-->

Budaya - BELAJAR DARI BILANGAN

Budaya - BELAJAR DARI BILANGAN
Budaya - BELAJAR DARI BILANGAN

BELAJAR DARI BILANGAN

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA - Jawa itu pasemon, tidak nglegena atawa vulgar. Semua yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan serba isyarat, sinandi. Termasuk juga bilangan, angka.

Mengapa ketika bilangan patlikur (dua puluh empat) tidak disebut lima likur (dua puluh lima) tetapi selawe? Selawe itu dapat diurai menjadi Semandhinge Lanang Wedok (bersandingnya laki-laki dan perempuan), berumah tangga.

Pada usia dua puluh lima, adalah usia yang mapan bagi seseorang. Pada usia ini baik fisik maupun mental sudah matang. Maka sudah sepantasnya jika orang berumah tangga di sekitar usia ini. Memang, mengenai usia tidak mutlak, artinya bisa mundur atau maju. Namun, bilangan selawe itu memang sebagai patokan seseorang untuk berumah tangga sangatlah pas.

Ketika usia dua puluh lima seseorang berumah tangga, misalnya dua tahun kemudian mempunyai anak dan dua tahunnya lagi anaknya mempunyai adik, berarti orang tuanya masih dalam usia produktif ketika merawat dan membesarkan anak-anaknya itu. Dan ketika orang tua memasuki manula, anak-anaknya sudah memasuki masa dewasa. Selaras.

Bilangan yang nyeleneh berikutnya adalah seket. Mengapa tidak limangpuluh untuk menyebut bilangan lima puluh itu? Pada usia lima puluhan, para bapak sudah senang memakai iket (seneng nganggo iket, seket). Iket disini bisa berarti kopiah atau penutup kepala ketika seseorang menjalankan salat bagi kaum Adam dan jilbab untuk kaum Hawa untuk kesehariannya termasuk beribadah tentunya. Maksudnya, pada usia lima puluhan ini seseorang telah sadar untuk memikirkan bekal untuk menghadap Gustinya. Rajin ibadah.


Mereka sudah banyak meninggalkan kesenangan dunia. Adanya hanya tunduk dan tawaduk. Selalu rukuk dan sujud. Seolah saat itu juga diriya akan menghadap pengadilan Yang Maha Tinggi.
Selanjutnya, adalah bilangan suwidak (enam puluh). Suwidak berarti sampun wancinipun tindak (sudah saatnya pergi). Ya, ketika usia telah memasuki bilangan tersebut benar-benar sudah warning. Siap-siap ketika malaikat pencabut nyawa mengambil ruh yang dititipkan pada raga.

Ketika raga telah tak bernyawa putuslah hubungan dengan segala urusan dunia. Tinggal menunggu panggilan untuk ditimbang dalam sebuah pengadilan mengenai semua perbuatan selama hidupnya di dunia. Dan semuanya tidak bisa dimanipulasi. Tak ada setitikpun dari kelalaian catat. Semua tersusun rapi dan kita tidak punya alibi.

Wonogiri, 310715

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - BELAJAR DARI BILANGAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel