Cerita Wayang - MENDUNG BERGANTUNG DI BUMI MANDURA # 5
Sunday, 13 May 2018
Add Comment
![]() |
| Cerita Wayang - MENDUNG BERGANTUNG DI BUMI MANDURA # 5 |
MENDUNG BERGANTUNG DI BUMI MANDURA
Bagian 5
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA - CERITA WAYANG - Basu Wara Kangsa merasa di atas angin. Angan-angannya untuk menguasai Mandura dan menyingkirkan anak-anak Prabu Basudewa yaitu Kakrasana dan Narayana sepertinya tinggal menunggu waktu saja.
Kegembiraannya itu disampaikan kepada pamannya, Surati Mantra.
“Wah saya ikut senang, Ngger. Angger memang jagonya memainkan peran politik. Ya seorang yang pandai berpolitiklah yang pantas duduk sebagai raja diraja.”
“Betul Paman. Sebuah cita-cita tidak akan datang dengan sendirinya. Perlu perjuangan dan perhitungan.”
“Tapi Ngger, sebetulnya Paman belum paham dengan diadakannya adu jago di pasar baru itu punya maksud bagaimana?”
“Waladalah....kukira Paman ikut senang tadi karena paham yang kumaksudkan. Begini Paman, pasar itu kan tempat keramaian. Banyak orang berdatangan untuk berjual beli. Nah, saya berkeninginan tempat adu jago atau blabar kawat nanti lokasinya di pasar tersebut. Dengan demikian pastilah banyak yang berdatangan. Saya yakin, Kakrasana dan Narayana tertarik untuk menyaksikan pertarungan jago kasepuhan dan kanoman. Ketika kudapatkan dia tentu akan mudah untuk membunuhnya. Begitu, kan Paman? Hua ha...ha...!”
Keduanya lalu tertawa terbahak-bahak. Apalagi adanya pengaruh alkohol membuatnya menjadi benar-benar di atas angin. Mereka terus minum hingga jatuh tersungkur.
Lain yang diceritakan. Di Widarakandang Ki Demang Sagopa ya Antya Gopa tengah duduk berdua dengan istrinya, Sagopi. Sagopa dulunya adalah abdi kerajaan Mandura. Ia seorang perjaka tua yang sangat tulus dalam mengabdi kepada negara.
Sedangkan Sagopi adalah seorang suarawati yang cantik jelita. Selain cantik dia juga pandai bergaul dan menarik hati. Karenanya, Prabu Basudewa tertarik dengan kecantikan Sagopi. Maka dinikahinya Sagopi sehingga lahirlah anak bernama Udawa.
Selanjutnya Sagopi dititipkan kepada Harya Prabu di negara Kumbina. Lagi-lagi sang Adipati tidak tahan melihat kecantikan Sagopi. Maka dinikahinya Sagopi dan lahirlah anak perempuan yang manis, Ken Larasati namanya.
Sagopi kemudian dititipkan ke Lesanpura. Di Lesanpura, Harya Ugrasena juga terpikat dengan kemolekan Sagopi. Maka lahirlah Pragota dan Adimanggala.
Ketika Prabu Basudewa tahu bahwa kedua anaknya yakni Kakrasana dan Narayana selalu akan dibunuh oleh Kangsa, maka Kakrasana dan Narayana berikut adiknya seorang putri bernama Rara Ireng diamankan di Widarakandang.
Sedang yang mendapat tugas itu adalah Demang Sagopa yang saat itu juga dinikahkan dengan Sagopi. Maka jadilah Widarakandang sebagai tanah merdeka sebagai balas jasa Prabu Basudewa terhadap Demang Sagopa. Demang Sagopa dan istrinya sudah menganggap Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng sebagai anak sendiri tidak dibeda-bedakan dengan anak lainnya.
“Nyai, tidak terasa anak-anak kita sudah dewasa. Jika melihat Kakrasana bekerja seharian penuh di sawah atau ladang ada perasaan berdosa sekaligus bangga.”
“Maksudnya bagaimana Kyai?”
“Ya....aku sangat berdosa karena membiarkan putra raja agung negara Mandura bercocok tanam layaknya kaum tani di pedesaan. Bahkan Kakrasana lebih dari seorang petani. Kekuatan dan ketahanan badannya dalam mengolah tanah sangat luar biasa. Tak satupun warga sini bisa mengalahkan dia dalam mengolah tanah.”
“Begitu, Kyia....”
“Iya Nyai. Sedang banggaku sudah jelas. Aku berhasil mendidik seorang pemuda yang rajin bekerja tidak bermalas-malasan.”
“Kyai....bagaimana dengan Narayana. Bukankah kerjanya hanya bermain dan berkelana?” (BERSAMBUNG KE BAGIAN 6).

0 Response to "Cerita Wayang - MENDUNG BERGANTUNG DI BUMI MANDURA # 5"
Post a Comment