-->

Cernak - PETUAH PANCING

Cernak - PETUAH PANCING
Cernak - PETUAH PANCING
TAMAN TEMBANG DAN SASTRACERPENSahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman CERPEN. Edisi kali ini disajikan cerita anak berjudul  PETUAH PANCING karya Parpal Poerwanto dari Cermin Cahaya Antologi Cerita Anak. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

PETUAH PANCING


Raras menutupi wajahnya. Seakan lampu merah menyala terasa lama sekali. Ingin rasanya lampu itu segera berubah hijau dan lekas berlalu dari tempat itu.


Raras khawatir jika pengemis cilik di perempatan itu mengenali wajahnya. Betapa malunya jika pengemis itu tahu bahwa ayahnya tidak memberikan uang receh kepadanya.
“Ayah pilih kasih…!” kata Raras ketus setelah lampu hijau menyala.
“Bukan begitu, Raras,” jawab Ayah.
“Buktinya, yang diberi uang hanya Pak Tua!”
“Ya, sebab tenaganya sudah lemah…,” jawab Ayah.
“Tapi, dia  teman Raras, Yah.”
“O...?” Ayah mengernyit. Kemudian melirik anak semata wayangnya itu sambil tersenyum. Ayah memahami bahwa Raras memiliki kepedulian sosial. Raras tidak tega terhadap temannya yang terpaksa menjadi pengemis cilik di perempatan lampu merah.

Ayah sebenarnya mengenali pengemis cilik itu. Ia adalah Darwan anak Bi Inah tukang sayur keliling langganan keluarganya. Sebab, sudah beberapa kali Ayah melihat Darwan membantu ibunya membawakan dagangan sayuran keliling kampung ketika hari Minggu. Namun, Bi Inah sudah seminggu tidak keliling. Kabarnya ia sakit. Ayah dan Ibu sebenarnya sudah berencana akan berkunjung ke rumah Bi Inah, tetapi Ayah masih sibuk.


“Namanya Darwan, Yah. Dia anak cerdas, sayang sudah seminggu tidak masuk sekolah. Kata Pak Guru Darwan telah keluar.”
“Keluar? Kenapa, Raras?”
“Raras kurang tahu, Yah.”

Percakapan berhenti karena mereka sudah memasuki pekarangan. Tampak Ibu membuka pintu dan mendekat. Ayah dan Raras keluar dari mobil dengan menjinjing barang belanjaan dari pasar. Ibu mengambil alih tas kresek dari tangan ayah kemudian membawanya masuk ke rumah.

Sore harinya, Ayah, Ibu, dan Raras pergi ke rumah Darwan. Rumah itu sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari bambu dan sudah lapuk. Beberapa bagian telah berlubang. Sekilas, rumah tersebut seperti tidak berpenghuni. Pintunya tertutup rapat dan di sana-sini ada sampah berserakan.

“Permisi…, assalamu’alaikum...!” Ayah mengucap salam. Tidak lama kemudian, dari dalam rumah terdengar langkah-langkah. Bi Inah membukakan pintu. Wanita itu tampak belum sehat. Badannya kurus. Ia tampak terkengan melihat kedatangan kami.

“Silakan masuk, Pak, Bu. Eee…, Neng Raras juga ikut,” kata Bi Inah tampak gugup.
“Terima kasih,” jawab Ayah dan Ibu sembari melangkah masuk. Raras mengikuti dari belakang.

Setelah duduk, Ayah membuka pembicaraan. “Kelihatannya Bi Inah kurang sehat, ya?”
“Masuk angin biasa, Pak. Tapi sekarang sudah mendingan.”
“Alhamdulillah kalau sudah sehat,” kata Ayah dan Ibu hampir bersamaan.
“O, pantas sudah seminggu Bi Inah tidak lewat, rupanya baru tidak enak badan. Saya sampai kerepotan mencari sayur ke pasar,” kata Ibu.
“Maaf ya, Bu.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua berjalan di luar kehendak kita. Tuhan baru menguji hamba-Nya. Oh ya, ngomong-ngomong kapan Bi Inah dagang lagi?” tanya Ibu.

Bi Inah tidak menjawab. Ada air yang mengalir dari kelopak matanya. Melihat itu, buru-buru Ibu meminta maaf. “Maaf jika kata-kata saya menyinggung Bi Inah!”
“Tidak kok, Bu.”
“Jika ada masalah, berterus teranglah, siapa tahu kami bisa membantu,” kata Ayah. Namun, Bi Inah masih diam.

Bi Inah adalah sosok wanita yang ulet. Suaminya meninggal ketika Darwan masih berumur dua tahun. Sejak saat itu Bi Inah menjadi orang tua tunggal dalam membesarkan Darwan.

Ketika Darwan masih bayi, Bi Inah menjadi tukang cuci dan seterika pakaian para tetangga. Sayang, seiring waktu banyak orang buka usaha loundry sehingga usaha Bi Inah terpaksa berhenti.

Bi Inah pernah menjadi pemulung. Darwan kecil selalu diajaknya ketika memulung. Sedikit demi sedikit Bi Inah menyisihkan uangnya. Setelah terkumpul uangnya digunakan untuk usaha dagang sayuran.


Tiba-tiba dari luar ada langkah-langkah mendekat. Ternyata Darwan. Sesampainya di depan pintu, Darwan terpaku. Ia tidak mengira bahwa Raras dan orang tuanya datang ke rumahnya.

“Hai, Darwan, dari mana kau?” tanya Raras.
“Ngamen di…,” belum selesai menjawab, ibunya memberi isyarat agar Darwan tidak melanjutkan ucapannya. Darwan tersenyum, kemudian ia menyalami semua yang ada dalam ruangan itu. Kemudian, ia ikut bergabung duduk di sebelah ibunya.

“Wah, saya bangga pada Darwan. Meskipun usianya masih sangat muda, tetapi ia tahu kerepotan ibunya. Itu bagus….” puji Ayah Raras. Dalam hati Raras sangat jengkel mendengar ucapan ayahnya itu. Bukankah siang tadi Ayah tidak memberinya uang ketika Darwan ngamen.

“Terus terang, saya kehabisan  modal. Darwan terpaksa ngamen dan uangnya kami gunakan untuk makan. Bila ada sisa kami tabung. Rencananya, setelah cukup nanti untuk modal dagang kembali,” jelas Bi Inah sambil tersenyum masam. Ayah manggut-manggut. Raras masih merasa jengkel kepada ayahnya.

“Begini Bi Inah, ini ada pinjaman modal. Pakailah dulu, jangan berpikir macam-macam, yang penting Bi Inah bisa dagang kembali. Maaf, saya tidak bisa lama-lama di sini karena ada yang harus saya selesaikan,” kata Ayah sembari minta pamit. Ayah meletakkan sebuah amplop berwarna putih di meja. Amplop itu pasti isinya uang, tetapi jumlahnya berapa Raras tidak tahu.

Raras semakin kesal dengan ayahnya. “Mengapa tidak diberikan saja uang itu? Kenapa Bi Inah harus meminjam? Utang berarti harus mengembalikan! Ayah memang pelit!” kata Raras dalam hatinya. Selama perjalanan pulang wajah Raras kelihatan muram. Ia benar-benar kecewa dengan ayahnya.
- o -

Haripun berganti menjadi minggu dan bulan. Darwan sudah masuk sekolah lagi. Untung pihak sekolah masih mau menerimanya.

Meskipun sudah satu bulan tidak mengikuti pelajaran, Darwan tidak ketinggalan pelajaran dari teman-temannya.  Darwan memang anak pandai. Selama ini Darwan dan Raraslah yang selalu bergantian menjadi bintang kelas. Keduanya bersaing secara sehat. Jika salah satu kalah tidak merasa iri atau benci. Namun, selalu memberi ucapan selamat bagi menjadi bintang kelas.

Di kelas, Raras tidak semangat belajar. Masalahnya, Raras masih memikirkan tindakan ayahnya yang dianggap tidak adil terhadap Darwan dan ibunya. Karenanya, Raras merasa malu hati terhadap Darwan.

Hari itu pelajaran matematika. Pelajaran itu merupakan favorit bagi Raras dan Darwan, tetapi tidak bagi teman-temannya. Mereka sangat kesulitan mengikuti pelajaran itu. Sayangnya, ketika Pak Wanda memberikan pekerjaan rumah, mereka selalu benar mengerjakannya. Namun, ketika dibahas di sekolahan mereka ternyata belum paham.

“Anak-anak, jika ada PR jangan sekali-kali minta jawaban tetapi mintalah diajari cara-caranya kepada orang tua atau kakak kalian. Jadi, jangan minta ikan, tapi mintalah pancing. Sebab, dengan pancing itu kalian bisa mendapatkan ikan yang diinginkan. Paham dengan maksud Bapak?” kata Pak Wanda sembari bertanya.

Anak-anak tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba Darwan mengacungkan tangannya.
“Baik, apa maksudnya Darwan?” tanya Pak Wanda.
“Kita harus tahu caranya, jangan hanya menunggu hasilnya saja. Seperti yang Bapak utarakan tadi. Jika ada pekerjaan rumah, seandainya belum tahu, kita jangan minta jawabannya tetapi mintalah diajari caranya. Jadi, jika sudah tahu caranya, kita akan dapat mengerjakan soal lain jika angkanya berbeda,” terang Darwan.

“Bagus. Itulah yang Bapak maksud. Mintalah kamu pancing jangan kamu minta ikan,” ulang Pak Wanda sambil mengacungkan jempolnya. Kata-kata itu sangat tertanam dalam benak Raras.

Sore harinya, Darwan dan ibunya bertandang ke rumah Raras. Ibu Darwan bermaksud akan mengembalikan uang pinjaman dari Ayah Raras. Raras tidak menampakkan diri. Ia hanya menguping pembicaraan. Ketika Bi Inah mengembalikan uang pinjaman, Ayah menerimanya. Namun, uang itu dikembalikan lagi kepada Bi Inah. “Maaf Bi Inah, gunakan uang ini untuk menambah modal usaha atau membelikan peralatan sekolah Darwan.”

Bi Inah tampak tercengang. Begitu juga Raras yang mendengarkan dari balik pintu.
“Maafkan, Pak. Saya tidak bisa menerima ini. Sudah diberi pinjaman modal usaha saja saya sudah beruntung,” kata Bi Inah.
“Saya sangat salut dengan pendirian Bi Inah. Namun, izinkan saya untuk memberikannya kepada Darwan,” pinta Ayah.

“Terima kasih, Om. Akan  Darwan pakai untuk modal beternak kelinci. Biar sisa sayuran Ibu tidak dibuang sia-sia,” kata Darwan sambil melihat ibunya seolah minta persetujuan. Bi Inah mengangguk.
“Itu ide bagus Darwan. Kelinci sangat mudah merawatnya. Dagingnya enak dan bergizi tinggi.”
“Baik, Om. Darwan ingin menjadi peternak kelinci yang sukses.”
“Jika begitu jangan lupa berdoa. Sebab, cita-cita akan berhasil jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan doa yang tulus,” kata Ayah.

Tiba-tiba Raras teringat dengan petuah Pak Guru siang tadi. Yaitu, jangan minta ikan, tapi mintalah pancing. Ada perasaan malu di hati Raras. Sepulang Darwan dan ibunya, Raras keluar ruangan.  Tiba-tiba Raras merangkul Ayahnya. “Ayah, maafkan Raras ya, Yah.”


“Kamu punya salah apa, Raras?”
“Selama ini Raras jengkel pada Ayah.”
“Jengkel masalah apa?” Ayah tidak paham. Ayah dan Ibu saling berpandangan.
“Raras menganggap Ayah pilih kasih atau pelit. Ternyata, Raras salah duga, Yah….”
“Maksud Raras?”
“Ternyata Ayah memberi pancing pada Darwan, dan bukan ikan.”
“Ah, rupanya Raras paham maksud Ayah. Dari mana Raras tahu petuah itu?”
Raras tidak menjawab. Ia merangkul ayahnya. Ayah mencium kening Raras. Ibu tidak mau ketinggalan.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cernak - PETUAH PANCING"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel