwanto)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - PANCASILA MASIH HIDUP"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel