Budaya - SEANDAINYA SAJA
Sunday, 22 April 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - SEANDAINYA SAJA |
SEANDAINYA SAJA
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA - Siang itu di tempat kerja Mas Guru Bonang kedatangan tamu “rutin”. Rutin? Ya, tamu itu selalu datang manakala ada “perlu” seperti Ujian Sekolah, Ulangan Semesteran, dan Ulangan Kenaikan Kelas. Sebab, di hari-hari lain jarang sekali tamu itu muncul, meskipun sebenarnya ada kewajiban hadir minimal 3 jam di setiap bulannya.
Kedatangannya yang hanya saat-saat tertentu itu pasti digunakan untuk ngobrol kesana-kemari. Tentu saja diawali dengan basa-basi mengenai tugas-tugas para guru dan KS. Tentu saja jawaban mereka sontak sama, yakni tidak ada permasalahan.
Dus, obrolan pasti berkembang. Awalnya Mas Guru Bonang tidak begitu tertarik, sebab yang jadi bahan obrolan adalah batu akik. Mas Menggung dengan bangganya memamerkan koleksi (tepatnya file foto) di hp-nya yang cukup canggih. Ada beberapa batu akik yang cukup unik, misalnya bercorak garis seperti bintang dan batu kerikil ditata rapi. Bahkan ada yang menyerupai lafaz nama Tuhan dan gambar mekah. Mas Guru Bonang memperhatikan teman-temannya yang sangat keheranan dan kagum, bukan foto akiknya!
Mas Guru Bonang tersenyum. Dirinya teringat obrolan dengan Mas Gender beberapa hari silam. Kata Mas Gender penomena akik memang luar biasa. Saking penomenalnya, berbagai cara dilakukan orang. Di dalam negeri ada akik-akik palsu kelas murahan. Tetapi hal itulah yang diberitakan di beberapa media elektronik. Padahal, akik palsu justru datang dari luar negeri dengan harga-harga yang fantastis! Konon akik-akik produk luar negeri itu berasal dari sisa atau serpihan batu akik dari dalam negeri tercinta ini. Serbuk-serbuk itu dikumpulkan kemudian dengan teknik canggih ala Sunan Kalijaga tatkala membuat tiang dari tatal kayu jati untuk tiang Masjid Agung Demak. Serpihan batu akik itu dibentuk dengan teknik pemanasan tinggi dan tentunya dengan teknik canggih lainnya sehingga bisa membuat batu akik sesuai harapan, misalnya bergambar artis AA, BB, CC, dan lain sebagainya. Atau tulisan-tulisan tertentu yang intinya untuk menarik pecinta akik dengan segala keindahan dan keunikannya plus kemistisannya. Setelah batu akik itu jadi kemudian dikembalikan ke negeri tercinta ini, tentunya mendapat sambutan pasar yang sangat menggembirakan, karena patokan harga lebih murah dengan kualitas barang lebih bagus dari produk dalam negeri. Hladalah!
Mas Guru Bonang tidak berani mengungkapkan semua itu kepada Mas Menggung takut menyinggung atau menyakiti hatinya.
Mas Menggung kemudian mengalihkan topik pembicaraan. Kali ini tentang dirinya yang dianggap sebagai sesepuh di lingkungannya yang baru. Dia memang penganut kejawen. Hal-hal yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari selalu dipandang dari sisi kejawen selain dari sisi rasional. Pada pembicaraan ini Mas Guru Bonang tidak selera. Bukan apa-apa, jika dihitung Mas Menggung sudah sering mengulas masalah itu. Akan tetapi ketika Mas Menggung bercerita tentang kehidupannya beragama, Mas Guru Bonang menyimak. Bagi Mas Menggung, beragama itu semua baik dan semestinya tidak ada paksaan, apalagi di Negeri yang ber-Pancasila ini.
Masih menurut Mas Menggung. Dirinya yang duda (istrinya berpulang beberapa tahun silam) pernah mendapat tawaran untuk beristri lagi dengan “iming-iming” naik haji bersama. Terhadap tawaran itu Mas Menggung justru menolak. Padahal, dirinya juga membebaskan anaknya yang sudah menikah mengikuti agama suaminya yang muslim. “Kalau toh suatu saat nanti saya menjadi muslim, jangan dianggap mencla-mencle. Justru aku mau beragama sesuai dengan kehendak hati. Dan itu sudah aku pikirkan masak-masak. Jika anak-anakku dan cucu-cucuku muslim, aku ingin jika kelak sudah mati selalu didoakan oleh mereka.”
Mas Guru Bonang terhenyak. Ia berpikir, jika semua anak negeri ini menyikapi kehidupan beragama dengan kebebasan kehendak hati, betapa tenteramnya negeri ini. Pasti tidak ada gejolak yang mengatasnamakan agama. Ah, barangkali itu cuma seandainya saja....
Wonogiri, 7-6-2015

0 Response to "Budaya - SEANDAINYA SAJA"
Post a Comment