-->

Budaya - SN RATMANA # ANGKATAN 66

Budaya - SN RATMANA # ANGKATAN 66
Budaya - SN RATMANA # ANGKATAN 66

SN RATMANA


TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA - SN RATMANA salah satu sastrawan yang terkumpul dalam buku H.B. Jassin, Angkatan ’66 Prosa dan Puisi 2. Berikut ini riwayat singkat SN RATMANA.

SN RATMANA nama lengkapnya Ratmana Soetjiningrat. Lahir tanggal 6 Maret 1936 di Kuningan (Cirebon). Beragama Islam.

Pendidikan: SD (1950), SMP (1953), SMA B (1957), semua di Pekalongan. Kemudian mengikuti Kursus B-1 Ilmu Alam di Semarang dan tamat tahun 1960.
Jadi guru SMP/SMA Swasta di Semarang (1958 s/d 1960), kemudian guru SMA Negeri di Tegal (sejak 1961).

Menulis dalam Siasat (1955), Kisah (1956), Merdeka (1958), Minggu Abadi (1958-1959), Sastra (1962-1963), Pos Minggu (1963), Abad Muslimin (1966), Horison (1966).
Pernah dapat hadiah hiburan pada sayembara penulisan naskah drama yang diselenggarakan oleh Teater Muslim Jogya (1963).

Berikut ini cerita pendeknya S.N. Ratmana yang berjudul Kubur.

KUBUR


Pada mulaya keluarga paman kukenal sebagai keluarga “abangan”, artinya mengaku beragama Islam tapi tidak menjalankan syarat-syaratnya kecuali untuk keperluan upacara pernikahan dan kematian. Tapi sejak istrinya meninggal di awal tahun empat-lima, diajadi seorang Islam yang taat dan memasuki perkumpulan Muhammadiyah. Putra-putranya yang pada waktu itu masih kecil-kecil dididik pula taat pada agama, sedangkan yang sudah dewasa dan sudah berumah tangga tetap pada keadaan semula, kadi orang-orang “abangan’. Apakah hal ini disebabkan oleh kesadaran bahwa manusia sewaktu-waktu bisa mati sehingga akherat bukanlah faktor yang bisa dikesampingkan, ataukah karena hal-hal lain aku kurang mengerti. Yang jelas setahun sesudah isterinya meninggal ia kawin lagi dengan seorang muslimah dari Jogya. Dari perkawinan ini, sampai sekarang, tidak diperolehnya seorang anakpun.

Kini paman menetap di Magelang bersama istri dan putra-putranya yang belum kawin. Sedangkan yang sudah kawin semuanya tinggal di lain kota: Surabaya, Blitar, Jogya, Bandung dan Jakarta. Keadaan paman bisa dikatakan menyedihkan. Maklumlah pensiunan kecil, tanggungan cukup besar, sedangkan putera-puteranya yang sudah berumah tangga tidak banyak menolongnya. Mereka sendiri umumnya hidup dalam keadaan serba sederhana.

Satu-satunya putra yang bisa agak banyak membantunya sebenarnya adalah Mas Hari. Dia berkat keuletan dan ketabahannya dengan usaha sendiri telah berhasil lulus dari Universitas di California. Ia berhak memakai gelar insinyur sekarang dan menetap di Bandung. Tinggalnya di hotel yang mewah atas beaya negara dan hidupnya serba kecukupan. Sayang, selama ini ada semacam pertentangan antara keluarga Mas Hari dengan keluarga paman. Soalnya terletak pada sikap isteri Mas Hari yang selalu berusaha mencegah dan menunjukkan ketidakrelaannya tiap Mas Hari memberi bantuan kepada paman. Paman sendiri tidak mengetahui hal ini sekiranya tidak diberitahukan oleh Mas Harto, puteranya yang tinggal di Jakarta.  Mas Harto mengetahuinya dari kunjungannya beberapa hari di Bandung. Secara tidak  sengaja dia mendengar ucapan isteri Mas Hari yang mengecam dengan tajam anggota-anggota keluarga paman.

