Budaya - TAMU PARA MANTAN
Sunday, 18 November 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - TAMU PARA MANTAN |
TAMU PARA MANTAN
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Hari Minggu (18/11), semestinya Mas Guru Bonang ikut kerja bakti tetapi kali ini terpaksa pamit ke Pak RT. Pagi ini, gubugnya kedatangan para mantan adik kelas dari padepokan Sendang Lanang alias SPG Negeri Wonogiri. Tamu sejumlah lima orang itu merupakan cantrik pilihan yang lulus pada 1989 silam.
Tidak semua mantan cantrik itu menjadi guru seperti yang diidam-idamkan ketika “mondok” di padepokan Sendang Lanang. Namun, semuanya sukses di bidangnya masing-masing. Bahkan, dari segi finansial, justru yang berwira swastalah yang kehidupannya berada di atas para guru.
Mereka ada yang datang dari Cirebon, Jawa Barat, yakni Nyai Dapur Cleguk yang memiliki usaha rumah makan di dua tempat, di Cirebon dan Depok, Jawa Barat. Yang datang dari Semarang adalah mantan wakil ketua OSIS di padepokan Sendang Lanang. Beliau yang suka dipanggil Kang GW ini bekerja di SD Islam Hidayatullah Semarang. Satunya dari Sidoharjo Wonogiri sebagai pengusaha laundry dan merupakan seorang penyair. Namanya Nyai Ratna Mangali. Ada juga yang ahli bahasa isyarat karena memang sebagai pendidik anak yang berkebutuhan khusus, yakni Nyi Ribut Rustinah. Sedangkan satunya lagi adalah seorang guru sejati dari wilayah Selogiri, Wonogiri bernama Ki Sriyatno.
Setelah “dianggurke” sambil bercengkerama beberapa waktu, Mas Guru Bonang dan kelima tamunya berkunjung ke rumah Mas Eko Hartono di Tirtomoyo. Eko Hartono merupakan salah satu penulis produktif dari Wonogiri. Beliau hanya lulusan SMP tetapi berani memilih pekerjaan yang tak biasa di lingkungan tinggalnya, yakni sebagai penulis. Berawal dari menulis di media cetak, buku, dan kini merambah ke penulisan skenario yang dirasa lebih menjanjikan dari pada menulis lainnya.
Mereka tiba sekitar pukul 14.00. Sempat salah masuk gang yang menuju rumah Mas Eko Hartono. Untung berpapasan dengan istri beliau yang sudah lumayan akrab dengan Mas Guru Bonang. Kemudian, berbelok arah yang menuju ke rumah yang dituju.
Mas Eko Hartono telah menunggu di dalam rumah. Melihat kedatangan tamunya tersungging senyumnya. Beliau menerima mereka dengan tangan terbuka. Setelah dipersilakan, mereka duduk di kursi melingkari Mas Eko Hartono. Kemudian, mendengarkan kisah dan pengalaman Mas Eko Hartono dalam jerih payahnya menggeluti dunia kepenulisan. Adalah seorang difabel dan hanya lulusan SMP ternyata bisa bersaing dengan para penulis skenario yang masih muda dan tentunya berpendidikan tinggi. Buktinya, sampai saat ini beliau tetap eksis, dapurnya tidak pernah berhenti ngebul, tompone ora cemanthel, tetap isi nasi untuk anak-istri. (Parpal Poerwanto).

0 Response to "Budaya - TAMU PARA MANTAN"
Post a Comment