-->

Budaya - TAPAL BATAS

Budaya - TAPAL BATAS
Budaya - TAPAL BATAS

TAPAL BATAS

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA - Sejak peradaban manusia lahir, tapal batas merupakan sesuatu hal yang rawan. Bukan hanya sekedar perihal geografis, tetapi lebih dari itu, kesemuanya masuk dalam segi-segi kehidupan. Apalagi yang berhubungan dengan mata pencaharian atau urusan perut tentunya sangat riskan. Salah satu contoh konflik yang terjadi di tapal batas adalah wilayah Pawonsari. Sebelum tahun 2012 nelayan di wilayah Pawonsari sering terjadi konflik antar nelayan yang sifatnya sporadis dan terjadi hampir setiap tahun, hingga menelan kerugian puluhan juta rupiah bahkan ratusan juta rupiah. 

Manusia adalah makhluk sosial yang sekaligus makhluk individu. Keduanya saling muncul dan menguasai sesuai dengan kebutuhan dan keinginan (nafsu). Hal ini pun tidak lepas dari persoalan-persoalan yang terjadi di tapal batas-tapal batas yang membentuk sebuah kawasan tertentu, yaitu di Pawonsari (Pacitan, Wonogiri, dan Wonosari/Gunung Kidul), Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen dan Klaten) serta Karismapawirogo (Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Magetan, Pacitan, Ngawi, Ponorogo).

Perlu diingat, setiap kabupaten/kota memiliki latar budaya dan kondisi alam yang akan membentuk karakter manusianya. Wonogiri sendiri misalnya. Dalam masa pemerintahan Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunagara I, beliau membagi wilayah Kabupaten Wonogiri menjadi lima daerah yang masing-masing memiliki ciri khas atau karakteristik yang digunakan sebagai metode dalam menyusun strategi kepemimpinan. Pembagian wilayah dengan karakteristik berbeda itu adalah: Pertama, Daerah Nglaroh (wilayah Selogiri dan Manyaran). Sifat rakyat daerah ini diibaratkan sebagai bandhol ngrompol yang berarti kuat dari segi rohani dan jasmani, memiliki sifat bergerombol atau berkumpul. Karakteritik ini sangat positif dalam menggalang persatuan dan kesatuan. Rakyat di daerah Nglaroh juga bersifat pemberani, suka berkelahi, membuat keributan, tetapi jika bisa memanfaatkan potensi rakyat Nglaroh bisa menjadi kekuatan dasar yang kuat untuk perjuangan. Untuk itu Raden Mas Said (KGPAA Mangkunegara I) membuat basik perjuangannya di Bumi Nglaroh Selogiri ini.


Kedua adalah daerah Sembuyan (wilayah Baturetno, Wuryantoro, dan sekitarnya), mempunyai karakter seperti kutuk kalung kendho yang berarti penurut, mudah diperintah pimpinan atau mempunyai sifat paternalistik. Ini membutuhkan pemimpin yang kuat, merakyat, dan bijaksana agar dicintai rakyatnya. Jika rakyat sudah cinta pada pemimpinnya maka apa pun yang menjadi program pemerintah (pemimpin) akan dilaksanakan dengan senang hati.

Ketiga adalah daerah Wiroko (merupakan wilayah sepanjang kali Wiroko masuk wilayah kecamatan Tirtomoyo). Masyarakat di daerah ini mempunyai karakter seperti kethek saranggon yang berarti mempunyai kemiripan seperti sifat kera yang suka hidup bergerombol, sulit diatur, mudah tersinggung, dan kurang memperhatikan tata krama dan sopan-santun. Jika didekati mereka kadang kurang mau menghargai orang lain, dan jika dijauhi mereka akan sakit hati. Gampang-gampang susah. Ini membutuhkan pendekatan yang sifatnya familiar, intens, dan harus bisa menjaga jarak. Ibaratnya jika dekat jangan terlalu dekat, jika jauh ya jangan jauh-jauh.

