Budaya - GEK SINTEN
Thursday, 24 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - GEK SINTEN |
GEK SINTEN
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG SAN SASTRA – BUDAYA – Suatu ketika, pada beberapa tahun silam Mas Guru Bonang kedatangan tamu di sekolahnya. Tamu itu seorang guru senior. Beliau adalah ketua KKG di gugus tempat Mas Guru Bonang mengajar. Namanya Nyi Guru Banget.
Sebenarnya agak nganeh-anehi. Sebab, jarang sekali Nyi Guru Banget menghubungi atau ada kepentingan dengan Mas Guru Bonang. Apalagi Mas Guru Bonang termasuk orang baru di gugus itu. Tentu dengan kedatangan Nyi Guru Banget benar-benar terasa aneh baginya.
“Wonten wigatos menopo, to Bu?” tanya Mas Guru Bonang setelah cukup lama berbasa-basi. Nyi Guru Banget awalnya menjawab dengan senyumnya. Namun, benar-benar nganeh-anehi. Ini bukan senyum pemikat antara kaum Adam dan kaum Hawa. Juga bukan senyum terhadap sesuatu yang pantas untuk disenyumi.
Kemudian, Nyi Guru Banget bercerita tentang kegiatan di Forum KKG tingkat Distrik yang baru saja ia ikuti. Secara iseng, Mas Guru Bonang menyela, “Bukannya yang dikirim ke forum tingkat distrik itu bukan ketua gugus, Bu?”
Mendapat pertanyaan itu, Nyi Guru Banget menjawab, “Iya Mas, tapi nek saking mriki...., gek sinten?”
Mas Guru Bonang tersedak mendengar jawaban itu. Untung saja hanya tersedak air ludah bukan oleh makanan atau minuman. Dalam benak Mas Guru Bonang terngiang sepotong syair dari si Satria Bergitar bahwa jangan memandang orang tidak dengan setinggi dada. Padahal, menurut kacamata Mas Guru Bonang banyak guru di gugus itu yang punya potensi. Mereka adalah guru-guru muda yang tidak gaptek serta penuh kompetensi dan energi. Tapi, ya sudahlah. Mas Guru Bonang tidak ingin berdebat.
“Lajeng kersanipun nopo, Bu?”
“Begini Mas, dalam kegiatan di forum salah satu produknya adalah membuat buletin pendidikan yang didanai oleh pemerintah. Lha, anggen kula mriki mung badhe nyuwun tulung.”
“Liripun?”
“Saya minta tolong Mas Guru Bonang yang membuat buletin itu....”
“Nggih saged, pundi materinipun?” jawab Mas Guru Bonang datar.
“Ya, semua Mas Bonang yang membuatnya....”
Nyaris untuk kali kedua Mas Guru Bonang tersedak ludah. Namun, ia dapat menahannya.
Singkat cerita, demi nama baik gugus yang menurut Nyi Guru Banget dipercaya untuk program itu, mau tidak mau Mas Guru Bonang mengerjakan “tugas” itu. Apalagi Nyi Guru Banget dalam meminta tolongnya penuh dengan pengharapan. Katanya, ia belum paham dengan yang dimaksud buletin pendidikan. Dus, waktunya pun sangat mepet.
Yup, mulai dari bikin artikel, nglayout, serta cetak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya terpaksa Mas Guru Bonang sendirilah yang mengerjakannya. Gek sinten...?
Wonogiri, 240518

0 Response to "Budaya - GEK SINTEN"
Post a Comment