-->

Novel - RESEP AWET TRENGGINAS # KI WARSINO - BIOGRAFI

Novel - RESEP AWET TRENGGINAS # KI WARSINO - BIOGRAFI
Novel - RESEP AWET TRENGGINAS - KI WARSINO - BIOGRAFI
TAMAN TEMBANG DAN SASTRANOVELSahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan Taman Novel. Kali ini disajikan sebuah biografi yaitu Empu Dalang M. Ng. Warsino Guno Sukasno, yang ditulis oleh Parpal Poerwanto. Selamat membaca.  

RESEP AWET TRENGGINAS

Oleh: Parpal Poerwanto

Manusia hidup ini ada yang menjalankan. Ada yang menghidupkan. Manungsa saderma nglakoni, kadya wayang umpamane. Wayang itu tergantung dalangnya. Dalangnya manusia ya Tuhan. Nasib seseorang hanya Gusti Allah yang tahu. Begitu juga dengan usia manusia. Banyak yang mengatakan bahwa aku awet muda. Itu sebenarnya tidak benar. Kalau panjang umur mungkin betul. Alhamdulillah, Tuhan memberi kesempatan kepadaku untuk momong anak-putu dalam waktu yang cukup panjang.

Banyak kalangan yang menilai bahwa aku sebagai dalang ruwat maupun dalang wayang kulit pantas diberi sebutan sebagai Empu Dalang sehingga perlu ditulis kisah perjalanan hidupnya. Mungkin hal didasarkan atas kecintaanku terhadap seni budaya Jawa. Selain itu, berbagai piagam penghargaan ikut mengokohkan pandangan itu. Penghargaan yang aku terima di antaranya Tanda Kehormatan Satyalencana Kebudayaan dari  Presiden Republik Indonesia tahun 2003 atas jasa dalam melestarikan seni pedalangan yang mampu menjaga lestari pakem pedalangan, demi kemajuan seni pedalangan Indonesia, Piagam Penghargaan Pemerintah Indonesia atas prestasi yang luar biasa dalam bidang Hadiah Seni dari Menteri Pendidikan, Seni dan Kebudayaan RI tahun 1999, dan Piagam Penghargaan sebagai dalang sepuh yang telah banyak mengabdikan diri terhadap perkembangan Seni Pedalangan Wayang Kulit pada Musda Ganasidi TK I Jawa Tengah yang ke-7 tahun 1999. Selain itu  juga mendapat gelar dari Adipati MangkunegaraIX. Pangkat Mantri dengan sebutan Mas Ngabehi Warsino Guno Sukasno didapatnya pada tanggal 3 April 2001. Setahun kemudian, pangkatku naik menjadi Wedono sesebutan Ngabehi tepatnya pada tanggal 23 Maret 2002.

Banyak pula orang yang bertanya mengapa sampai usia di atas delapan puluhan tahun aku masih bisa menjalankan aktivitas. Misalnya mengruwat jika ada orang yang membutuhkan tenagaku. Semua itu sebenarnya tidak ada resep khusus. Aku juga tidak mempunyai rahasia atau ramuan apa yang membuat badan ini tetap sehat walafiat sampai sekarang.

Kalau hal itu dihubungkan dengan hal makan, mungkin ini hanyalah sebuah kebetulan atau kebiasaan saja bahwa aku memang tidak suka makan jerohan hewan dan minum minuman keras. Jangankan minuman keras, kopi saja aku tidak minum. Namun apakah karena hal ini akan membuat orang bisa panjang umur? Kalau jawabannya iya, sebaiknya bisa ditiru oleh siapa saja.

Bicara mengenai  minuman keras, aku merasa heran bahwa anak-anak muda sekarang dengan bangganya minum minuman yang dilarang oleh agama tersebut. Kadang ada sebagian orang yang beranggapan bahwa dunia seni hiburan termasuk pedalangan dekat dengan minuman keras. Padahal, tanpa minuman keras pun aku bisa menjadi dalang yang bertahan cukup lama meskipun sekarang tinggal mendalang untuk ruwatan. Aku katakan bisa bertahan cukup lama karena dalang seusiaku sudah banyak yang meninggal dunia. Di Wonogiri ini tinggal Ki Sutino Haro Carito dari Eromoko. Itu pun umurnya masih di bawahku kira-kira enam tahunan.

Selain tentang makanan, ada hal yang lebih penting adalah dalam menjalani hidup ini yaitu dengan fikiran sumeleh. Rasa sumeleh akan membawa kita untuk tidak neka-neka. Rasa sumeleh akan membawa ketenteraman hidup karena merasa ada yang melindungi, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Rasa sumeleh membawa kita berjalan bagaikan arus air. Jadi, yang penting di dalam hidup ini jangan kemaruk, artinya mengharapkan sesuatu yang bukan ukurannya. Sesuatu di luar kemampuannya. Misalnya saja seorang guru. Kerjakanlah tugas kewajibanmu sebagai guru jangan menginginkan sesutau jabatan yang diatasnya. Kecuali kalau Tuhan mengijikan dan memberi kesempatan si guru tadi naik pangkat. Seperti halnya diriku.

Aku telah dirakdirkan menjadi dalang. Ya mestinya perlu perjuangan sesuai kemampuan dan kemantapan hatiku ketika masih muda dulu. Hal itu aku perjuangkan karena aku merasa ada kemampuan. Selain itu ada keyakinan bahwa ada aliran darah dalang di tubuhku yang insya Allah telah ditetapkan Tuhan demikian adanya. Setelah menjadi dalang, aku tidak pernah berpikir untuk menjadi yang lain. Bayangkan saja, pada masa revolusi mencari pekerjaan di lingkungan pemerintah masih banyak dibutuhkan. Pada waktu itu, dengan guruku, Gito Sewoko, aku bisa dekat dengan Bung Karno. Seandainya aku menginginkan untuk menjadi pegawai negeri  mungkin jalan pun terbuka lebar.

Sekali lagi, aku benar-benar bersyukur diberi umur yang cukup panjang. Maka kunikmati sisa umur ini dengan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di usia senja ini aku bisa mengambil hikmah bahwa hidup ini ternyata perjuangan. Sekian puluh tahun aku berjuang, pahit getir telah aku rasakan. Sekarang, anak-putuku bisa ikut menikmati perjuangan ini. Anak-anakku ada enam orang dan telah memberikan putu empat orang. Rasa bahagia tidak bisa dibayangkan.

Rasa bahagia itu selalu aku nikmati dan syukuri. Sebagai seniman aku wujud rasa syukur telah aku buktikan untuk nguri-uri budaya Jawa. Salah satunya adalah tradisi wayangan di hari kelahiranku. Sedangkan sebagai insan manusia aku tidak lupa menjalankan kewajibanku sebagai muslim.

Sekarang aku benar-benar sumeleh di sisa hidup ini. Sebagai orang yang beriman tentu aku juga menginginkan hidup yang enak di alam kelanggengan nanti. Bangun pagi aku menjalankan sholat shubuh. Selesai sholat tidak lupa berdoa memohon kepada Tuhan agar diampuni dosa-dosa yang telah aku perbuat. Demikian juga dosa-dosa istri-istriku dan anak-cucuku. Aku juga mohon agar mereka itu (istri, anak, dan cucu) diberi murah rezeki dan lancar dalam usaha. Tidal lupa aku mohonkan kepada Tuhan atas keselamatan di dunia dan akherat.

Agar badan ini tetap sehat, aku juga olah raga yaitu jalan kaki. Jarak yang aku tempuh kira-kira satu kilometer pulang-pergi. Untuk ukuran umurku, tentu sudah cukup olah raga ini. Rutenya dari rumah hingga jalan raya kemudian kembali ke rumah lagi. Selesai olah raga aku minum teh dan makan bubur baru kemudian mandi pagi.


Jika tidak ada tanggapan aku biasanya duduk santai sampai sholat dhuhur. Kadang-kadang juga melayani tamu. Oh ya, tamuku macam-macam. Ada yang sekedar ingin ngobrol-ngobrol hingga yang mempunyai keperluan. Mereka berlatarbelakang macam-macam. Ada yang pedagang, petani, pengusaha, seniman, bahkan pejabat pemerintah.

Belum lama ini aku kedatangan tamu jauh. Ia adalah temanku dan sudah lebih dua puluh tahun tidak bertemu. Rumah tamuku ini Semarang. Ia sengaja datang hanya ingin bertemu dan ngobrol-ngobrol.

Sudah menjadi kebiasaan jika makan siang sekitar jam 12.00. Biasanya aku juga makan bubur di waktu siang. Kadang-kadang juga makan nasi tetapi dibuat yang lembek supaya mudah dicerna. Lauk kesukaanku adalah ikan kali dan tahu goreng. Selesai makan siang baru sholat dhuhur. Tidak lupa berdoa untuk keselamatan diri dan keluarga.

Untuk menjaga kesehatan aku butuh istirahat. Aku selalu rutin tidur siang antara satu sampai dua jam setiap harinya. Ini tentunya jika tidak ada tanggapan. Kalau sedang ngruwat tentu tidak bisa istirahat siang. Kan, kebanyakan orang ngruwat di siang hari. Seperti biasa, setelah bangun tidur siang aku duduk-duduk sambil melayani tamu kalau ada.

Sudah aku katakan bahwa jadwal makanku selalu kuperhatikan. Kalau tidak sedang bepergian atau ada kepentingan, makan soreku sekitar jam 18.00. Sekarang menunya sama dengan menu makan siang. Hal ini baru aku jalani sekitar sepuluh tahun lalu. Dulu, ketika umurku masih 70 tahun ke bawah, aku makan apa saja. Semua makanan tidak ada yang aku sirik kecuali jerohan. Untuk yang satu itu aku memang tidak suka. Selesai makan sore mengerjakan sholat maghrib.

Kesukaanku makan adalah dengan lauk ikan kali terutama nila dan lele. Jika keinginan untuk makan nasi dengan lauk ikan lele atau nila tentu tidak ada yang bisa mencegah. Siapapun anggota keluarga tentu maklum akan hal ini. Kadang-kadang aku juga berpikir ternyata aku agak rewel dalam urusan yang satu ini. Namun, untuk membuang jauh-jauh kebiasaan itu bukan merupakan hal mudah. Nyatanya sampai saat ini jika keinginan itu muncul, aku tidak bisa mengekang keinginan itu. Jadi, jika aku kepingin makan dengan lauk ikan nila atau lele ya suruhan anak supaya mencarikan.

Selesai sholat maghrib aku tidak segera berdiri. Aku bermunajad kepada Tuhan hingga datang waktu isyak dan mengerjakannya. Sehabis sholat isyak aku tidak segera tidur. Aku tidak pernah tidur malam di bawah jam dua belas malam. Malah, kalau kesehatanku tidak terganggu aku bisa bertahan hingga jam 01.00 dini hari.


Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel - RESEP AWET TRENGGINAS # KI WARSINO - BIOGRAFI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel