Budaya - KAYU DONOLOYO
Thursday, 17 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - KAYU DONOLOYO |
KAYU DONOLOYO
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Ketika Mas Guru Bonang masih usia kanak-kanak, mendengar kata kayu donoloyo pasti takut bukan kepalang. Semua cerita berujung ke hal-hal yang mistis, menakutkan. Semisal, jika sedang mencari kayu bakar (waktu itu anak seusia Mas Guru Bonang, ketika hari Minggu bisa dipastikan mencari kayu bakar untuk memasak di dapur).
Tempat yang dituju adalah hutan kecil di sebelah barat desa seberang kali. Ya, untuk menuju ke hutan kecil dan tegalan itu harus menyeberang Kali Walikan. Kali Walikan sumber airnya berasal dari lereng sebelah selatan Gunung Lawu. Kali ini akan bertemu dengan Bengawan Solo, tepatnya di dekat Jembatan Timang, Wonogiri. Perihal hutan kecil dan tegalan itu sekarang sudah beralih fungsi sebagai pabrik tapeoka.
Pada waktu itu Sungai Walikan memang unik. Ketika musim penghujan datang selalu banjir dengan aliran air yang sangat deras berkelok-kelok karena pada waktu itu masih banyak batu yang ukurannya sebesar kerbau. Sayang, sekarang batu-batu sudah habis tak tersisa. Sedangkan pada musim kemarau aliran air tinggal kecil, tetapi masih menyisakan kedungan air yang cukup banyak di tempat-tempat tertentu sehingga bisa digunakan untuk berenang. Bahkan setiap kedungan air punya nama, seperti Kedung Wot, Kedung Dadap, Kedung Sekembang, Kedung Macan Mati, dan lain-lain. Sekarang jika musim kemarau tiba, tempat yang dulunya masih menyimpan air itu juga kering, alias sudah tidak ada kedungan lagi biasa disebut bantaran.
Nah, sekarang kembali ke kayu donoloyo. Konon, setiap banjir kali Walikan selalu menghanyutkan kayu donoloyo, baik batang maupun ranting. Dan ketika musim kemarau pasti banyaklah kayu-kayu yang nyangkut di sela-sela bebatuan. Kami, anak-anak pencari kayu bakar tidak berani mengambil kayu-kayu itu. Bahkan berjalanpun harus menyingkir, karena takut bahwa itu kayu donoloyo (kayu yang berasal dari hutan Donoloyo, Slogohimo).
Waktu itu, setiap anak mempunyai cerita masing-masing. Sebenarnya kebenaran cerita itu sulit dipertanggung jawabkan, itu pasti. Bahkan konyolnya, setiap anak pandai membumbui cerita, dan itu berjalan dari generasi ke generasi. Misalnya, jika kayu itu dibacok, pasti akan keluar darah, karena kayu donoloyo bisa berubah ular dan pastinya dipercaya akan mencelakai bagi yang membacoknya.
Kesan Hutan Donoloyo yang angker dan penuh misteri mungkin masih melekat di sebagian besar penduduk Wonogiri. Namun, kesan itu setelah Mas Guru Bonang benar-benar sanja ke hutan tersebut pada hari jelang Ramadan lalu menjadi berkurang untuk tidak dikatakan hilang. Bahkan, sebutan “hutan” sudah tidak layak untuk hutan legendaris itu. Dikatakan legendaris karena konon hutan itu sudah kesohor sejak zaman Kasultanan Demak. Salah satu tiang Masjid Agung Demak berasal dari hutan tersebut. Bahkan pembangunan keraton Surakarta kabarnya juga banyak menggunakan kayu dari hutan itu.
Akan tetapi, sejak peristiwa reformasi hutan Donoloyo rusak akibat kayu-kayunya ditebang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu penyebab Hutan Donoloyo tidak seangker dan sekeramat dulu.
Mas Guru Bonang pun tersenyum kecil ketika mengingat masa kanak-kanak. Bukankah sungai yang berdekatan dengan Hutan Donoloyo adalah Sungai Keduang yang alirannya tidak ada hubungannya dengan Kali Walikan. Lalu, kayu-kayu di Kali Walikan yang ditakutkan dulu itu berasal dari mana?
Wonogiri, 09-07-2015

0 Response to "Budaya - KAYU DONOLOYO"
Post a Comment