Cernak - MORU YANG KUSAYANG
Monday, 12 November 2018
Add Comment
![]() |
| Cernak - MORU YANG KUSAYANG |
MORU YANG KUSAYANG
Namaku Ken Ghani, umurku 8 tahun. Aku duduk di kelas dua sekolah dasar. Kini aku sangat cemburu dengan Moru. Dia sangat disayang Papa. Hampir setiap waktu Papa selalu memperhatikannya. Bukan hanya Papa, Mama juga sangat sayang Moru. Papa dan Mama selalu memperhatikan Moru. Setiap hari Moru selalu diladeni. Setiap hari Moru selalu dimandikan, diberi makan, dan minum susu.
Papa dan Mama tidak pernah marah atau memberi hukuman kepada Moru meskipun ia sering nakal.
Sebulan sekali ada dokter pribadi yang datang mengontrol kesehatannya. Perkembangan dan kesehatan Moru selalu diperhatikan. Sering aku protes, tapi Papa dan Mama tidak berubah.
“Apa sih hebatnya Moru, Papa?” ketika Papa membuatkan susu untuk Moru. Seperti biasa Papa selalu menjawab dengan senyum dan menghelai rambutku. Aku semakin cemburu kepada Moru. Namun, sepertinya Papa tidak tahu yang ada di pikiranku.
“Moru kan masih kecil, sayang,” jawab Papa sambil menyusukan botol berisi susu formula kepada Moru. Seperti biasa Moru tampak senang dan lahap minum susu. Di mataku, Moru sengaja memamerkan semua itu.
“Lagi pula kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi?” Mama ikut bicara.
Aku hanya terdiam. Mama tampaknya juga tambah sayang pada Moru. Ketika Papa kerja, Mamalah yang merawatnya. Hampir setiap waktu Mama selalu memperhatikan Moru.
Kurasa Papa dan Mama berlebihan. Pernah suatu hari Moru merusakkan mainanku. Mainan itu adalah sebuah boneka istimewa hadiah ulang tahunku dari nenek. Bajunya yang cantik dirobek oleh Moru. Bahkan, salah satu tangan dari bonek cantik itu putus. Aku menangis dan protes.
“Sudahlah, sayang. Nanti Mama ganti yang lebih bagus lagi,” kata Mama sambil memungut baneka rusak yang tergeletak di lantai.
“Tapi itu kan hadiah dari Nenek, Ma. Ghani sangat suka dengan bonek cantik itu,” jawabku ketus.
“Iya, sayang. Mama tahu. Tapi semua sudah terlanjur. Makanya, jika menaruh mainan jangan sampai dapat dijangkau Moru, ya!” kata Mama yang kurasa membela Moru. Pokoknya, semua yang diperbuat Moru selalu aku yang disalahkan.
Kenakalan Moru semakin menjadi-jadi. Mainanku yang sudah kurapikan dan kutaruh di dalam kardu ia berantakan di lantai.
“Mengapa aku yang harus membereskanya, Mama?” tanyaku protes ketika Mama menyuruhku membereskan mainan itu.
“Kalau bukan kamu, siapa yang membereskan, sayang?” kata Mama sembari tanya. Hatiku tambah dongkol. Selalu ada saja bagi Mama untuk membela Moru.
Moru memang dibiarkan oleh Papa dan Mama sesuka hatinya. Ia sering bermain-main di ruang tamu, ruang belajar, dan tempat-tempat lainnya. Terkadang juga bermain ke kamar tidurku. Jika sudah sampai ke kamar tidurku, aku merasa jijik meskipun Moru bersih dan tidak buang kotoran sembarangan. Pakaian yang dikenakannya bisa menampung kotoran yang ia keluarkan. Namun, aku tetap merasa jijik.
Pernah suatu hari, karena jengkel Moru saya tinggal di luar. Waktu hujan deras. Papa dan Mama sedang pergi. Aku lihat dari kaca jendela Moru mengiba seperti minta pertolongan. Aku tersenyum merasa bisa mengerjai Moru.
Ketika pulang, Papa dan Mama mendapati Moru dengan badannya basah kuyub karena kehujanan. Akibatnya, Moru sakit. Papa kalang kabut. Papa segera menghubungi dokter.
Tidak lama kemudian dokter datang. Dokter segera memeriksa Moru. Untung sakitnya tidak parah. Menurut dokter, Moru hanya kedinginan karena tidak terbiasa kena air hujan. Setelah badannya dikeringkan dan diganti pakaiannya. Selanjutnya, Moru diberi obat. Moru sehat kembali.
Walaupun aku jengkel dengan Moru, sebenarnya aku juga kasihan telah membuatnya sakit akibat kubiarkan Moru di luar terkena air hujan.
“Ghani, kali lain jangan diulangi lagi, ya...!” kata Papa sambil mengelus rambutku.
“Iya, Pa. Ghani minta maaf,” jawabku merasa salah.
Akan tetapi, Moru kurasa semakin nakal. Setiap hari selalu ada saja ulahnya.
Kali ini, Moru merusak pekerjaan rumahku. Ceritanya, sepulang sekolah aku mengerjakan PR. Ketika aku hampir selesai mengerjakan, tinggal soal nomor sepuluh yang belum selesai. Tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil. Aku langsung lari menuju ke kamar mandi. Betapa kagetnya aku ketika sehabis dari kamar mandi buku pekerjaanku sudah robek menjadi beberapa bagian. Siapa lagi yang merusaknya kalau bukan Moru. Aku menangis sejadi-jadinya.
Melihat itu, Papa dan Mama tidak marah kepada Moru. Aku semakin jengkel dibuatnya.
“Mengapa Papa dan Mama lebih sayang sama Moru?”
“Sayang, Mama dan Papa tetap lebih sayang padamu,” jawab Mama sambil mengelus rambutku. Aku mendekap Mama erat sekali seakan ingin diperlakukan seperti Moru. Aku tidak bisa berucap apa-apa. Dada ini rasanya sesak penuh nada protes. Namun, semua kata-kata protes kepada Mama dan Papa selalu dijawab sama, yakni Papa dan Mama lebih sayang pada Ghani.
“Nyatanya Mama dan Papa sangat perhatian kepada Moru!” aku tetap protes. Kulihat Mama tersenyum.
“Sayang, kamu kan sudah besar. Lagi pula Moru kan tidak bisa membuat susu sendiri atau mengambil makan sendiri seperti kamu.”
“Tapi Ghani kan anak Mama dan Papa. Mengapa Mama dan Papa lebih sayang kepada hewan?”
Ya, Moru adalah anak orang utan. Oleh Papa anak orang utan itu diperlakukan seperti manusia. Bahkan, menurutku melebihi diriku anaknya sendiri. Anak orang utan itu diberi pakaian rapi. Setiap hari selalu dimandikan. Makanan dan minuman selalu terjamin. Semua itu dilakukan Papa dan Mama dengan penuh kasih sayang.
“Dengarkan anakku manis, Mama dan Papa sangat sayang pada anaknya. Apalagi kamu satu-satunya anak Mama dan Papa,” kata Mama sambil mengelus rambutku. Aku melihat tatapan Mama itu tulus. Air mataku tumpah. Aku semakin erat mendekap Mama. Namun, batinku rasanya masih tetap berontak. Bukankah selama ini Papa dan Mama selalu perlakukan Moru dengan istimewa.
“Buktinya Mama dan Papa sangat perhatian sama Moru,” aku beranikan diri protes kepada Mama. Sekali lagi, aku semakin jengkel karena Mama hanya tersenyum sambil menciumku.
“Tuhan menciptakan makhluk hidup untuk saling menyayangi, termasuk kepada hewan,” jelas Mama sambil tetap mengelus rambutku. Mama juga menghapus air mataku dengan sapu tangan.
“Betul Ghani,” kata Papa yang tiba-tiba muncul. “Papa sayang sekali kepada anakku. Tapi Papa juga sayang kepada semuanya, termasuk Moru. Karena...,” suara Papa memberat. Papa tidak melanjutkan bicaranya. Kulihat raut wajah Papa tampak murung. Seakan Papa telah melakukan kesalahan yang besar. Namun, aku tidak paham kesalahan apa yang telah terjadi.
“Maafkan Ghani, Papa. Ghani telah membuat Papa sedih, ya?” aku mendekap Papa.
“Tidak apa-apa sayang. Papa berbuat lebih kepada Moru karena rasa dosa Papa.”
