-->

Budaya - BATU LONCATAN

Budaya - BATU LONCATAN
Budaya - BATU LONCATAN

BATU LONCATAN

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - BUDAYA - Sore itu habis gerimis. Mas Guru Bonang seperti biasa nglaras sebuah gendhing dari hape. Waranggana bule itu memang bersuara emas. Dilihatnya juga enak, apalagi pas dia nembang sambil mengerjap-kerjapkan matanya.

Tiba-tiba seekor sepeda motor parkir di depan rumahnya. Rupanya Mas Gender, seorang guru webe di sebuah sekolah dasar.


Seperti tuan rumah layaknya, Mas Guru Bonang menyilakan masuk dan duduk Mas Gender. Setelah berbasa-basi sedikit, Mas Gender kemudian mengeluarkan grundelane.

“Pancen sd-ku itu cuma buat batu loncatan bagi para ka-es yang baru. Setiap ada angkatan ka-es selalu ditempatkan di situ. Namun, tidak beberapa lama, ia akan pindah ke sekolah yang lebih dekat dengan kota,” kata Mas Gender sambil menyeruput teh yang baru saja disajikan Nyonyah Bonang.
“Mbok yo wis ben, gitu aja dipikirkan,” jawab Mas Guru Bonang sekenanya. Ia tahu bahwa letak sekolah tempat webe Mas Gender memang cukup jauh jika ditempuh dari jantung kota. Dus kenyataannya, memang apa yang dikatakan Mas Gender itu benar adanya. Selama ini kesannya memang begitu.

“Ya mudah-mudahan yang baru ini betah jadi ka-es disitu,” lanjut Mas Guru Bonang sambil membuka hape jadulnya. Rupanya ada pesan masuk. Ternyata adalah promosi obat kuat.
“Ini orang rupanya tidak bosan-bosan kirim iklan obat kuat. Dikiranya saya sudah loyo opo piye?” kata Mas Guru Bonang lagi.

“Si pengirim tahu pastinya, makanya ia tidak bosan-bosan ngirim promisi. Atau jangan-jangan memang sudah langganan,” kata Mas Gender sambil nyengenges.

“His! Ada apa to kok tiba-tiba bicara ka-es yang tidak betah di sekolahmu?” tanya Mas Guru Bonang.

“Sepertinya, sekolahku itu hanya untuk latihan jadi ka-es. Salah satu bukti, ini ka-es yang baru tidak begitu memperhatikan administrasi. Mungkin yang ada dibenaknya, buat apa susah-susah bikin administrasi paling-paling tidak lama lagi pindah dari sini.”


“Heat! Jangan mudah menyimpulkan.”
“Saya tidak menyimpulkan. Tapi pernah jadi kurban,” jelas guru webe yang ngajar kelas enam itu.

“Maksudnya?” Mas Guru Bonang kepo.
“Biasanya, jika latihan ujian tingkat kabupaten administrasi kan selalu lengkap. Saya sudah bikin. Tapi sebelum diprintout, saya matur akan dicetak berapa. Oleh ka-esku dijawab tidak usah dicetak. Paling nanti pengawas yang datang Pak X, duganya. Nanti saya yang akan menghadapi, kata Ka-es itu lagi. Ternyata..., yang hadir adalah Bu Z. Pertama yang beliau tanyakan administrasi. Hebatnya lagi, Ka-esku tidak berani menghadapi. Beliau yang menyuruh saya munduk-munduk minta maaf. Kepada Ibu Pengawas saya katakan kalau sebenarnya administrasi sudah siap tetapi belum dikeluarkan.”

“Ya sudah. Kata Gus Dur, gitu aja kok repot. Mending mikir yang lain. Atau..., apa mau pesen ini sebelum pesannya kuhapus,” kata Mas Guru Bonang sambil menyodorkan hape-nya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - BATU LONCATAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel