Novel - JAMBU BIJI # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI
Tuesday, 10 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - JAMBU BIJI # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA – NOVEL – Sahabat Taman Tembang dan Sastra,
berjumpa kembali dengan Taman Novel. Kali ini disajikan sebuah biografi yaitu
Empu Dalang M. Ng. Warsino Guno Sukasno, yang ditulis oleh Parpal Poerwanto.
Selamat membaca.
JAMBU BIJI
Oleh: Parpal Poerwanto
Terpaan berat dalam menjalani kehidupan telah aku rasakan sejak
kanak-kanak. Kejadian demi kejadian itu tidak membuatku tersiksa atau merasa
tertekan menjalaninya. Malah sebaliknya, semua itu aku jalani untuk memupuk
semangat dan daya juang dalam menempuh kehidupan. Bahkan, keadaan itu sekaligus bisa digunakan untuk
latihan lelaku. Yang namanya puasa bukan asing lagi buatku. Bahkan, aku sudah
terbiasa tidak makan dan tidak minum berhari-hari. Itu semua memang juga
membutuhkan latihan. Awalnya satu hari aku puasa. Kemudian satu hari satu
malam. Ketika sudah terbiasa, aku mulai tiga hari tiga malam tidak makan-minum.
Selanjutnya, atas kuasa Gusti Allah aku bisa bertahan tidak makan minum selama
empat puluh hari.
Ketika aku bercita-cita menjadi dalang, lelaku itu semakin mantap kujalani.
Bahkan bukan itu saja. Aku mulai sering nepi memohon kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah agar apa yang kuinginkan benar-benar terkabul, yaitu menjadi dalang.
Bagiku, jalan kaki sudah merupakan kebiasaan sehari-hari. Ke manapun aku
mendalang, jika tidak terjangkau kendaraan umum tentu kutempuh dengan jalan
kaki. Berapapun jauhnya. Dengan jalan kaki otot akan terlatih dan aliran darah
menjadi lancar sehingga tidak mudah terserang penyakit. Namun, aku pernah mengalami
suatu kejadian yang memaksaku harus jalan kaki ratusan kilo meter. Mungkin ini
berbeda dengan perjalanan ke Gunung Lawu yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Perjalanan kali ini benar-benar terpaksa. Sebab, waktu itu kondisi badan sangat
lelah sebab semalaman tidak tidur karena mendalang di Pendapa Kabupaten
Ponorogo. Padahal, malam selanjutnya aku harus mendalang lagi di Polres
Wonogiri. Kejadian ini terjadi sebelum G 30 PKI meletus.
Persiapan ke Ponorogo sudah matang. Aku berangkat dengan anak buahku yang berjumlah empat orang. Waktu itu aku katakan kepada panitia bahwa aku mau tampil jika diijinkan membawa niyaga empat orang. Masalah kekurangan niyaga, aku pasrahkan sepenuhnya kepada panitia. Keempat niyaga yang aku ajak ikut serta adalah Guno Taruno, Martoyoso, Suwarno, dan Suloto. Ada alasan lain mengapa orang-orang itu aku ajak ikut serta. Kemahiran mereka di bidangnya membuatku merasa lebih sreg tampil. Terutama pengendangku yang bernama Guno Taruno serta penabuh gender Martoyoso. Keduanya sangat piawai memainkan tabuhannya masing-masing.
Tampil di kota Ponorogo bukan yang pertama bagiku. Sudah berulang kali aku
mendalang di wilayah ini. Namun, tampil di pendapa Kabupaten Ponorogo terus
terang baru kali itu.
Singkatnya, pentas di Ponorogo sukses. Aku membawakan lakon dari cerita
Ramayana yang mana banyak menampilkan tokoh kethek. Pada waktu itu aku sudah
mahir memainkan tokoh kethek. Namaku sebagai Dalang Kethek mulai banyak
dibicarakan orang. Maka tidak heran penonton malam itu penuh berjubel.
Keesokan harinya, ketika sudah usai aku berlima segera pamitan kepada
Bupati Ponorogo. Setelah menerima uang tanggapan segera berangkat menuju
terminal hendak naik bus jurusan Solo. Sayang, saat itu bus telah berangkat.
Padahal, itu adalah satu-satunya bus menuju Solo. Kami berusaha mengejarnya
namun sia-sia. Tidak ada pilihan lain kecuali jalan kaki untuk pulang ke
Wonogiri kalau tidak mau gagal tampil di Polres Wonogiri malam hari nanti.
Aku bisa menduga tentang apa yang tengah terlintas di pikiran anak buahku.
Mereka pasti merasa berat jika harus berjalan kaki ratusan kilo meter dalam
kondisi badan lelah dan mengantuk. Jika tidak jalan kaki, bagaimana mungkin
akan sampai di Wonogiri? Lagi pula, pasti mendapat marah dari Kapolres
Wonogiri. Jangan-jangan malah bisa dianggap mbalelo. Maklum waktu itu suasana
politik sangat genting. Bisa saja orang yang tidak tahu menahu tentang politik
jika “dianggap salah” tentu akan dicap mbalelo. Dan sanksinya tentu berat.
Pernah terlintas di pikiran untuk jalan kaki sendirian. Sedangkan keempat
anak buahku bermalam di Ponorogo dan keesokan harinya bisa pulang naik bus.
Namun ketika aku ungkapkan, ternyata usulku itu ditentang oleh Guno Taruno. Ia
mengatakan bahwa resiko ini harus ditanggung bersama. Apalagi nanti malam keempat
orang itu juga akan mengiringiku pada pagelaran wayang malam nanti. Atas saran
ini aku menyetujuinya. Akan tetapi, apakah mereka nanti kuat menempuh ratusan
kilometer dengan jalan kaki pada saat kondisi badan yang kurang menguntungkan?
Bukan berarti bermaksud untuk menyombongkan diri jika aku katakan bahwa
diriku sudah terbiasa jalan kaki ratusan kilo meter jauhnya. Namun, bagaimana
dengan anak buahku yang berjumlah empat itu? Jika sampai mereka tidak kuat
melanjutkan perjalanan tentu akulah yang harus bertanggung jawab.
Apapun yang terjadi aku harus bisa mengatasi. Bisa saja sebenarnya mereka
aku tinggalkan. Sementara mereka
menyusul jalan kaki pelan-pelan semampunya. Akan tetapi, itu jelas bukan
tindakan bijaksana. Itu namanya lepas tangan dari tanggung jawab yang
seharusnya dijunjung tinggi. Sebab, sebagai dalang, aku juga merupakan ketua
rombongan, sebagai pemimpin. Lagi pula, kalau toh aku bisa sampai di Polres
Wonogiri tepat waktu, siapa nanti yang akan mengiringiku dalam mendalang
sebelum mereka datang? Bukankah mereka itu niyaga yang kemahirannya jarang
ditandingi waktu itu?
Akhirnya, dengan tekad bulat kami berlima melangkahkan kaki. Jalanan yang
terjal serta naik turun semakin menambah perjalanan semakin tersiksa.
Lebih-lebih keempat anak buahku. Sesekali kulihat adikku yang bungsu, Suloto,
menyeka keringat di keningnya. Dalam situasi seperti ini aku mencoba memancing
banyolan. Dengan banyolan kuharapkan bisa menghibur sehingga perjalanan ini
tidak terlalu menyiksa.
Dari keempat anak buahku itu hanya Guno Taruno dan Martoyoso yang terbiasa
jalan kaki. Sedangkan kedua adikku yaitu Suwarno dan Suloto belum terbiasa.
Jadi, sangatlah beralasan jika perhatianku sangat tercurah kepada mereka
berdua.
Sementara, rasa haus dan lapar semakin memberatkan perjalanan kami.
Sebentar-sebantar ada saja alasan dari Suloto dan Suwarno untuk minta
istirahat. Jalannya pelan dan sedikit terpincang-pincang. Ditambah lagi dengan
terik matahari semakin menyengat. Maklum, waktu itu musim kemarau. Pepohonan
pelindung jalanan meranggas. Yang ada hanyalah semilirnya angin kemarau yang
terasa panas dan gersang. Lebih parah lagi, persediaan makan dan minum telah
habis. Untuk jajan makanan atau minum jelas tidak ada. Waktu itu jalan
Ponorogo-Wonogiri masih melintasi hutan-hutan. Rumah penduduk pun masih jarang.
