Novel - TENTANG ANAK # BIOGRAFI EKO HARTONO # 15
Tuesday, 10 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - TENTANG ANAK # BIOGRAFI EKO HARTONO # 15 |
TENTANG ANAK
Bagian 15
Oleh: Parpal PoerwantoTanpa terasa sudah berjalan 17 tahun rumah tangga kujalani bersama Parmi. Kami dikarunia dua anak laki-laki kembar yang lahir pada tanggal 6 Oktober 1996 di rumah bersalin Nambangan, Selogiri. Kami memberinya nama Abdurrahman Arif Wicaksono yang biasa dipanggil Aan dan Abdurrahim Budiman Wicaksono yang biasa dipanggil Aim. Dengan tambahnya dua anggota keluarga baru memang sempat membuat kami repot dan kewalahan. Untunglah ibuku ikut membantu merawat dan mengurus anak-anakku.
Suka duka telah kami lalui dalam membina rumah tangga. Berbagai riak, friksi, dan perbedaan pendapat terkadang muncul, tetapi kami bisa melalui semua itu dengan saling pengertian dan memahami satu sama lain. Hal itu tidak mudah memang. Faktor usia yang terpaut 8 tahun cukup membuat jarak komunikasi yang merepotkan. Selain itu di antara kami belum saling mengenal satu sama lain sebelumnya juga membutuhkan penyesuaian dan pengertian. Salah satu harus ada yang mau mengalah demi kebaikan bersama.
Satu hal yang membuat aku salut dengan istriku adalah kesabaran dan ketegarannya dalam mendampingiku. Padahal tak jarang kami menghadapi berbagai persoalan dan kesulitan yang datang menghadang, terutama dalam soal ekonomi dan mengurus anak-anak. Mengingat penghasilanku sebagai pengarang amat minim, bahkan terkadang dalam satu bulan hanya satu atau dua tulisanku yang dimuat di media. Dia pun berusaha membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berjualan makanan kecil. Pendeknya, segala kesusahan dan kesulitan kami hadapi sama-sama. Jika tidak ada rasa pengertian dari istriku, mungkin sudah berantakan rumah tanggaku. Tapi justru deraan kesulitan dan cobaan itu menjadikan kami lebih dewasa dan arif dalam bertindak.
Aku selalu menanamkan keyakinan pada istriku bahwa rejeki sudah diatur oleh Tuhan. Semua makhluk di muka bumi ini sudah dijamin rejekinya dari Tuhan. Jadi tidak perlu ada rasa khawatir. Manusia pasti bisa makan selama dirinya mau berusaha. Karena Tuhan sudah menyediakan rejeki bagi hamba-hamba-Nya yang mau berusaha.
Pernah kami mengalami kondisi yang cukup menyesakkan dada dan benar-benar dalam himpitan berat. Kami memiliki hutang yang nilainya tidak kecil dan harus segera dibayar.
Pada saat kritis itulah tiba-tiba datang berita menggembirakan naskahku menang dalam sebuah lomba. Tak terlukiskan betapa senang dan besar rasa syukurku kepada Tuhan. Ternyata Tuhan tidak pernah melalaikan doa hamba-Nya! Tuhan benar-benar menepati janji-Nya bahwa barang siapa yang memohon pada-Nya, niscaya akan dikabulkan doanya itu. Itu senjata yang selalu aku andalkan setiap menghadapi persoalan dan kesulitan hidup.
Dari pengalaman-pengalaman hidup tersebut akan lebih memantapkan keimanan dan keyakinanku kepada Tuhan. Aku senantiasa hidup bersandar pada keyakinan kepada Tuhan. Istri dan anak-anakku pun tak henti kuingatkan agar tidak lupa beribadah kepada Tuhan. Karena nilai-nilai religius ini akan menjadi pondasi hidup yang kokoh bagi manusia. Manusia tanpa agama dan keimanan akan merasa hampa dan bisa kehilangan arah.
Semua gerak dan kejadian di muka bumi ini ada dalam garis takdir-Nya. Manusia yang berjalan bersama Tuhan di sampingnya tidak akan merasa resah dan bimbang. Keberhasilan dan kegagalan tak lepas dari rencana Tuhan. Kegagalan bagian dari ujian dan keberhasilan pun bagian dari ujian. Dengan berpegang pada keyakinan ini kita tidak akan terlalu down ketika gagal, pun tidak sombong dan jumawa saat keberhasilan diraih. Dengan demikian kita merasa tenteram dan tidak ragu untuk melangkah dan mengambil keputusan.
Bagiku hidup ini tak lebih dari proses belajar dan menjalani. Seperti air yang mengalir, aku berusaha mengikuti arah perjalanan air tanpa harus terhanyut atau tenggelam. Aku pernah mengalami masa-masa sulit menjalani profesi mengarang seperti ketika tulisan di-retur, waktu terbuang, kesempatan terlewatkan, diboikot oleh media massa, dan berbagai kegagalan menyertai langkahku. Namun semua itu kuanggap sebagai proses belajar. Suatu proses yang harus dijalani oleh seorang pengarang agar tetap eksis.
Hadup tidak selamanya di atas atau di bawah. Jadi, ketika masa-masa senang datang, tidak selamanya hal itu akan terus kita nikmati. Untuk itu aku selalu siap bahwa apa yang kita dapatkan pada hari ini, belum tentu akan aku raih di hari-hari mendatang. Hanya saja, aku tetap menanamkan rasa optimis pada diri ini. Rasa optimis akan memadang segala sesuatu dari sisi positif.
Ketekunan dan ketelatenan dalam menjalani profesi mengarang yang meski terus dijaga. Aku berusaha menjalani rutinitas mengarang tanpa banyak pertanyaan dan rasa bosan. Kujaga ritme mengarang dengan setiap hari menulis tanpa memikirkan apakah karyaku nanti bakal dimuat di media atau tidak. Aku harus memiliki bank naskah yang sewaktu-waktu bisa kukirimkan ke media atau mengikuti lomba.
Aku dan istriku telah berencana tidak akan memiliki banyak anak, karena pertimbangan kemampuan ekonomi kami yang terbatas. Memang rejeki itu dari Tuhan, orang Jawa bilang setiap anak membawa rejeki masing-masing. Namun aku mesti punya pertimbangan matang dan pemikiran jauh ke depan.
Keinginan memiliki keturunan harus dibarengi dengan tanggung jawab dan tujuan yang hendak dicapai. Jangan sampai anak-anak yang datang dari benih kita kelak akan menjalani kehidupan yang berat. Karena anak adalah amanah. Kita mesti memikirkan pendidikannya, masa depannya, dan akhlak kepribadiannya. Sehingga kelak di hari akhir kita dapat mempertanggung-jawabkan amanah itu di hadapan Tuhan.
Memiliki dua anak laki-laki sekaligus memang suatu anugerah, meski juga tersirat sebuah tanggung jawab tidak ringan. Aku dan istriku berusaha mengasuh mereka dengan sebaik-baiknya. Walau dibilang kembar dan hanya memiliki satu ari-ari waktu lahir, tapi kedua anakku ini sepertinya bukan kembar identik. Wajah dan perawakan mereka tidak sama. Yang satu wajahnya oval dan satunya agak bundar, yang satu tubuhnya agak kurus dan satunya lebih gemuk.
Sifat mereka juga agak berlainan. Prestasi di sekolah pun tidak sama. Yang namanya Aan prestasinya lebih baik dari Aim. Jika Aan mendapat rangking tiga, maka Aim dapat rangking sepuluh. Hal itu terjadi dari kelas satu sampai kelas enam. Begitu juga ketika mereka duduk di SMP. Prestasi mereka pun tak jauh berbeda hingga mereka masuk di SMA. Aan bisa diterima di sekolah favorit sedangkan Aim tidak. Namun, aku berusaha untuk menghargai sama terhadap keduanya.
Dalam bersikap dan berperilaku juga tidak sama. Si Aan lebih kalem, konsentrasi, dan tenang, sedang saudaranya suka terburu-buru, tidak konsentrasi, dan tidak tenang. Mungkin ini yang dinamakan pembawaan sifat dari lahir atau bakat. Menurut analisaku, Aan berbakat menjadi seorang pemikir atau birokrat, sementara Aim berbakat jadi arsitek atau teknokrat.
Aim suka bercerita yang kesannya bombastis dan berlebihan (penuh imajinasi dan daya khayal), dia juga suka membongkar barang-barang mainan. Semua barang mainan di rumah rusak oleh tangannya. Jika disuruh membaca buku agak susah, menulis kata atau kalimat pun kadang masih suka keliru. Dia pernah mengalami kesulitan membaca pada saat kelas 3. Akan tetapi aku tidak berusaha membanding-bandingkan di antara mereka. Aku selalu menekankan bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan talenta masing-masing. Orang tua hanya bisa mengarahkan dan memberi bimbingan.
Menghadapi dua anak kembar yang berbeda karakter ini memang gampang-gampang susah. Mereka suka berantem dan bersaing satu sama lain. Suka iri satu sama lain, tapi bukan dalam hal pakaian. Karena keduanya kadang malah tidak mau jika disuruh memakai baju sama.
Aku pun memperlakukan mereka sama, dalam arti adil dan tidak melebihkan satu dari yang lain. Namanya anak laki-laki, mereka pun berwatak keras tetapi juga memiliki disiplin yang baik. Kadang aku dan istriku bersikap keras, dalam arti tegas pada mereka. Walau demikian, aku berusaha menghindari untuk melontarkan ucapan kotor, makian, atau merendahkan pada anakku, meski hati ini marah dan kesal karena ulah mereka. Sebab, kata-kata kotor dan perlakuan tidak baik kepada anak-anak akan membekas selama hidupnya, dan mungkin bisa mempengarahui pola hidupnya di kemudian hari.
Aku memang menerapkan sikap disiplin pada anak-anakku. Sejak usia 7 tahun aku membiasakan mereka menjalankan salat lima waktu, mengajari mereka membaca Iqro (mengaji), dan menemani mereka belajar setiap malam. Aku memang ingin menanamkan pendidikan agama pada mereka sedari kecil. Karena agama atau keimanan adalah pondasi dasar hidup manusia. Setiap terdengar suara azan dari masjid, aku perintahkan anak-anakku berangkat ke masjid atau salat berjamaah bersama ayah-ibu di rumah.
Alhamdulillah, kebiasaan itu sampai sekarang masih dipatuhi anak-anakku meski salat mereka belum sepenuhnya bisa khusuk, tapi paling tidak mereka sudah punya kesadaran untuk tidak melalaikan kewajiban beribadah. Saat bulan Ramadhan sejak duduk di kelas tiga SD pun mereka sudah kuat melaksanakan puasa sehari penuh sampai akhir bulan.
Mendidik anak mesti dengan teladan dan contoh. Maka, sebagai orang tua aku pun memberikan teladan yang baik pada anak-anakku. Aku tidak akan memerintahkan pada anak-anakku yang aku sendiri tidak melakukannya. Seperti salat lima waktu, bersikap jujur, berbuat baik pada tetangga, disiplin, rapi, bersih, dan perilaku-perilaku baik lainnya.
Aku punya kebiasaan dan pola hidup sehari-hari yang bisa dilihat langsung oleh anak-anakku. Setiap hari aku bangun pada subuh, terkadang juga lebih awal untuk mengerjakan salat tahajud atau menulis. Setiap pagi dari jam tujuh atau delapan hingga pukul duabelas siang menghadapi komputer, mengetik. Meski aku bukan pekerja formal, tapi aku ingin memberi kesan pada anak-anakku bahwa orang tuanya bekerja.
Aku menjalani pola hidup sehat, yakni tidak merokok dan gemar berpuasa (paling tidak tiga hari dalam satu bulan atau puasa senin kamis). Aku suka membaca di sela waktu luang, baca Al Quran, koran atau buku. Menyaksikan acara-acara di televisi yang bermuatan edukatif seperti siaran berita, talk show, atau hiburan yang tidak berbau pornoaksi atau pornografi. Acara pagelaran musik yang menampilkan penyanyi atau penari seronok aku tidak suka, walau aku juga suka mendengarkan lagu.
Aku suka mendengarkan siaran ceramah agama di radio, biasanya saat pagi hari habis Subuh. Aku tidak suka begadang dan tidak suka melakukan kegiatan yang bersifat pemborosan atau menyia-nyiakan waktu. Siang hari jam satu sampai asar aku beristirahat, karena badanku kalau terlalu lama duduk di kursi roda juga tidak baik. Aku biasa tidur setelah jam sembilan malam.
Dengan menjalani kebiasaan hidup yang teratur ini aku juga sekaligus ingin mendidik anak-anakku. Mereka bisa melihat sendiri kebiasaan orang tuanya yang mungkin bisa mereka ikuti. Memang anak-anak kadang susah untuk disuruh atau diperintah oleh orangtuanya untuk mengikuti apa yang menurut orang tua baik, tapi dengan memberikan contoh dan teladan, lama-lama anak akan memahami dan secara tidak disadari akan tertanam di benak mereka. Kelak jika mereka dewasa akan bercermin dari sikap dan perilaku orang tuanya.
Aku tidak terlalu memproyeksikan kelak anak-anakku menjadi apa. Memang, anak-anak adalah masa depanku, masa depan keluargaku. Namun, soal cita-cita tergantung pada anak-anak itu sendiri, yang penting mereka menjadi orang sholeh dan berguna bagi kehidupan bersama. Anak-anak yang menjadi subjek zaman bukan sebagai victim peradaban. Anak-anak yang kelak sebagai generasi penerus bagi bangsa dan negaranya. Dalam hal ini, orang tua hanya bisa menjadi fasilitator, motivator, dan pendorong bagi tercapainya cita-cita anak sesuai kemampuan yang ada.
Memiliki orang tua cacat mungkin menjadi suatu hambatan dan beban tersendiri bagi seorang anak. Namun syukur alhamdulillah, sampai saat ini anak-anakku tidak ada yang merasa malu atau terbebani oleh kondisi ayahnya. Mereka cukup memiliki rasa percaya diri dan tidak minder dengan keadaanku. Malah mereka kadang suka membanggakan aku di hadapan teman-temannya.
Semua temannya dan tetangga di desa kami sudah tahu dengan keadaanku, jadi hal itu bukan lagi suatu hambatan bagi mereka. Mereka tidak lagi memandang aku dengan kondisi yang cacat, malah ada yang beranggapan kalau aku seperti pegawai. Tiap bulan dapat kiriman uang, padahal tidak seperti yang mereka bayangkan! Ha ha ha…
Aku sebenarnya berharap punya anak perempuan yang bisa menjadi pelipur hati dan pelengkap kebahagiaan rumah tangga. Namun aku menyadari terlalu berat bagi istriku jika harus hamil lagi. Dia sudah cukup berat mengurus aku dan kedua anakku serta mengurus rumah tangga. Keinginan itu pernah aku utarakan kepada istriku. Namun istriku menghiburku dan berkata bahwa memiliki anak laki-laki dan perempuan sama saja. Aku mengangguk, tetapi hatiku sebenarnya masih merasa kurang lengkap jika belum memiliki anak perempuan. Aku berdoa untuk diberika jalan keluar.
Tuhan mendengar doa dan keinginanku. Kebetulan adik bungsuku yang belum lama menikah melahirkan seorang bayi perempuan. Dia menitipkan bayinya pada orangtuaku untuk diasuh, sementara adikku merantau ke Jakarta. Bayi bernama Sekar itu diasuh oleh ibuku dan istriku bergantian. Anak itu menganggap aku dan istriku seperti orangtua sendiri. Aku pun menganggapnya sudah seperti anakku sendiri. Dia memanggilku bapak dan istriku mama. Jadi, kurasa keinginanku memiliki anak perempuan sudah terwujud dari hadirnya keponakanku itu.
Beginilah hidupku. Tidak ada yang istimewa tapi malah banyak kekurangan. Cela dan dera yang menerpa sewaktu kecil hingga remaja membentuk pola pikir yang sangat tertanam di jiwaku. Sebagai pengarang yang pernah mengalami kejadian di-black list aku berusaha menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Ini menjadi semacam kaca benggala dalam pikir dan tindakanku. Aku selalu berusaha berpandangan bahwa hidup membutuhkan kejujuran. Membutuhkan keadilan. Jujur serta adil terhadap diri sendiri dan orang lain.
Memang susah hidup di masyarakat luas. Sudah lazim jika kita kekurangan atau kesusahan orang lain memandangnya dengan negatif. Namun ketika kita hidup dalam kemudahan materi, mereka akan menghormat seolah-olah materilah yang akan menjadikan semua keinginan terwujud, termasuk kebahagiaan hidup. Padahal kita semua tahu, banyak contoh manusia terjerumus ke lembah kesengsaraan dan kehancuran disebabkan oleh materi. Di sinilah perlu adanya kontrol. Kontrol tersebut tidak ada lain kecuali mendekatkan diri kepada Tuhan.
Harapanku ke depan, karir kepengaranganku tetap eksis dan bisa meraih kesuksesan. Aku sangat berharap bisa menerbitkan buku lagi dan mendapatkan royalti. Aku sangat berharap bisa menulis skenario untuk film agar kesejahteraan hidup yang kuimpikan bisa tercapai. Syukurlah walaupun hanya untuk film televisi aku sudah mencoba dan bisa. Mudah-mudahan kelak aku bisa menulis skenario film layar lebar agar keinginanku untuk bisa membiayai sekolah anak-anakku hingga perguruan tinggi terwujud.
Anak-anakku kuusahakan untuk bisa mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik, tidak seperti orangtuanya yang tak mampu menggapai pendidikan tinggi dan harus bersusah payah mengarungi hidup. Biar bagaimana pun bekal yang terbaik bagi anak-anak adalah pendidikan, baik itu pendidikan di sekolah maupun di rumah dan masyarakat. Karena tantangan hidup ke depan akan lebih berat. Persaingan dan kesulitan semakin besar. Manusia yang cerdas, terampil, sekaligus berakhlakul karimah adalah faktor penentu keberhasilan!
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - TENTANG ANAK # BIOGRAFI EKO HARTONO # 15"
Post a Comment