Budaya - LENGER-LENGER BERTUBI-TUBI
Saturday, 26 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - LENGER-LENGER BERTUBI-TUBI |
Oleh: Parpal Poerwanto
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Mas Guru Bonang gak habis pikir, lenger-lenger. Betapa tidak? Hari Senin (27/7) sehabis acara halal bihalal bersama murid-murid, Kepala Sekolah mengajak rapat tetapi tidak formal. Salah satu agenda adalah adanya lomba bagi siswa yakni mencipta puisi, membatik, dan melukis. Sedangkan pelaksanaan lomba juga tidak disinggung saat rapat itu.
Kepala Sekolah langsung mengusulkan untuk mengikutkan anak pada lomba cipta puisi dan melukis. Tentang itu sih Mas Guru Bonang setuju-setuju saja. Namun, ketika Kepala Sekolah langsung menunjuk guru kelas 4 untuk melatih puisi dan guru kelas 6 untuk melatih melukis, Mas Guru Bonang agak tersedak. Masalahnya, bukan berarti Mas Guru Bonang lebih bisa dibanding guru kelas 4 atau kelas 6 itu tetapi tradisi selama ini yang dipasrahi adalah guru kelas 5, meskipun pelaksanaannya bisa minta tolong guru lainnya.
Oh ya, selama ini Mas Guru Bonang mengajar kelas 6 sehingga tidak dilibatkan dalam melatih lomba-melomba. Namun untuk tahun ini, ya khusus tahun ini, dirinya minta mengajar kelas 5. Alasan yang digunakan Mas Guru Bonang karena saat ini dirinya belajar lagi, nantinya takut bila saat anak kelas 6 ujian, Mas Guru Bonang juga mengerjakan ujian. Tidak focus alasannya.
Karena merasa ikut bertanggung jawab, sore harinya Mas Guru Bonang memberikan pelatihan kepada dua siswa yang ditunjuk. Satu belajar membuat puisi, dan satunya lagi melukis. Untuk puisi Mas Guru Bonang hanya memberi pancingan dan pengarahan. Anak sendirilah yang mengembangkannya. Untuk bimbingan pertama ini, hasilnya baru empat baris dengan pilihan kata yang kurang apik.
Sedangkan yang melukis disuruh untuk meniru (copy paste) gambar yang diunduh dari internet, tentang tari topeng. Pelatihan pertama hasilnya acak adul.
Keesokan harinya, Mas Guru Bonang ditugasi keluar kantor. Sebelum berangkat, Mas Guru Bonang berpesan kepada dua anak yang akan lomba bahwa nanti sore latihan lagi, jam dua. Karena kelas kosong, kesempatan itu digunakan guru kelas 6 untuk “melatih” anak yang akan lomba. Dua-duanya dia latih, jadi guru kelas 4 tidak ikut melatih.
Selasa, jam dua sore, Mas Guru Bonang siap melatih lagi. Pertama yang ditanyakan adalah puisi hasil bimbingan Bu Guru kelas 6. Menurut pengakuan anak, is sudah menerima jadi, dan si anak hanya disuruh menghafalkan. Jadi, ketika lomba tinggal menulis ulang.
Saking penasaran, Mas Guru Bonang meminjam puisi hasil Bu Guru kelas 6. Emm.....Mas Guru Bonang tidak berani komentar. (Pastinya sambil tersenyum). Selanjutnya Mas Guru Bonang menyuruh anak tadi untuk melanjutkan puisi yang baru empat baris kemarin, tentunya dengan gambaran-gambaran dan arahan-arahan yang bisa dimengerti oleh anak.
Mas Guru Bonang giliran ke anak yang melukis. Melihat hasil lukisan hasil “pelatihan” Bu Guru kelas 6 itu ya (maaf) pasti tersenyum lagi. Namun, untuk menjaga wibawa Guru Kelas 6, Mas Guru Bonang mengajak anak untuk mencoba yang lain. Dengan maksud nantinya anaklah yang memilih mana yang dia sukai.
Mas Guru Bonang membuat sket yang ditirukan anak tersebut, karena pada pelatihan pertama hasilnya benar-benar acak adul. Awalnya kaku sekali. Untuk membuat satu sket membutuhkan banyak waktu, yaitu hampir dua jam. Jadi saat itu sudah hampir pukul empat sore.
Karena waktu sudah sore, Mas Guru Bonang menyuruh anak-anak untuk berkemas, dan rencana untuk dilanjutkan besuk sore. Namun, kedua anak itu bilang bahwa lombanya besuk pagi! Masya Allah! Mas Guru Bonang kaget bertubi-tubi (pinjam istilahnya Atika).
Nah, benar kan kalo Mas Guru Bonang gak habis pikir alias lenger-lenger? Berarti keikutsertaan pada lomba itu hanya sekedar partisipasi, tidak ada persiapan. Tidak ingin meraih prestasi bagi anak maupun sekolah. Yah, itulah kenyataannya. Kapan kondisi seperti ini berlangsung? Sekali lagi, lenger-lenger bertubi-tubi.
Wonogiri, 31-07-2015

0 Response to "Budaya - LENGER-LENGER BERTUBI-TUBI"
Post a Comment