Novel - SUKA MENCOBA # BIOGRAFI EKO HARTONO
Monday, 9 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - SUKA MENCOBA # BIOGRAFI EKO HARTONO |
SUKA MENCOBA
Bagian 14
Oleh: Parpal PoerwantoPengalaman adalah pelajaran hidup yang sangat berharga. Dari pengalaman orang dapat memetik hikmat sehingga dapat menentukan langkah berikutnya agar hidupnya lebih terarah dan maju. Memang tidak semua pengalaman hidup itu manis. Namun, ada kejadian-kejadian tertentu yang mengesankan dan sayang untuk dilupakan begitu saja.
Satu lagi pengalaman yang cukup mengesankan adalah saat aku mengikuti lomba menulis Cerkak (cerita pendek berbahasa Jawa). Meski hanya menjadi pemenang harapan V tetapi hal ini sebuah surprise tersendiri. Pasalnya, selama ini aku terbiasa menulis karangan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Meski aku orang Jawa, tetapi jujur saja aku tidak terlalu menguasai bahasa Jawa. Waktu masih sekolah aku mendapat nilai jeblok dalam Bahasa Jawa.
Akan tetapi, sebagai pengarang yang bersuku Jawa sepertinya kurang afdol bila tidak bisa menulis karangan dalam bahasa Jawa. Banyak teman-teman pengarang yang bisa menulis dalam bahasa Indonesia sekaligus bahasa Jawa seperti Roes Wardiyatmo, Keliek Eswe, Daniel Tito, Budi Wahyono, Parpal Poerwanto, Tri Wiyono (almarhum), Didit Setyonugroho, dan lain-lain.
Oleh karena itu ketika kubaca sebuah pengumuman tentang lomba menulis cerkak, ini menjadi tantangan sendiri. Aku mulai belajar menulis karangan berbahasa Jawa. Pada prinsipnya menulis karangan dengan bahasa apa pun sama. Hanya yang penting kita mesti menguasai kosa kata dan tata bahasa bersangkutan. Aku pun memulainya dengan membaca media yang menggunakan bahasa Jawa seperti majalah Panjebar Semangat atau Jagad Jawa (Solopos).
Aku juga tak segan bertanya kepada teman pengarang utamanya Mas Budi dan Mas Parpal melalui SMS tentang arti kata dalam bahasa Jawa yang tidak kumengerti atau menerjemahkan dari Indonesia ke Jawa. Dari proses belajar sambil berkarya ini, akhirnya aku bisa menulis cerpen dan opini dalam bahasa Jawa. Dan surprise-nya saat ikut lomba menulis Cerkak (cerita pendek berbahasa Jawa) yang diadakan Yayasan Karmel, Malang (Pebruari 2008) seperti yang kuungkapkan di muka.
Selanjutnya, tulisanku berupa cerpen dan opini dalam basa Jawa sering muncul di dua media cetak yang kusebutkan di atas. Ini melengkapi kapasitasku dalam berkarya sebagai pengarang. Seorang pengarang, bagiku, harus banyak mencoba dan jangan hanya berpaku pada apa yang telah diraih.
Aku memang suka mencoba dengan terus belajar. Kalau awalnya aku belum bisa menulis Cerkak akhirnya aku bisa dan bahkan berhasil menang lomba. Oleh karena itu, ketika aku mendapat informasi dari teman bahwa Dinas P dan K Provinsi Jawa Tengah mengadakan Penulisan Naskah Cerita Anak aku merasa tertantang. Menulis naskah (drama) terus terang belum pernah kulakukan sebelumnya. Untuk itu aku belajar dengan membaca naskah drama karya Putu Wijaya. Terus terang aku meniru gaya penulisannya. Alhasil, pada lomba tahun 2007 tersebut naskahku yang berjudul Imbang mendapat juara tiga.
Naskahku juga dijadikan buku bersama naskah pemenang lainnya yaitu Kumpulan Naskah Lakon Terpilih (Lomba Penulisan Naskah Drama Tahun 2007), Seksi Kebahasaan Subdin Kebudayaan Dinas P dan K Provinsi Jawa Tengah. Sekarang ini, aku telah merambah untuk menulis sinopsis dan skenario untuk film televisi (FTV). Setidaknya sudah ada dua judul karyaku untuk FTV. Pertama berjudul Suparman Mencari Cinta yang sudah ditayangkan di televisi swasta dan satunya lagi berjudul Ganteng-Ganteng Gokil yang sekarang baru proses produksi. Mudah-mudahan di hari-hari mendatang naskah-naskahku kembali dapat dibuat FTV dan ditayangkan di televisi.
Tulisanku mungkin tidak memiliki bobot sastra dan tidak terlalu istimewa sebagaimana karya pengarang-pengarang terkenal tetapi hal itu tak lantas mengecilkan arti dari proses kreatifku sebagai pengarang atau penulis. Aku mengalami secara langsung persaingan keras dalam dunia media massa. Tulisanku yang berhasil dimuat di beberapa media tanpa embel-embel kepopuleran nama, dukungan sponsor, rekomendasi, klik, apalagi relasi dengan komunitas pengarang.
Aku menjalani proses seleksi alam yang murni. Kalau tulisanku jelek ya tidak bakal dimuat, kalau bagus ya dimuat. Beberapa kali dimuat di media sama bukan jaminan seterusnya akan lebih mudah. Aku mendapat perlakuan sama seperti penulis lainnya saat mengirim tulisan ke media. Bahkan pernah tulisanku beberapa kali ditolak oleh suatu media, padahal sebelumnya cerpen-cerpenku kerap dimuat di media itu. Namun, hal ini akan membuatku terpacu untuk lebih semangat belajar dan berkarya, bukan sebaliknya. Aku berusaha selalu positif thinking. Artinya, jika tulisanku tidak dimuat itu berarti disebabkan kualitasnya kurang bagus sehingga memang tidak layak untuk dimuat.
Karena mengarang adalah pilihanku. Agar tetap eksis berarti aku harus siap menghadapi situasi semua itu. Bukan lantas berkecil hati sehingga mematikan produktivitas sendiri.
Aku jarang membeli majalah atau koran, mengingat anggaranku yang terbatas dan kondisi geografis tempat tinggalku yang jauh dari kota, sehingga terkadang ketika tulisanku dimuat aku tidak tahu sama sekali. Pernah tulisanku dimuat di sebuah koran terbitan Yogyakarta dan lewat setahun honornya tidak dikirim. Aku baru tahu ketika cerpenku itu dikutip dalam pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa SMK. Untunglah Mas Budi Wahyono seorang pengarang yang juga guru SMK, sering memantau karangan-karangan di media memberitahu aku sehingga aku dapat meminta hakku berupa honor.
Sejak ada jaringan seluler di kampungku, secara intensif aku mulai bisa berkomunikasi dengan teman-teman sesama pengarang. Melalui merekalah aku bisa mengakses informasi tentang berbagai lomba-lomba mengarang. Lagi-lagi Mas Budi-lah yang sering mengabari aku tentang lomba-lomba mengarang dan juga memberitahu jika ada tulisanku yang dimuat di media. Pernah 3 buah cerpenku yang dimuat di tabloid terbitan Jakarta mengendap tanpa turun honornya. Kalau saja tidak diberitahu Mas Budi mungkin sudah menguap. Beruntunglah aku punya teman-teman pengarang yang baik hati. Hubungan persahabatan di antara pengarang bisa menjadi cambuk semangat tersendiri. Karena kami bisa saling bertukar informasi dan memotivasi.
Prestasi yang kuraih di Depag itu tidak lantas menjadi titik klimaks dari perjuanganku bergelut di dunia mengarang. Aku justru tertantang untuk berbuat lebih banyak lagi. Aku termotivasi untuk terus berkarya. Berbagai lomba yang diadakan di media massa atau institusi aku ikuti. Dengan memenangi lomba selain mendapatkan hadiah juga memberikan kebanggaan dan kepuasan tersendiri.
Di antara beberapa lomba mengarang yang pernah kumenangkan yaitu tiga kali menjadi pemenang harapan dalam Lomba Mengarang Dongeng dan Cerita Misteri di Majalah Bobo (2006,2007), pemenang Harapan III Penulisan Naskah Cerita Anak yang diadakan Dinas P dan K Provinsi Jawa Tengah (2006), Juara III Penulisan Naskah Drama Bahasa Indonesia 2007, Dinas P dan K Propinsi Jawa Tengah, Pemenang Harapan V Lomba Menulis Cerkak (cerpen bahasa Jawa) yang diadakan Yayasan Karmel, Malang (2008), Juara Harapan IV Lomba Menulis Cerpen Ikatan Tionghoa Indonesia (INTI), Jakarta (2008) dan terakhir Juara Harapan IV Penulisan Naskah Drama Bahasa Indonesia 2008, Dinas P dan K Propinsi Jawa Tengah, dan masih banyak lagi yang tak kusebutkan di sini.
Dari semua kemenangan lomba itu aku mendapatkan hadiah yang lumayan. Mulai dari 500 ribu hingga 25 juta rupiah. Selain itu, ada tiga buah buku cerita anak yang telah terbit dari hasil mengarangku. Ketiga buku tersebut adalah Anak-anak Rimba, Misteri Bangunan Tua, dan Lari Dari Rumah. Semuanya diterbitkan oleh penerbit Tiga Serangkai Solo tahun 2005. Namun, ketiga naskah itu aku jual putus, masing-masing seharga 1 juta rupiah. Keputusan jual putus ini kulakukan semata-mata agar dapur istriku tetap ngebul. Agar kami sekeluarga tidak kelaparan.
Bagaimanapun masalah kebutuhan keluarga harus diutamakan. Sebenarnya ada perasaan sayang untuk menjual putus naskah-naskah tersebut. Inilah, kadang-kadang jalan pintas yang harus dilakukan oleh seseorang demi kelangsungan hidup keluarganya meskipun sebenarnya sangat bertentangan dengan keinginan. Seumpana ketiga naskah tersebut tidak dijual putus kemungkinan hasilnya akan lebih banyak. Di sisi lain aku tetap bersyukur. Pada saat posisi terjepit, ternyata ada pertolongan. Bisa dibayangkan bila saat itu naskahku tidak dibeli maka apa yang terjadi? Bisa lebih fatal, bukan?
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - SUKA MENCOBA # BIOGRAFI EKO HARTONO"
Post a Comment