Budaya - BELAJAR
Saturday, 19 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - BELAJAR |
BELAJAR
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Bagi Mas Guru Bonang (jan-jane hanya sekadar ikut-ikutan dhing), belajar itu penting dan tidak mengenal waktu dan tempat. Mungkin hanya dari sekadar obrolan biasa dan kejadian yang sangat ringan tetapi bisa dijadikan sebagai pembelajaran hidup. Hal-hal kecil dan kadang terkesan remeh temeh tetapi apabila kita dapat mengambil hikmahnya, itu hasil belajar yang sebenarnya, yang diharapkan.
Pada pembelajaran pertama ini Mas Guru Bonang yang biasanya mengendalikan irama dalam orkestra gending Jawa, terpaksa hanya menjadi gong atau kenong yang sesekali muncul di akhir irama. Ya, kali ini Mas Guru Bonang tidak bisa mengembangkan gemakan dalam tabuhannya sebab pembelajaran pertama ini didominasi oleh Mas Gembung, tetangganya.
Ceritanya, suatu malam, selepas menghadiri tirakatan di rumah tetangga yang akan menikahkan anaknya. Sepulang dari tirakatan itu, Mas Guru Bonang ngobrol dulu dengan seorang tetangga, Mas Gembung namanya. Ia adalah keluarga muda yang secara ekonomi boleh dibilang mapan. Ia sangat membanggakan anaknya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar tapi sudah memiliki rasa “malu” yang super tinggi.
Siswa kelas satu yang mendatangkan guru les khusus membaca itu konon “merasa malu” jika diantar ayahnya dengan motor merek X yang ia punyai. Padahal, motor tersebut jika dibandingkan dengan motor milik Mas Guru Bonang kondisinya jauh lebih bagus. Berarti Mas Guru Bonang “tidak memiliki kemaluan eh rasa malu” sehingga kalah telak. Setidak-tidaknya jika dibandingkan dengan siswa sekolah dasar yang membaca saja susah tapi konon menurut ayahnya nilainya bagus-bagus, antara delapan dan sepuluh itu.
Apa lagi ketika Mas Gembung kembali memuji anaknya dalam hal penampilan. Si anak itu, ketika akan bepergian selalu dandan necis. Ia sangat berlama-lama di depan cermin. Rambutnya selalu mengkilap dengan minyak rambut. Tidak lupa ketiaknya selalu dicrot-crot dengan minyak wangi. Pokoknya “bocah banget deh”. Hal ini yang harus dipelajari oleh Mas Guru Bonang. Sebagai seorang guru, ia jarang sekali mambu minyak wangi. Apalagi memakai minyak rambut. Minyak jlantah saja ora kambon. Dalam hal ini Mas Guru Bonang harus mengakui bahwa dirinya harus banyak belajar dari anak itu.
Pembelajaran kedua terjadi pada siang tadi di sebuah Puskesmas Wonogiri. Ketika itu Mas Guru Bonang mengantar anaknya untuk cabut gigi. Di situ Mas Guru Bonang bertemu dengan seorang pedagang asongan. Dengan kaos lusuhnya, ia menenteng buah waluh (labu) dalam plastik. Sejenak pedagang itu berdiri di depan mas Guru Bonang dan menyalami. Yap. pedagang itu sudah lama Mas Guru Bonang kenal tetapi sudah belasan tahun tak bertemu. Tepatnya, pada waktu itu Mas Guru Bonang masih mengajar di SDN 1 Wonogiri. Sedangkan pedagang asongan itu adalah seorang wali murid kelas dua di mana Mas Guru Bonang mengajar.
Rumah pedagang itu cukup jauh jaraknya dengan sekolah. Jaraknya lebih dari lima belas kilometer dari kecamatan luar kota. Ia sangat beruntung punya anak yang sangat cerdas. Anaknya selalu menduduki peringkat pertama. Sambil lalu Mas Guru Bonang menanyakan perihal mantan muridnya itu. Dengan rendah hati dan polos pengasong buah waluh itu menyatakan puji syukurnya kepada Tuhan karena anaknya kini tengah menunggu saat wisuda. Ia telah lulus menjadi sarjana kedokteran dari universitas tertua dan ternama di negeri ini. Lagi-lagi Mas Guru Bonang harus belajar dalam hal ini.
Wonogiri, 180518

0 Response to "Budaya - BELAJAR"
Post a Comment