Novel - BANYAK JARUM # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI
Wednesday, 11 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - BANYAK JARUM # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI |
BANYAK JARUM
Oleh: Parpal PoerwantoSudah aku katakan bahwa situasi dan alam dunia pedalangan jaman dulu sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan jaman sekarang. Dulu, yang namanya dalang harus siap lahir batin. Dalang harus punya “sangu” agar tidak kewirangan di atas panggung. Apakah hal ini masih terjadi di jaman sekarang? Belum pernah aku mendengar ada dalang yang dipermalukan hingga turun dari panggung. Bukan karena si dalang telah bisa menanggulanginya. Akan tetapi, sekarang ini tidak ada orang jail (iseng) yang suka menjajal terhadap dalang yang tengah pentas.
Sebagai dalang, aku mempunyai prinsip yang aku gunakan sebagai pegangan dalam menjalani (profesi) seorang dalang. Prinsip tersebut yaitu berjiwa besar, sabar, dan tidak mau kewirangan. Ketiga prinsip itu aku pegang teguh. Alhamdulillah aku bisa menjalaninya. Itu semua memang kemurahan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Berjiwa besar artinya, sebagai dalang jangan mudah marah terhadap semua persoalan yang tengah dihadapi. Yakinlah bahwa semua persoalan hanya dapat diselesaikan dengan manah adhem. Yang namanya bergaul dengan orang banyak tentu menemui berbagai persoalan. Baik dari anak-buah atau orang lain seperti penonton serta dalang lainnya.
Sebagai pemimpin terhadap anak buahnya, dalang kadang harus bisa mengalah untuk kebaikan bersama. Sebab yang namanya manusia itu kemauannya tidak sama. Si A ingin diperlakukan seperti ini sedangkan Si B tidak suka dengan perlakukan seperti itu. Jika hal itu terjadi, maka dalang harus segera mengambil tindakan. Dan, kadang tindakan itu mengharuskan kita berjiwa besar, mengalah.
Begitu juga dengan sikap penonton yang kadang suka mengejek atau meremehkan. Kuakui, bahwa cara mendalangku tidak sehebat Narto Sabdo. Aku hanya mempunyai kelebihan di sabet saja terutama ketika menampilkan tokoh kethek. Dalam hal lain tentu banyak kekurangan. Mungkin inilah yang menjadi penyebab para penonton mengejek atau mencemoohku. Ketika hal itu terjadi, aku tidak lekas marah. Aku berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Murah agar mereka tidak mengejekku lagi. Alhamdulillah, biasanya mereka yang suka mengejek itu diam dan mengikuti jalan cerita hingga selesai. Kejadian seperti tidak hanya sekali dua kali. Bahkan yang lebih aneh lagi, aku semakin laris. Sekali lagi, alhamdulillah.
Sekarang bagaimana jika lahannya diserobot oleh orang lain? Dalang harus mempunyai prinsip bahwa rejeki itu sudah ada yang mengatur. Jadi, jangan takut saingan. Kalau saingan itu sehat, mengapa kita harus marah? Kalau misalnya lahannya dimasuki orang, ya harus babat alas lagi. Aku ingatkan pada diriku sendiri untuk tidak mempunyai perasaan apa-apa jika kalian diperlakukan seperti itu. Kuanggaplah semua itu sudah ada yang mengaturnya.
Mengenai kesabaran juga harus dimiliki seorang dalang. Kesabaran ini harus bisa diterapkan baik di atas panggung maupun dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja jika mendengar kasak-kusuk kalau istrinya berselingkuh. Ya jangan langsung antem krama. Carilah waktu yang pas agar bisa menyaksikan sendiri siapa pelakunya. Jadi, jangan mudah menerima kabar yang belum tentu kebenarannya. Dan ketika bisa menangkap basah si pelaku, ya jangan langsung marah. Nasehatilah mereka itu bahwa perbuatan seperti itu tidak dibenarkan agama. Supaya benar, anjurkan saja mereka itu untuk segera menikah secara resmi. Nah, enak bukan?
Di dalam pentas, dalang jangan sampai kewirangan. Dalang adalah tokoh utama dalam pagelaran wayang. Baik jeleknya pertunjukan, dalanglah yang paling bertanggungjawab. Terkadang banyak kejadian iseng yang berusaha menggagalkan pagelaran itu. Sebagai contoh, ketika mau mendalang tiba-tiba gedebog pisangnya tidak bisa untuk menancapkan wayang, tiba-tiba datang angin ribut di atas panggung, datangnya ular yang secara tiba-tiba dan lain sebagainya. Sebagai dalang, tentunya harus bisa mengatasi semuanya itu. Sebab, pada masaku dulu, banyak sekali kejadian-kejadian seperti itu. Dan, jika diungkapkan tentu ada yang berkata tidak percaya sebab tidak masuk akal. Namun, bagi yang menjalaninya tentu berani mengatakan bahwa semua itu benar-benar terjadi.