Kemudian Mama bercerita. Sepuluh tahun silam, Papa membuka perkebunan sawit di Kalimantan. Mama masih ingat waktu itu, setelah beberapa tahun kemudian Papa pulang dengan membawa anak seekor orang utan yang masih kecil. Mama waktu itu juga sangat jijik pada orang utan itu.
“Papa, mengapa membawa pulang orang utan, sih?” protes Mama pada waktu itu.
“Mama, sabar dulu,” jawab Papa sambil mendekap anak orang utan itu dengan penuh kasih sayang.
“Mama kan paling jijik sama monyet!” Mama tetap protes. Mama tidak mengizinkan Papa membawa masuk anak orang utan itu.
“Mam, dengarkan dulu ceritaku,” kata Papa sambil duduk dan memangku anak orang utan itu. Sebenarnya, anak orang utan itu tampak lucu dengan pakaian yang Papa pakaikan.
Kemudian, Mama melanjutkan cerita Papa.
Waktu musim sawit tiba, banyak orang utan menyerbu perkebunan. Sebenarnya Papa dan karyawannya sudah berusaha menghalaunya dengan cara yang tidak melukai. Namun, gerombolan orang utan itu tidak takut bahkan semakin menjadi-jadi. Akibatnya, bakal biji sawit banyak yang rusak.
Papa dan beberapa karyawan terpaksa menyerangnya. Mereka menyewa penembak mahir yang ada di daerah itu. Papa juga ikut menembak. Ketika ada seekor orang utan besar, Papa membidikkan senjata. Plass! Peluru tepat mengenai dadanya. Orang utan itu lalu pergi pelan-pelan sambil salah satu tangannya memegang luka terkena peluru. Darah meleleh berwarna merah. Beberapa menit kemudian ia kembali sambil menggendong seekor bayi orang utan. Bayi yang masih mungil itu kemudian disusuinya sambil dielus-elus kepalanya. Setelah dirasa kenyang, bayi orang utan itu diletakkan di atas dahan. Kemudian dengan air mata berlinang induk orang utan itu memandang anaknya dan kemudian hendak beranjak pergi. Namun, beberapa langkah selanjutnya ia terjatuh tak bernyawa lagi. Anak orang utan itu tidak lain adalah Moru.
Aku bergidik mendengar cerita Mama. Ternyata seekor orang utan begitu sayang kepada anaknya. Sementara, kulihat mata Papa berkaca-kaca. Rupanya Papa merasa bersalah selama ini. Pantas saja Papa memberlakukan Moru seperti anaknya sendiri.
“Maafkan aku, Moru. Aku juga sayang kamu,” kataku sembari mengelus-elus bulu Moru.
“Iya sayang, kita harus menyayangi Moru karena ia tidak punya orang tua lagi,” ujar Mama sambil memelukku.
“Betul kata Mama sayang, Papa sekarang tidak berkebun sawit lagi karena tidak ingin mengusik kehidupan orang utan-orang utan di sana. Sebab, mereka juga butuh hidup tenang dan layak seperti kita.”
Sejak saat itu, aku selalu bermain bersama Moru. Setiap pulang sekolah setelah mengerjakan PR aku mengajak Moru mengelilingin kebunku yang cukup luas.
Hingga suatu saat, Papa pulang dengan membawa seorang tukang kayu. Tukang kayu itu membawa sebuah rumah papan yang ukurannya cukup besar. Papa dan tukang kayu itu menuju ke pohon mangga sebelah rumah. Kulihat Papa tangannya menunjuk ke atas pohon mangga.
Tidak lama kemudian, tukang kayu memasang rumah papan itu di pohon mangga yang bercabang.
“Rumah itu untuk siapa, Papa?” tanyaku yang mengagetkan Papa karena tidak menyadari aku menyusulnya.
“Untuk Moru sayang. Moru sekarang sudah besar. Ia harus hidup terpisah dengan kita. Biarkan ia bebas bermain di kebun ini. Jika ingin istirahat, sudah disiapkan rumah papan di atas pohon untuknya,” terang Papa.
Sejak saat itu, Moru tidak diberi pakaian. Ia hidup bebas di kebun. Setiap hari aku selalu bermain berdua dengannya menikmati kebun luasku.()
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cernak - MORU YANG KUSAYANG"
Post a Comment