Dari familimu yang sampai ke telingaku kok Cuma permintaan dan keluhan, kata Nyonya Hari kepada suaminya. Saya bukan tidak rela kau membantu familimu, asal kau pertimbangkan juga kebutuhan kita sendiri. Harus kau sadari martabat kita di mata masyarkat. Huh, enak saja minta ini, minta itu, sekarang datang pula kakakmu membawa keluhan-keluhan yang beratnya seribu kali gajah!
Mendengar ini cepat-cepat Mas Harto pulang ke Jakarta, dan memberitahukan kejadian tersebut kepada paman. Sejak itu paman mengambil sikap tidak akan meminta bantuan apapun kepada Mas Hari, meskipun tetap akan menerima segala pemberiannya.

Mas Hardjo, putra paman yang tinggal di Blitar, karena diberitahu tentang tabiat nyonya Hari itu, dengan cepat memberikan reaksi: sekiranya ayah membutuhkan sesuatu katakanlah kepada kami, insya Allah dengan bergotong royong kami dapat memenuhi permintaan ayah.

Meskipun demikian keretakan itu masih bisa dikatakan “biasa”. Mas Hari tiap hari raya hampir selalu datang ke Magelang, demikian pula paman pernah diajak singgah beberapa hari di Bandung. Juga surat menyurat di antara mereka masih berjalan dengan baik. Pendek kata ketegangan itu hanya terbatas pada bantuan materiil saja.


Tapi akhir-akhir ini timbullah pertentangan yang serius dan menyangkut hampir semua putra-putra paman. Anehnya pertentangan ini hanya dilancarkan melalui surat-surat saja. mereka belum pernah saling bertemu untuk membicarakan apa yang mereka pertentangkan. Tapi isi surat-surat itu sudah terlanjur menimbulkan luka di hati masing-masing sehingga mempesulit kesediaan mereka untuk bertemu.

Mula-mula Mas Hari memberi tahu paman bahwa ia berkehendak, dalam waktu yang singkat, memperbaiki kubur ibunya. Sebagaimana makam famili-famili kami lainnya, makam itu terletak di kota Pekalongan di mana keluargaku menetap. Dalam jawaban paman meminta supaya Mas Hari menangguhkan niatnya itu sampai paman memperoleh kepastian bahwa hal ini tidak dilarang oleh agama. Ingatlah, agama Islam selalu mencegah perbuatan syirik yang antara lain berup pemujaan terhadap kubur, demikian tulis paman.

Lama sekali Mas Hari menanti surat paman lebih lanjut, tetapi tidak juga datang. Memang sebenarnya paman sendiri tidak memperoleh kepastian. Beberapa ulama yang beliau tanyai soal tersebut berlain-lain pendapat. Maka dengan persetujuan Mas Harto, kemudia Mas Hari mengirimkan uang sebesar lima ribu rupiah kepada keluarga untuk keperluan perbaikan makam tersebut. Buatlah bertembok dan ditraso sekali, pinta Mas Hari. Kalau uang ini masih kurang segera akan saya kirim tambahannya.

Ibuku bukan tidak tahu adanya perbedaan pendapat antara paman dengan Mas Hari dalam soal kubur itu, tapi beliau merasa sangat berat untuk tidak memenuhi permintaan Mas Hari. Lebih-lebih setelah ada seorang tukan batu yangsanggup mengerjakannya.

Malang, baru seperempat bagian dikerjakan hujan selalu turun sehingga pekerjaan terbengkelai. Lebih celaka lagi karena si tukang batu itu kemudian kabur, lari membawa semen dan uang.
Sementara itu secara kebetulan paman datang ke Pekalongan untuk suatu keperluan. Bukan main marahnya melihat kelancangan Mas Hari. Sedikit banyak menyalahkan ibuku yang tidak memberitahukan hal ini kepada paman. Dengan uang mas Hari beberapa ratus rupiah yang masih tersisa di tangan ibu, paman menyuruh seorang kuli membongkar hasil kerja tukan batu yang sudah kabur itu.

Ketika mas Hari menanyakan soal ini, ibu menceritakan terus terang apa yang sudah terjadi. Dengan nada penuh kemarahan kemudian dia menyurati paman.

Saya tidak mengerti mengapa ayah menghalang-halangi maksud baik saya untuk menghormati ibu. Kapan lagi saya bisa menunjukkan rasa bakti dan hormat saya kepada beliau kalau tidak sekarang? Alasan yang ayah kemukakan terlalu naif. Coba perhatikan berapa ribu, bahkan mungkin jutaan, makam ulama yang ditembok. Berdosakah orang-orang yang memuliakannya? Apakah ayah ingin disebut lebih tahu dalam soal hukum agama dari pada ulama-ulama? Berilah kami kebebasan untuk memuliakan ibu. Sudah bukan masanya lagi ayah selalu mendikte kami.


Sehubungan dengan ini Mas Harto mengirim surat pula pada paman dengan nada yang hampir seirama:

Ayah takut pada dosa? Takut disiksa di neraka karena kubur ibu dikijing oleh Hari? Ayah, kami sanggup menanggung dosa ayah dalam soal ini. Sungguh, demi Tuhan, demi setan! Bukan maksud saya menggurui ayah, melainkan semata-mata karena dorongan yang tulus, kalau di sini saya katakan bahwa dalam soal ini agama telah meracuni diri ayah. Semua agama memang punya tujuan baik, tapi seringkali pemeluknya dihinggapi kefanatikan yang terkutuk seperti yang sekarang hinggap di hati ayah. Apakah guna sembahyang yang ayah lakukan sehari lima kali jika rasa sentimen begitu menguasai diri ayah? Maafkan kalau kali ini saya berdiri di belakang Hari, karena saya selalu membela orang-orang yang saya anggap benar.

Spontan paman membalas surat itu. Ditulisnya rangkap dua, kemudian dikirim kepada Mas Harto dan Hari.

Kuharap kalian meenungkan kembali isi surat kalian padaku. Begitukan cara kalian menghormati orang tua? Baru pada umur enam puluh lima tahun inilah aku mendapat tamparan yang begitu hebat, justru datangnya dari anak-anakku sendiri. Makin yakinlah aku akan kebenaran sabda Tuhan di dalam Al-Quran: “Hai orang-orang yang beriman, sebagian dari istri dan anak-anakmu adalah musuh-musuhmu. Berhai-hatilah!” Kalau aku membongkar kembali kubur itu bukan disebabkan rasa sentimen seperti yang kalian duga. Melainkan karena rasa kecintaanku terhadap ibumu, dan aku tidak mau mengkhianati kepercayaanku. Aku menganggap pengijingan makam itu adalah dosa. Karena itu aku wajib mencegahnya. Ketahuilah bahwa  dosa seseorang tidak dapat ditanggung oleh orang lain, meskipun orang itu anak-anakku sendiri. Jangan pula kalian perbandingkan dengan orang lain seperti ulama ini berani begini dan begitu, mengapa ayah tidak? Tiap manusia merupakan individu yang mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri.

Mas Hardjo yang diberitahu oleh paman persoalan tersebut dengan penuh semangat membela paman.
Disuratinya Mas Hari:
Meskipun engkau kakakku tidaklah berarti bahwa semua perbuatanmu harus kuamini. Bahwa kau bermaksud menghormati dan memuliakan ibu, sungguh-sungguh saya puji. Memang harus kita akui bahwa tidak banyak yang telah kita perbuat terhadap beliau semasa beliau masih hidup. Tapi ingatlah, orang tua kita ada dua. Patutkah kalau kita menghormanti yang satu dengan cara melukai yang lain? Barangkali engkau berhelah dengan alasan bahwa ayah keras kepala. Bagaimanapun juga kau telah salah melangkah. Ibu kita sudah mati. Sudah tidak ada lagi hal-hal duniawi yang bisa sampai kepadanya, kecuali doa kita. Doa kita mas, putera-puteranya, bukan doa orang lain, juga bukan doa ulama atau kyai siapapun. Jadi cara satu-satunya sebagai pernyataan hormat, ialah kita berdoa tanpa jemu-jemu untuk kelapangan arwahnya di hadapan Tuhan. Tapi ah, barangkali pengertian tentang doa terlalu kolot bagimu, terlalu abstrak bagi seorang insinyur macam kau. Baiklah kutunjukkan saja yang kongkrit: kenapa kau begitu memikirkan makam ibu padahal terhadap ayah kau tidak memikirkannya? Apakah juga bakti dan hormatmu akan kau tunjukkan setelah beliau wafat, setelah beliau bernama arwah? Kupikir di sinilah letak rahasia pandangan hidup orang-orang macam kau dan Mas Harto. Sungguh suatu pemberian yang sangat bermanfaat sekiranya uang sebanyak beaya pengijingan makam ibu itu kau serahkan kepada ayah untuk keperluan sekolah Edi, Asih dan Eni. Sudahkan hal ini kau pikir? Entahlah kalau semua perbuatanmu sudah terlalu dikendalikan oleh isteri cantik yang nampaknya teramat sangat kaucintai itu.

Surat jawaban yang sampai ke tangan mas Hardjo datangnya malah dari Mas Harto :
Djo, kau rupanya ingin jadi pahlawan pembela ayah dalam segala hal tanpa pertimbangan apakah dengan demikian kau sudah jadi seorang tokoh reaksioner. Apakah kerugianmu jika makam ibu dikijing oleh Hari? Bahwa selama ini dia sedikit memberi bantuan kepada ayah adalah persoalan lain. Tidak usah kau gugat-gugat. Kita seharusnya bersyukur bahwa seorang yang lemah terhadap isteri itu punya hati yang terbuka untuk berbuat bakti kepada ibu. Djo, jangan kau tutup matamu dari nilai-nilai hidupdengan berkedok dalil-dalil agama.

Sedangkan jawaban mas Hari terhadap surat-surat yang diterimanya tegas sekali. Dia datang ke Pekalongan mengajak seorang tukang batu dengan membawa tiga sak semen Gresik. Ia tunggui sampai selesai pengijingan kubur ibunya. Tiga hari lamanya. Jadilah ia makam yang indah. Bertembok semen, ditraso pula: belapis pecahan-pecahan kaca yang berwarna-warni. Di arah kepala terdapat gundukan yang penampangnya berbentuk trapesium dan di arah kaki terdapat nisan yang mungil. Nama dan tanggal wafat ibunya dipahat pada pualam yang diletakkan pada gundukan tadi.
Bolehlah ayah atau siapapun merasa berdosa terhadap pengijingan makam ibu dengan alasan-alasan keakheratan, kata Mas Hari. Yang jelas saya merasa berdosa dengan alasan saya sendiri kalau ia tetap berupa sebidang tanah kering cuma dengan dua nisan yang sudah mulai rapuh pula. Bagaimana bisa dikatakan menghormati sesorang kalau kita membiarkan kuburnya bisa hilang tak keruan. Entahlah bagaimana nasib makam pahlawan-pahlawan kita andaikan Indonesia ini diisi oleh orang-orang macam ayah dan Hardjo.

Apa yang terjadi setelah selesainya pengijingan makam itu agak diluar dugaan kami. pada hari raya yang baru lalu Mas Hari dan Harto jangankan datang ke Magelang untuk nyungkem, surat lebaranpun tidak mereka kirim kepada paman. Satu-satunya putra yang datang adalah Mas Hardjo. Seminggu lamanya dia tinggal di sana, antara lain untuk membuktikan bahwa benar-benar kedua kakaknya itu tidak sudi lagi memohon doa restu kepada paman. Dari Magelang dia terus pergi ke Pekalongan.
Sudahlah Djo, semuanya sudah teranjur terjadi, kata ibuku menahan maksud Mas Hardjo membongkar kubur ibunya. Kubur ibumu tak usah kau usik-usik.