Sebelum aku melanjutkan bercerita, perlu aku sampaikan bahwa sebenarnya aku tidak menginginkan kejadian-kejadian semacam ini (yang berbau mistis) ditulis. Akan tetapi, rupanya orang yang menulis kisahku ini sangat mendesak dan berusaha mencari nara sumber lain mengenai hal itu dari bekas anak buahku. Karenanya, dengan terpaksa aku perbolehkan kisah-kisah ini ditulis. Tentunya juga kisah-kisah yang berbau mistis pada bagian-bagian lain. Sekali lagi, hal ini terpaksa diungkap bukan untuk bersombong diri atau takabur.
Sebagai contoh misalnya suatu kejadian di Metro Lampung pada tahun 1971. Oh ya, perlu aku sampaikan bahwa selama mendalang di daerah tramsmigrasi (Medan) tidak hanya khusus di tempat itu saja. Aku juga sering masuk ke wilayah lain seperti Metro Lampung dan kota-kota lain yang banyak orang Jawanya. Sebelum pentas aku mengajak anak buahku jalan-jalan mencari angin segar. Mereka itu adalah Jawair, Sutarto, dan Suloto. Berempat berjalan kaki memasuki perkampungan. Pada waktu itu ada sesuatu yang aneh kurasakan. Sepertinya ada kekuatan yang iseng menggangguku. Namun tidak dengan ketiga anak buahku. Mereka seperti tidak merasakan apa-apa. Karena aku merasa terganggu, aku mendatangi sebuah rumah yang menurutku merupakan sumber datangnya kekuatan itu.
Ketika telah sampai di depan rumah, si empunya rumah telah menyambut. Aku segera berkata padanya bahwa jangan menaruh pusaka secara sembarangan. Akan tetapi, si empunya rumah tidak mengakui bahwa dirinya menyimpan pusaka. Aku bersikeras mengatakan bahwa dia punya benda pusaka. Wujudnya seperti keris tetapi tidak berkelok. Orang itu juga bersikeras bahwa yang aku katakan itu tidak benar. Karenanya aku segera menunjuk ke suatu tempat yaitu sebuah lemari yang terletak di ruangan rumah. Aku sarankan unuk membukanya. Entah karena apa orang tersebut menurut saja. Ketika lemari itu dibuka, benar, ada sebilah keris lengkap dengan sarungnya. Kontan orang tersebut bersujud di kakiku. Aku berusaha mencegahnya. Aku katakan padanya bahwa hal itu (bersujud) tidak perlu dilakukan. Toh kita sama-sama manusia.
Kemudian aku meraih keris itu. Sarungnya aku buka. Kelihatan sebilah keris tanpa lekukan berwarna hitam keputihan. Keris itu aku letakkan di atas meja dengan posisi berdiri. Ternyata, tanpa bantuan tanganpun keris itu bisa berdiri sendiri. Sebelum pamitan, aku sempat berpesan kepada yang punya supaya tidak menaruh sembarangan pusaka itu.
Aku melangkah ke penginapan bersama anak buahku. Kami bersiap-siap karena malamnya ada tanggapan di suatu tempat yang tidak jauh dari orang yang punya pusaka tadi. Selepas maghrib kami berangkat. Sesampai di tempat yang punya hajat sudah ramai.
Waktu itu aku naik panggung paling akhir. Kulihat banyak jarum berdiri di tikar panggung itu. Aku terkejut dan kemudian berdoa. Lantas aku menyuruh Sutarto untuk menyingkirkan jarum yang jumlahnya ratusan itu. Sutarto sangat terkejut. Sebelumnya ia tidak melihat semua benda itu. Aku menyarankan untuk tidak banyak bicara. Kemudian Sutarto menyingkirkan jarum-jarum itu. Sementara rekan-rekan lainnya tidak tahu apa yang sedang dikerjakan Sutarto.
Selesai membuang jarum, Sutarto kembali naik panggung. Tidak lama kemudian gamelan pun bertalu pertanda pagelaran telah dimulai. Alhamdulillah, pentasku malam itupun lancar tiada gangguan suatu apa. Yang lebih membanggakan, hampir semua penonton setia menikmati pagelaran wayang hingga aku memainkan golek pertanda pertunjukan sudah selesai.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - BANYAK JARUM # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI"
Post a Comment