Keempat adalah daerah Keduwang (wilayah Wonogiri bagian timur) masyarakatnya mempunyai karakter seperti lemah bang gineblegan. Sifat ini bagai tanah liat yang mudah dibentuk. Masyarakat daerah ini suka berfoya-foya, boros, dan sulit untuk melaksanakan perintah. Akan tetapi bagi seorang pemimpin yang tahu dan paham karakter sifat dan karakteristik mereka, ibarat mampu menepuk-nepuk layaknya sifat tanah liat, maka mereka akan mudah diarahkan ke hal yang bermanfaat.
Terakhir adalah daerah Honggobayan (daerah timur laut Kota Wonogiri sampai perbatasan Jatipurno dan Jumapolo Kabupaten Karanganyar) mempunyai karakter seperti asu galak ora nyathek. Karakteristik masyarakat di sini seperti anjing galak yang suka menggonggong tetapi tidak sampai menggigit. Sepintas dilihat dari tutur kata dan bahasanya, masyarakat Honggobayan kasar dan keras, menampakkan sifat sombong dan congkak serta tinggi hati. Hal yang demikian itu sekilas tampak menakutkan. Namun demikian, mereka sebenarnya baik hati dan terhadap perintah pimpinan akan dikerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Dengan memahami sifat atau karakter yang menjadi ciri khas daerah-daerah tersebut, Raden Mas Said menerapkan cara yang berbeda dalam memerintah dan mengendalikan rakyat di wilayah kekuasaannya. Dengan demikian akan tercapai penggalian potensi yang maksimal demi kemajuan dalam membangun wilayah.

Wonogiri, sesuai namanya, memiliki bentang alam yang bergunung-gunung. Dalam dunia pewayangan, gunung disebut juga gunungan atau kayon. Kayon merupakan gambaran dari alam, baik secara makrokosmos (jagad raya) maupun mikrokosmos (jagad kecil). Secara makrokosmos, digambarkan dalam kayon tentang isi dunia baik hewan maupun tumbuhan serta bangunan-bangunan yang mewakili unsur jagad, yakni tanah, air, api, dan angin. Sedangkan secara mikrokosmos, kayon adalah simbol manusia. Karena manusia juga terdiri atas empat anasir di atas. Manusia memiliki hati yang di dalamnya terdapat sumber nafsu. Dari sinilah yang akan manusia akan memainkan perannya sebagai makhluk sosial atau makhluk individu.

Menurut Imam Sutarjo, ada empat macam nafsu yang digambarkan dalam kayon. Pertama, kera atau unsur tanah. Unsur ini menggambarkan nafsu aluamah. Memiliki karakter gemar makan tetapi malas bekerja serta mudah marah. Kedua, banteng atau unsur angin.  Ini menggambarkan nafsu supiyah. Orang seperti ini memiliki karakter yang suka hidup berfoya-foya, baik harta, tahta, dan wanita. Kegemarannya bermain wanita bahkan hingga “ngrusak pager ayu”. Ketiga adalah macan atau unsur api. Ini menggambarkan nafsu amarah. Yaitu orang yang memiliki karakter gampang marah, tidak bersahabat atau bahkan tidak segan-segan untuk bermusuhan. Terakhir, adalah merak atau unsur air. Ini menggambarkan nafsu mutmainah. Memiliki karakter suka menolong dan rajin beribadah. Berbaik hati kepada sesama manusia atau bahkan dengan makhluk hidup lainnya.

Nah, keempat nafsu itu selalu bersemayam di hati manusia. Satu dan lainnya akan saling mempengaruhi. Mana yang paling kuat itulah yang akan mewujud sebagai karakter pribadi.
Kembali ke masalah kerja sama antar daerah. Agar kerja sama itu bisa optimal dan sinergis tentunya harus ada saling keterbukaan. Salah satunya adalah mengenai karakter daerah masing-masing. Secara umum, Wonogiri adalah seperti yang digambarkan di atas tadi. Nah, bagaimana dengan karakter kabupaten/kota yang terjalin dalam ikatan kerja sama tersebut? Semoga dengan adanya keterbukaan atau untuk saling membuka diri baik kelebihan maupun kekurangan, kerja sama tersebut akan membuahkan hasil yang gemilang, dan benar-benar bisa menjadikan kesejahteraan kehidupan masyarakat.

(Kayon: Edisi 01 Tahun 1 2015)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - TAPAL BATAS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel