Budaya - BAHASA JAWA CURES
Tuesday, 22 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - BAHASA JAWA CURES |
BAHASA JAWA CURES
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Menurut Prof Dr Sri Edi Swasono akan berbahaya kalau suatu bahasa (dalam hal ini bahasa Jawa) hanya tinggal menjadi bahasa lisan. Jika tidak ada bahasa tulisnya, suatu ketika akan lenyap (Kedaulatan Rakyat (26/7). Padahal sebenarnya penutur bahasa Jawa pun setiap hari berkurang kuantitasnya.
Sebagai pengingat, masih dalam hitungan hari, di saat menjelang lebaran, kita kebanjiran saudara-saudara kita yang mudik dari boro. Bila kita perhatikan, berapa persen dari mereka yang menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi saban harinya?
Belum lagi, mari iseng-iseng berkumpul dengan ibu-ibu muda yang mengantar anaknya ke PAUD atau TK. Bahasa apa yang digunakan?
Perihal bahasa tulis (termasuk sastra), sastrawan Arswendo Atmowiloto pernah berujar bahwa sastra Jawa telah mati. Pendapat itu bisa jadi benar atau setidaknya mati suri dan entah kapan bisa siuman. Lebih lanjut, pada kesepatan beda Arswendo mengungkapkan bahwa memang sastra Jawa bakal mati tetapi roh budaya Jawa tetap hidup. Hidupnya roh budaya Jawa bisa di mana saja, seperti pada karya-karya seni; seni pertunjukan, seni patung, seni ukir dan lain-lainnya. Bahkan, Bandung Mawardi pernah berpendapat, Sastra Jawa tanpa bahasa Jawa.
Berdasar kenyataan di atas bisa dikatakan bahwa basaha dan sastra Jawa sudah cures, ditinggal empunya.
Bicara tentang bahasa dan sastra Jawa memang tidak pernah habis-habisnya. Bahasa Jawa lebih sering menjadi objek dari pada perannya sebagai bahasa itu sendiri, seperti pada seminar-seminar dengan seabrek makalah. Bahasa Jawa sangat ribet bagi para penutur muda (pemula) karena banyak kaidah-kaidah yang mengaturnya. Bagaimana menggunaan bahasa antara penutur satu dengan penutur lainya yang sesuai berdasarkan usia, keakraban, kedudukan dan juga sosial ekonomi.
Belum penempatan bahasa yang pas sesuai dengan kaidah norma seperti untuk menyebut kata makan; mangan, maem, njelak, mbadhog, nguntal, nedha, dhahar. Hal ini memang sangat merepotkan. Namun itulah keunggulan bahasa Jawa yang tidak dimiliki bahasa lain. Mestinya, sebagai orang Jawa kita justru bangga dengan kekayaan bahasa kita. Lha ini tanggung jawab siapa?
Berdasarkan Rancangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9 Tahun 2012 Tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa menyatakan bahwa beberapa strategi kebijakan pelindungan, pembinaan, dan pengembangan bahasa, sastra, dan aksara Jawa dilaksanakan melalui upaya di lingkungan pendidikan nonformal, keluarga dan masyarakat, meliputi: (a) meningkatkan perhatian, dukungan dan bantuan kepada paguyuban, paheman, yayasan, dan sanggar-sanggar dalam melindungi, membina dan mengembangkan bahasa, sastra, dan aksara Jawa; (b) meningkatkan kegiatan apresiasi dan kompetisi melalui lomba-lomba mengenai pemakaian, penggunaan bahasa Jawa, serta penulisan aksara Jawa; (c) memberikan penghargaan kepada sastrawan, pelestari, dan pegiat bahasa, sastra, dan aksara Jawa yang berprestasi; (d) memberikan perhatian, dorongan, dan dukungan terhadap berkembangnya penerbitan media massa berbahasa Jawa; (e) memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia yang didampingi dengan aksara Jawa untuk penamaan tempat dan bangunan yang bersifat publik; (f) memasyarakatkan dan membiasakan penggunaan bahasa Jawa dalam situasi yang tidak resmi.
Semoga niat baik pemerintah daerah Jawa Tengah untuk melestarikan dan upaya peningkatan terhadap bahasa, sastra, dan aksara Jawa itu bukan isapan jempol semata. Sehingga apa yang dikhawatirkan Prof Dr Sri Edi Swasono, Arswendo dan Bandung Mawardi tidak terjadi. Dus, diharapkan bahasa Jawa tidak cures tetapi bisa lestari bahkan kuncara hingga akhir jaman.
Wonogiri, 260715

0 Response to "Budaya - BAHASA JAWA CURES"
Post a Comment