Belum tentu empat atau lima kilometer menemu
rumah penduduk atau perkampungan.
Untung saja aku bisa menguatkan semangat anak buahku. Aku katakan kepada
mereka bahwa semua tugas yang telah dipercayakan kepada kita hakekatnya adalah
tugas dari Tuhan. Karena kita telah memilih jalan hidup sebagai seniman, maka
apapun rintangannya harus kita atasi. Untuk itu, kataku lagi, mari kita niat
ingsung menempuh perjalanan ini dengan semangat.
Anak buahku kembali semangat. Baru saja beberapa langkah kami melanjutkan perjalanan, setelah sekian kalinya istirahat, tiba-tiba dihadapi kami ada tiga buah jambu biji. Ketiga buah jambu biji itu seperti ditata karena letaknya saling berdekatan. Kami berlima berhenti. Melihat sekeliling barangkali ada yang punya. Namun, tidak terlihat satu orang pun yang berada di tempat itu. Selanjutnya kami mencari letak pohon jambu itu. Kami yakin bahwa pohon jambu itu berada di sekitar tempat ini. Anehnya, tidak ada satupun pohon jambu biji yang berada di tempat itu.
Kami kemudian berembuk. Aneh memang. Hanya masalah jambu biji saja sampai
diadakan berembuk. Namun hal itu tidak menjadi aneh jika situasi waktu itu
benar-benar sangat menentukan. Sudah aku katakan tadi bahwa rasa lapar dan haus
sangat menyiksa kami berlima. Pertimbangan kami, buah jambu itu dimakan atau
tidak. Kalau dimakan, jangan-jangan itu milik orang lain. Tentu tidak baik
makan milik orang lain. Namun, ketika melihat kenyataan bahwa di sekitar itu
tidak ada orang serta tidak ada pohon jambu, tentu jambu itu tidak ada
pemiliknya. Nah, kesimpulan kami waktu itu bahwa jambu biji itu tidak ada
pemiliknya dan boleh dimanfaatkan.
Kemudian, kami juga bingung menentukan. Sebab, jumlah jambu itu hanya tiga
buah. Sementara kami jumlahnya ada lima orang. Nah, atas saran dari Guno Taruno
pembagian jambu itu sebagai berikut. Satu buah untukku, kemudian yang dua buah
dibelah menjadi dua kemudian dibagikan kepada empat orang. Alhamdulillah,
setelah makan buah jambu biji itu seperti ada kekuatan lebih. Kami berlima
kembali semangat untuk melanjutkan perjalanan.
Kami sampai di pendapa Polres Wonogiri pukul tujuh malam. Waktu itu banyak
orang mencemaskan keberadaan kami. Sudah ada utusan untuk menjemput ke Dung
Gebang Baturetno tetapi mendapat jawaban bahwa aku tidak ada di rumah.
Dikatakan bahwa kemarin aku berangkat ke Ponorogo karena undangan Bupati
Ponorogo untuk mendalang di sana.
Pandangan mata penuh tanda tanya menyambut kedatangan kami. Namun tidak ada
satupun yang berani menyapa dengan kata-kata kasar. Mungkin mereka melihat
kondisi kami waktu itu. Kami berempat bagaikan bala tentara yang baru saja
pulang dari medan laga. Selain kelihatan lusuh dan kotor, sorot mata kami
menunjukkan suatu kelelahan yang begitu sangat. Kemudia kami menjelasan sebab
alasan tentang keterlambatan datang. Mendengar semua itu, sepertinya tidak ada
kemarahan. Malahan sepertinya ada rasa kagum atas kesanggupan kami dalam
mengemban amanat.
Selanjutnya, seperti ada kekuatan baru untuk mendalang malam itu. Semua
rasa capai dan penat selama perjalanan berangsur-angsur hilang. Kulihat pula
ada sinar berseri pada diri keempat anak buahku. Mereka kembali bersemangat
seperti ketika tampil di tempat lain. Malam itu aku sukses membawakan lakon
Wahyu Kastuba Urip, sebuah lakon hasil buah pikiranku.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai
jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - JAMBU BIJI # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI"
Post a Comment