Novel - TENTANG HIDUP # BIOGRAFI EKO HARTONO # 16
Wednesday, 11 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - TENTANG HIDUP # BIOGRAFI EKO HARTONO # 16 |
TENTANG HIDUP
Bagian 16
Oleh: Parpal PoerwantoHidup adalah air. Mengalir tidak pernah henti melalui siklus abadi. Datang pergi silih berganti. Begitu juga manusia. Senantiasa lahir dan lahir kembali. Setiap generasi pergi, saat itu pula generasi baru datang mengganti.
Hidup adalah perjalanan panjang untuk mencapai kehidupan sejati. Dalam perjalanan panjang tersebut fase demi fase harus dilewati, berbanding lurus dengan bertambahnya usia. Banyak kejadian dan peristiwa yang menghiasi setiap fase kehidupan. Ada kalanya sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan. Namun, ada pula yang menyedihkan dan menestapakan.
Dari kedua peristiwa yang saling berlawanan itulah ada hikmah tersembunyi yang mana bila kita bisa mengambil dan memaknainya akan berbuah hasil yang manis. Namun demikian, semua keinginan kadang tidak sesuai dengan harapan. Bila itu yang terjadi maka kita jangan sampai terpuruk, kita harus tetap semangat. Kita yakin itu hanya kebahagiaan atau keberhasilan yang tertunda belaka.
Hidup adalah biji tumbuhan. Sebutir biji keluar dari seekor burung berupa kotoran. Dari kotoran itu kemudian tumbuh menjadi sebatang pohon kecil. Awalnya hanya berdaun dua, empat dan kemudian tumbuh besar dan bercabang-cabang hingga rimbun sekali. Saking rimbunnya, dapat mengayomi semua yang ada di bawahnya, baik dari hujan maupun dari terik matahari.
Berbagai burung bisa mencari makan dan tinggal di dahannya. Kemudian dari akarnya yang menancap di tanah keluarlah sumber air kehidupan. Itulah tumbuhan ringin. Anak-anak adalah masa depanku. Mereka adalah biji-biji beringin yang bersemi di tengah keluarga kecilku. Mereka adalah “dendamku” terhadap keadaanku untuk meraih cita-cita agung di dunia ini.
Anak-anak adalah senjata andalanku untuk meraih cita-cita yang “gagal” oleh kondisi atau keadaan. Kepada merekalah estafet kehidupan keluargaku kugantungkan. Untuk itu, sejak kecil mereka kudidik dengan kedisiplinan tinggi. Misalnya dalam urusan bermain.
Waktu itu anak-anakku suka sekali dengan permainan pedang seperti pasukan samurai dari Jepang. Kubiarkan mereka bermain sepuasnya. Namun, ketika selesai bermain mereka harus menaruh pedang-pedangnya di tempat masing-masing. Begitu juga dengan mainan lainnya seperti mobil-mobilan, robot-robotan, dan mainan anak-anak lainnya. Ketika bermain boleh saja lantai kotor dan berantakan. Ketika usai bermain tempat harus bersih dan alat mainan harus dibereskan di tempat semula. Saatnya mandi, makan, dan belajar anak-anak tidak perlu disuruh.
Akan tetapi, namanya juga anak-anak, kadang-kadang memang juga bikin ulah. Misalnya jika bermain sepak bola tidak kenal waktu, sudah maghrib baru pulang. Kadang-kadang si Aim juga sering tidak mengerjakan PR sehingga mendapat hukuman dari guru. Sebenarnya semua itu masih kuanggap wajar-wajar saja. Mudah-mudahan aku tidak salah menafsir.
Satu lagi tentang kedisiplinan adalah dalam hal beribadah. Aku sudah tanamkan kepada anak-anak untuk menjalankan salat dan puasa sejak kecil. Kami sering salat berjamaah sekeluarga. Untuk mengisi dan menyirami kalbu, aku sering putarkan radio yang acaranya pengajian utamanya selesai salat shubuh berjamaah. Hal ini kulakukan agar aku tidak terkesan menggurui kepada istri dan anak-anakku. Selain itu, aku jujur bahwa ilmu agamaku sangat kurang.
Aku berusaha bukan hanya bisa menyuruh atau mengajari kepada anak-anakku. Dalam bidang ibadah misalnya, aku selalu berusaha salat tepat waktu dan menjadi imam salat. Puasa ramadhan pasti. Selain itu aku juga tidak pernah lupa menjalankan puasa sunat senin-kamis, atau sekurang-kurang tiga hari dalam sebulan, terkecuali bila kondisiku sakit.
Kembali ke hidup. Hidup harus dijalani, apapun keadaannya. Semua yang Tuhan beri kesempatan untuk hidup di dunia pasti memiliki manfaat atau kegunaan. Tidak ada yang sia-sia. Begitu juga dengan kehidupanku. Walaupun kondisi fisikku tidak normal, aku bertekad mensyukuri hidupku dengan semampunya untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Untuk itu kubangun mimpi. Mimpi bukan sekedar mimpi. Mimpi adalah bentuk keberanian manusia untuk menyusun langkah agar menjadi kenyataan.
Jatuh bangun aku mengejar mimpi. Beberapa kali terjatuh tidak membuatku patah semangat. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya ketika naskah-naskahku di-retur dan diboikot oleh media karena kesalahanku. Hal itu akan membuatku lebih dewasa untuk melangkah dan mengambil sikap dalam berkarya dan bertindak.
Mengenai kesalahanku sehingga diboikot oleh media ini sering kali aku ungkapkan kepada anak-anakku. Tujuannya agar anak-anakku dapat menjunjung tinggi nilai sportifitas. Sportifitas di sini bisa diartikan dengan menjunjung sifat-sifat yang luhur, berwatak ksatria, bijaksana, bisa menekan emosi dan jangan mementingkan diri sendiri.
Uang bukan segala-galanya. Namun uang juga harus diusahakan karena tanpa uang yang cukup kita akan pintang melangkah. Begitu juga mengenai naskah-naskahku yang di-retur juga aku tunjukkan kepada anak-anakku. Hal kumaksudkan agar mereka tidak menganggap remeh segala suatunya. Bahwa aku bekerja itu juga ada gagalnya. Bahwa tidak semua harapan itu akan berubah menjadi kenyataan. Hal ini sangat berkaitan dengan mutu karya yang kuhasilkan. Karena hanya karya yang baik saja akan dimuat di media cetak. Selain itu tentunya ada kekuatan diluar nalar manusia, yakni Tuhan yang Maha Menentukan. Tuhan bisa membolak-balikkan nalar dan pikiran manusia.
Sudah kukatakan di awal bahwa aku menderita penyakit DMP (distrofia muskulorum progresinya). Menurut dokter, orang yang terkena penyakit itu umurnya tidak lebih dari 20 tahunan. Alhamdulillah, atas izin dan kemurahan Tuhan aku masih bisa bertahan hidup hingga umur di atas 40 tahun. Bahkan di usia itu aku merasa baik-baik saja. Aku juga jarang sakit, meskipun kadang-kadang waktuku terporsir untuk mengejar target, misalnya untuk memburu deadline ketika mengikuti lomba mengarang.
Untuk mengejawantahkan rasa syukurku kepada Tuhan, aku senantiasa beribadah sesuai rukun yang telah ditentukan agama yang aku anut. Sebagai muslim insya Allah aku selalu menjalankan empat rukun islam yang pertama. Perihal rukun islam yang terakhir sebenarnya aku juga sangat ingin bisa menuaikan. Akankah harapan ini bisa mewujud? Hanya Tuhanlah yang Mahatahu.
Jika dihubungkan dengan kesehatan dan usiaku yang melebih prakiraan dokter, mungkin banyak faktor penyebabnya. Pertama, aku menjalani hidup ini dengan sumeleh atau berserah diri secara total kepada Tuhan. Tuhanlah tumpuan terakhir ikhtiar manusia. Tidak ada kekuatan di luar-Nya. Semua makhluk bergantung pada-Nya. Rasa sumeleh akan membawa kita untuk berbuat yang tidak-tidak. Rasa sumeleh akan membawa hidup serasa aman dan tenteram karena merasa ada yang melindungi, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa.
Rasa sumeleh membawa manusia berjalan tanpa rasa was-was. Tanpa ada rasa ragu untuk menentukan pilihan karena yakin bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Jadi, yang penting di dalam hidup ini kita jalani dengan apa adanya tetapi tidak keluar dari hukum-hukum Tuhan.
Sebagai seorang pengarang, aku senantiasa menekuni duniaku sebagai sumber kehidupan. Aku tidak akan mengharap yang lebih. Sebab harapan dan asaku bergantung kepada anak-anakku. Aku selalu mengarahkan mereka bukan mendikte. Aku memberi wawasan kepada mereka bukan mengebiri. Semua langkah dan jalan yang hendak mereka tempuh, asalkan semua itu masih dalam ketentuan Tuhan, silakan saja dilaksanakan. Artinya, bukan karena aku seorang pengarang kemudian anak-anakku kucetak menjadi seorang pengarang. Meskipun suatu saat mereka ada yang menjadi pengarang itu kehendak mereka sendiri.
Seorang pengarang tak ubahnya seorang pencerita lewat media tulis. Sering aku sampaikan kepada mereka tentang apa yang dikatakan Wiwien T. Wiyonoputri (Once upon a time: Coaching by story telling, Cermin Ilalang) yang mengutip pendapat Debra Benton, penulis buku “How to Think Like a CEO” dan “Lions don’t Need to Roar” menyebutkan bahwa kemampuan bercerita merupakan satu dari sekian kualitas utama yang dibutuhkan seseorang yang ingin berada di puncak.
Banyak sekali contoh orang yang berhasil mencapai puncak karena pandai bercerita, misalnya Soekarno, Gus Dur, Ronald Reagen, Abe Lincoln dan masih banyak lagi. Hal ini sering kuceritakan kepada anak-anakku agar mereka bisa mengambil intinya. Aku berharap, apapun kelak profesi anak-anakku kalau bisa juga menjadi seorang pencerita, meskipun melalui media tulis, alias menjadi pengarang.
Kedua, apabila hal itu dihubungkan dengan pola makan, aku memang tidak suka makan jerohan hewan yang konon banyak mengandung racun-racun yang tidak baik untuk kesehatan tubuh. Aku juga tidak makan secara berlebihan bahkan suka puasa senin-kamis. Aku juga jauh dari minuman keras dan narkoba. Jangankan minuman keras dan narkoba, merokok saja belum pernah aku lakukan.
Aku juga tidak suka makanan yang terlalu pedas. Pokoknya semuanya yang wajar-wajar saja. Namun apakah karena hal ini akan membuat orang bisa panjang umur dan tidak mudah jatuh sakit? Kalau jawabannya iya, sebaiknya bisa ditiru atau diterapkan oleh siapa saja.
Bicara mengenai minuman keras dan narkoba, aku merasa heran bahwa anak-anak muda sekarang dengan bangganya dengan barang haram yang dilarang oleh agama tersebut. Banyak sekali orang-orang ternama akhirnya jatuh dan terpuruk oleh barang haram tersebut. Dalan hal ini, aku selalu wanti-wanti kepada anak-anakku agar benar-benar bisa menjauhi barang larangan agama tersebut.
Sekali lagi, aku benar-benar bersyukur diberi umur yang cukup panjang melebihi vonis dokter. Maka kunikmati sisa umur ini dengan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan terus berkarya. Di usia berkepala empat ini aku bisa mengambil hikmah bahwa hidup ini ternyata perjuangan. Sekian puluh tahun aku berjuang, pahit getir telah aku rasakan. Sekarang, perjalanan ini insya Allah masih panjang. Anak-anakku masih butuh banyak pembiyayaan. Mudah-mudahan Tuhan memberi kesempatan dan kemudahan.
Hidup ini selalu aku nikmati dan syukuri. Sebagai pengarang aku wujud rasa syukur telah aku buktikan untuk terus berkarya. Melalui berkarya aku bisa menyampaikan gagasan dan buah pikiranku kepada masyarakat pembaca. Mudah-mudahan karya-karyaku bermanfaat sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat.
Melalui ilmu yang bermanfaat, walau sekecil apapun, mudah-mudahan dapat sebagai bekal kelak di hari akherat. Konon katanya ilmu bermanfaat akan mengalir terus pahalanya sehingga mengantarkan manusia itu mencapai surga. Siapa insan di dunia ini yang tidak menginginkan surga? Aku yakin, sebagai insan ber-Tuhan, manusia merindukan akan surga itu.
Ya, inilah kisah hidupku. Penuh kekurangan dan liku-liku hidup. Harapanku, mudah-mudahan kisah hidupku ini bisa memberi kemanfaatan, terutama bagi mereka yang senasib seperti diriku.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - TENTANG HIDUP # BIOGRAFI EKO HARTONO # 16"
Post a Comment