Bagaimanapun harus saya bongkar, jawabnya. Coba bibi perhatikan, tidak ada satupun di antara makam nenek, kakek atau saudara-saudara kita lainya yang dikijing, apalagi ditraso. Kenapa makam ibu harus ditonjol-tonjolkan dengan kemegahan yang tidak ada artinya? Pengijingan adalah seorang egois nomor satu.

Kau boleh berkata begitu Djo, sekiranya ahli waris kubur-kubur lainnya memandang mengijing kubur adalah suatu penghormatan. Padahal tidak ada di antara kami yang berpendapat demikian. Jadi kami tidak merasa disepelekan oleh Hari.
Mas Hardjo tidak menjawab. Ibu meneruskan lagi.
Untuk pembongkaran itu diperlukan uang, bukan?
Sudah tentu, Bi.

Nah, kurasa lebih baik uang itu kau gunakan untuk keperluan-keperluan yang lebih bermafaat.
Tidak Bi, pengeluaran uang ini tidak sia-sia. Sebab dengan dibongkarnya makam ibu nanti berarti saja mencegah terulangya pengeluaran uang untuk keperluan-keperluan yang mubadzir.
Pengeluaran uang yang mubadzir tidak hanya dalam soal ini dilakukan oleh Hari. Kalau kita tinjau lebih mendalam seluruh kehidupan Hari itu sendiri adalah kemubadziran. Ya ndak? Jadi kalau kau mau mencegah dia berbuat mubadzir, rubahlah pandangan hidupnya.

Apakah yang akan saya lakukan saya rasa adalah salah satu usaha untuk merubah pandangan hidupnya. Sekurang-kurangnya untuk mengurangi keangkuhannya.
Keangkuhan? Yah, bolehlah kau menganggap tindakan Hari demikian. Tapi tidak selayaknya kau imbangi dengan tindakan yang destruktif.

Sama sekali bukan tindakan destruktif, sangkal Mas Hardjo cepat-cepat, sebagaimana penghancuran berhala-berhala yang dilakukan oleh Nabi Muhammad juga tidak bisa disebut tindakan destruktif. Malah sebaliknya konstruktif. Membangun iman.


Ibuku terdesak karenanya. Kemudian dengan nada yang merendah beliau berkata:
Engkau tidak akan berhasil memaksakan pahammu kepada orang lain dengan kekerasan. Lebih baik tenangkan dulu pikiranmu, Djo.

Semalam saya sudah bersembahyang isticharoh, Bi. Kepastian sudah saya peroleh. Kubur itu mesti saya bongkar.

Menurut pendapatku, kata ibu pula dengan putus asa, membongkar kubur itu hanya akan menambah dalamnya pertentangan di antara kamu dengan Hari dan Harto.

Sebaliknya, Bi, membiarkan tetap berdirinya kubur itu berarti saya membiarkan tegaknya lambang keangkuhan seorang anak terhadap bapak, kesombongan seorang anak akan kebenaran pendapatnya sendiri.

Pendek kata sia-sialah usaha ibuku mencegah maksud Mas Hardjo. Dengan mengupahkannya kepada dua orang kuli dibongkarlah kubur ibunya. Maka kembalilah kubur itu datar seperti semula, sama dengan kubur-kubur lain di kanan kirinya: kubur nenek, kakek, ayahku dan saudara-saudara kami lainnya.

Tidak kuketahui apakah Mas Hari masih punya kehendak untuk membangun kembali kubur itu. Juga tidak kuketahui bagaimana sikap putra-putra paman lainnya seperti Mbak Ati dan Mbak Ning. Kurasa, sebagaimana keluargaku, mereka memandang pertentangan ini dengan perasaan yang sangat sedih.

Sastra, Th.II No.10/11 1962
(S.N. RATMANA Sumber : H.B. Jassin, Angkatan ’66 Prosa dan Puisi 2)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - SN RATMANA # ANGKATAN 66"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel