-->

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 6

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 6
Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 6
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita DEMANG JEBRES, yakni bagian 6. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

DEMANG JEBRES

Bagian 6

Oleh: Parpal Poerwanto

Putri Handaya berusaha mencari jalan keluar. Ia kemudian menemui RM Sugandhi. RM Sugandhi adalah putra Paku Buwana IV ketika beliau masih Menjadi Adipati Anom. Ketika masih bayi B.R.Ay. Adipati Anom, yakni ibundanya RM Sugadhi meninggal dunia. Untuk itu sejak kecil RM Sugandhi diasuh dan dibesarkan oleh Permaisuri Kencana Wungu, sehingga memanggilnya dengan sebutan ibu.

RM  Sugandhi menyanggupi walaupun dalam dilema. Bagaimanapun pula keinginan raja bisa dikatakan suatu keharusan. Menentang Sunan, selain menentang orang tua juga mennentang titah raja. Sebaliknya, untuk tidak menyanggupi permintaan Putri Handaya yang juga akan menyiksa batin ibunya, Permaisuri Kencana Wungu.

*

Sunan Paku Buwana IV bermimpi tentang Begawan Palasara dan Dewi Durgandini. Mimpi itu berulang-ulang terjadi, hingga menjadikan pemikiran khusus bagi Sunan. Untuk itu Sunan mengutus RM Sugandi untuk menanyakan arti perihal mimpinya ke Ki Mpu Brajaguna.
RM Sugandi melaksanakan tugas. Namun, di tengah perjalanan ia dihadang oleh para siluman. Berkat pertolongan Teruna, akhirnya RM Sugandi selamat dan bisa melanjutkan ke Gunung Braja menemui gurunya.

Pertemuan RM Sugandhi dengan gurunya, Ki Mpu Brajaguna yang tidak dinyana-nyana sangat menggembirakan kedua pihak. Apalagi setelah RM Sugandhi mengutarakan maksud dan tujuannya yakni untuk datang ke padepokan Gunung Braja.


“Syukurlah, Raden selamat sampai di sini.”
“Ini semua berkat pertolongan Teruna. Terima kasih anak muda, jika bukan karena pertolonganmu mungkin niatku untuk datang kemari tidak kesampaian,” kata RM Sugandhi kepada Teruna. Teruna hanya bisa merendah. Semua itu adalah pertolongan Yang Maha Kuasa, demikian alihnya.
Selanjutnya RM Sugandhi mengutarakan perihal maksud kedatangannya. Mpu Brajaguna mendengarkan dengan seksama.

“Raden, bicara tentang mimpi pada dasarnya mimpi itu hanyalah bunga tidur. Akan tetapi secara garis besar mimpi itu dibagi menjadi tiga, yaitu titi-onyi, ganda onyi, dan puspa tajem. Mimpi yang pertama dialami seseorang yang kebanyakan tidur. Biasa terjadi di awal malam antara pukul delapan hingga dua belas malam. Mimpi ini terjadi adanya refleksi kejadian dan pikiran seseorang yang tidak mampu ditinggalkan hingga menjelang tidur seperti rasa gelisah, kalut, tekanan batin dan pikiran serta aktivitas kerja dan rutinitas keseharian. Mimpi ini tidaklah berarti apa-apa kecuali hanya penghias dan pelengkap tidur.
Tentang  ganda onyi, terjadi di pertengahan malam hingga menjelang lingsir wengi, antara jam dua belas malam hingga jam tiga dini hari. Hampir sama dengan mimpi yang pertama mimpi ini tidak memiliki makna khusus.

Sedangkan mimpi yang ketiga yang sering disebut puspa-tajem. Mimpi ini terjadi setelah lewat waktu lingsir wengi hingga menjelang waktu subuh. Mimpi iki dikatakan para cerdik pandai dan sesepuh sebagai isyarat nyata, tanda-tandaning kasejaten. Dipercaya sebagai firasat atau isyarat ghoib yang datangnya Gusti Allah terhadap sesuatu hal yang akan terjadi. Mengenai mimpi yang dialami Kangjeng Sunan, saya percaya bahwa itu bukan mewujudkan suatu mimpi penghias tidur belaka. Sebab, saya percaya bahwa raja merupakan tangan panjang Gusti Allah di muka bumi ini. Maksudnya, apa yang dimimpikan oleh Kangjeng Sunan itu benar-benar datangnya dari Gusti Allah yang menguasai jadag raya ini.”
“Jika demikian apa yang harus saya lakukan, Bapa?”
“Sebentar Raden, Bapa akan menuju sanggar pemujan meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk,” kata Mpu Brajaguna sembari melangkah menuju tempat samadi. RM Sugandhi ditemani Cantrik Teruna duduk-duduk di halaman. Tidak ada yang diperbicangkan oleh keduanya.

Pada malam harinya Mpu Brajaguna menyampaikan wangsit yang diterimanya. Kepada RM Sugandhi Mpu Brajaguna menyarankan agar membuat perahu dengan canthik berbentuk kepala tokoh Rajamala. Kelak kepada Sunan dikatakan maksud dibuatnya perahu ini adalah mengantarkan kepulangan Permaisuri Kencana Wungu dan adik sang Permaisuri, Putri Handaya.


“Untuk itu Raden, sebaiknya segeralah kembali ke Surakarta. Sampaikan usul saya ini kepada Kangjeng Sunan. Semoga beliau berkenan.”
“Baiklah Ki, sekalian saja saya mohon diri, terima kasih atas bantuannya,” kata RM Sugandhi sembari menghaturkan hormat. Untuk melaksanakan maksud, Mpu Brajaguna berkenan memberikan dua buah pusaka berupa keris bernama Kyai Sangkan kepada RM Sugandhi. Bahkan cantrik tertua, Teruna diizinkan untuk ikut ke Surakarta membantu RM Sugandhi melaksanakan tugas. Hanya saja, kepergian Teruna ke Surakarta menyusul.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 6"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel