-->

Budaya - KENA SEMPRIT

Budaya - KENA SEMPRIT
Budaya - KENA SEMPRIT

KENA SEMPRIT

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA – Sore itu di saat Mas Guru Bonang liyer-liyer dikagetkan oleh bunyi telpun. “Saya Pangdam Wonogiri, Bos.... hahahaha....” Sejenak Mas Guru Bonang mengingat-ingat suara dari seberang. Bukan masalah guyonan bahwa Wonogiri sekarang ada Pangdamnya, tetapi suara itu sudah dikenal sekali di telingan Mas Guru Bonang, tetapi ingat-ingat lupa. Mau ditanya dari siapa, nanti dikira sombong tidak mengenalnya lagi. Untung saja ingatan Mas Guru Bonang segera menemu. “Pakde Kenong, ya....”

“Betul....agi ngapa iki?”
“Ya liyer-liyer, nunggu bedug magrib. Tumben nelpun ada apa, De?”
Kemudian Pakde Kenong bermaksud minta tolong untuk menghapus sebuah kiriman di fesbuk. Sebenarnya bukan suatu yang memberatkan. Namun, malah suatu kekonyolan. Ceritanya, kemarin malam Pakde Kenong yang masih grotal-gratul fesbukan itu tidak sengaja meng-upload gambar wanita muda cantik tetapi miskin. Saking miskinnya wanita muda itu cuma pake BH dan celokan ladem. Karena gambar yang kurang senonoh itu, maka dapat komen yang beragam pula. Itu wajar memang, selain gambar itu tidak pantas untuk konsumsi umum, juga tidak menghormati kaum muslim yang sedang ibadah shaum.

Setengah jam kemudian Pakde Kenong datang dengan mobilnya yang masih kinyis-kinyis. Mas Guru Bonang tersenyum, tetapi tidak sinis. Dirinya ingat ketika berdua keliling kecamatan se-Wonogiri ketika masih sama-sama mengelola majalah Gaung. Waktu itu kemana-mana juga naik mobil bagus, tetapi sewa!

Pakde Kenong pula yang mengajak ke suatu masjid yang dwifungsi. Seperti masjid biasanya, di dalamnya digunakan untuk menjalankan ibadah salat. Namun, di luarnya ada semacam gundukan dupa untuk keperluan tertentu. Pakde Kenong lantas bercerita bahwa dulu ketika musim Pilkada dirinya mencari “sarat” berupa air, salah satunya dari sumber yang berlokasi tidak jauh dari masjid ini.

Setelah memastikan kiriman gambar itu tidak tertampang di halaman fekbuk, Pakde Kenong juga bercerita kalau mau beli mobil lagi. Untuk sang istri katanya. “Yah, bentar lagi dapat pesanan baliho 5. Kan sudah seratus dua lima. Tinggal tambah dikit.” Mas Guru Kenong manggut-manggut.

“Oh ya...nanti saya dibantu ya.... Kan bosku mau maju bupati....” pinta Pakde Kenong. Mas Guru Bonang tidak menjawab. Dirinya teringat saat Pilkada beberapa tahun lalu. Saat itu jagonya ada dua. Kebetulan keluarga besar Mas Guru Bonang dari pihak istri menjagokan calon nomor satu. Sebab, konon masih ada ikatan saudara meskipun jauh. Malah salah satu rumah kerabat digunakan untuk pertemuan si calon itu.

Sebagi warga Korpri, Mas Guru Bonang sesadar-sadarnya untuk tidak berperan aktif dalam pulitik walau kafasitasnya hanya sebagai pendukung. Meski tempat pertemuan itu hanya di sebelahnya, Mas Guru Bonang tidak berani datang, takut kena semprit.


Pascapencoblosan, dan rekapitulasi suara sudah bisa diakses massa, Mas Guru Bonang hendak bepergian bersama istrinya. Di tengah jalan banyak pemuda dengan kostum tertentu berteriak-teriak sambil mengelu-elukan calon bupatinya yang memenangkan Pilkada. Setiap mobil dan motor yang lewat selalu dihentikan dan tentunya "diinterograsi".


Ketika Mas Guru Bonang melintas para pemuda itu hanya memandang tanpa berani menghentikan motor yang dinaiki Mas Guru Bonang bersama istrinya. Dalam hati Mas Guru Bonang bangga bahwa ternyata para pemuda itu segan kepadanya. Buktinya dirinya melenggang tanpa satu pun berani menyetopnya. Namun, setelah sadar dirinya merasa malu ternyata para pemuda itu bukan merasa enggan kepada dirinya, tetapi justru pekewuh kepada istrinya....yang ternyata berbalut gamis warna merah dan kerudung merah pula, warnanya persis seperti kostum yang dipakai oleh para pemuda itu.

“Bagaimana, Om...?” tanya Pakde Kenong lagi. Mas Guru Bonang hanya tersenyum sambil menggeleng. “Itu urusan gampang, De. Aku takut kena semprit...hehe!”

Wonogiri, 10 Juni 2015

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - KENA SEMPRIT"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel