-->

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 4

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 4
Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 4
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita DEMANG JEBRES, yakni bagian 4 Selengkapnya adalah sebagai berikut.

DEMANG JEBRES

Bagian 4

Oleh: Parpal Poerwanto

“Jangan suka mengintip, masuk sajalah….!” Suara dari dalam mengagetkan Tetuna. Padahal Teruna yakin bahwa lelaki tua itu tidak pernah menoleh atau memperhatikan dirinya sejak di sungai tadi. Karena ada rasa gusar, Teruna ingin lari. Anehnya, kaki-kakinya seolah-olah menancap di tanah.

“Orang disuruh masuk malah ingin pergi. Jangan takut, masuklah!” perintah lelaki tua membuat Teruna hilang rasa takutnya. Meskipun agak ragu, ia melangkah menuju pintu gubug itu. Matanya menyapu seluruh isi gubug. Sekilas tidak ada benda berharga di dalamnya. Hanya ada tikar pandan yang diduduki lelaki tua itu. Sedang di sudut rumah ada lemari kuno. Entah apa isinya.

“Jangan mematung, duduklah. Kamu memang tidak tahu sopan santun. Ada orang tua duduk malahan berdiri.” Kata lelaki tua itu sambil mengamati keris kecil mengkilap. Teruna tidak berkata apa-apa. Ia lalu duduk seenaknya di tikar pandan.

“Namamu siapa?” tanya lelaki tua sambil meletakkan keris kecil ke dalam guci emas.

“Teruna,” jawabnya seolah bicara dengan teman sebayanya. Sebenarnya lelaki tua itu agak tersinggung dengan sikap Teruna. Namun, dirinya juga merasa aneh mengapa ada perasaan ingin tahu lebih jauh terhadap bocah berumur belasan itu.


“Kamu dari mana dan anak siapa?”
“Aku tidak mempunyai orang tua. Asalku dari mana juga sudah lupa.”
“Jangan bercanda berlebihan. Tidak manusia lahir ke bumi tanpa orang tua.”
“Orang tuaku sudah tiada. Aku sudah tidak mau mengingatnya kembali. Karena setiap aku mengingat mereka hanya kepedihan yang kurasakan.”
“Ada apa dengan orang tuamu?”
“Maaf Ki, aku tidak bisa menjelaskannya,” jawab bocah tanggung tersebut dengan suara serak. Matanya kelihatan sembab, tetapi tidak sampai menitikkan air mata.
“O, begitu. Sebenarnya aku memperhatikan kamu sejak beberapa hari ini. Apa yang kamu cari di hutan ini?”

Teruna agak terkejut. Ternyata keberadaannya di hutan itu telah diawasi oleh lelaki tua itu. Teruna tidak menjawab pertanyaan itu. Dirinya malahan berdiri dan akan melangkah….
“Kamu mau ke mana? Diajak bicara sama orang tua sepertinya tidak menghargai.”
“Aku tidak akan pergi Mbah. Cuma aku bingung akan menjawab apa atas pertanyaan itu.”
“Ada sesuatu yang rahasia?
“Tidak pula. Hanya aku tidak ingin ada orang lain yang tahu saja.”
“Ha, ha, ha…. Baik jika begitu. Lantas apa tujuanmu mengikuti langkahku sampai di gubug ini?”
“Kamu lelaki tua yang misterius. Sangat mengherankan. Baru sekali ini aku saksikan ada benda pusaka keluar dari dalam batu. Berarti kamu lelaki tua yang memiliki ilmu pilihan.”
“Tidak ada yang perlu diherani. Siapa saja bisa melakukan hal itu.”
“Apa aku juga bisa?”
“Tergantung pada dirimu sendiri.”
“Maksudnya?”

Lelaki tua itu terkekeh. Ia merasakan ada pengharapan untuk menurunkan semua ilmunya. Mungkin bocah inilah yang pantas menerima warisan ilmu yang dimilikinya.

“Lha, maumu sekarang bagaimana?”

“Aku ingin menjadi murid Ki....Maaf aku harus memanggil siapa? Oh ya, namaku Teruna, Ki....”

“Nama yang bagus. Kamu bisa panggil saya Mpu Braja atau Ki Braja. Sungguh, kamu ingin berguru padaku?”

“Seandainya Mpu Braja tidak menolak….”


Mpu Braja tersenyum mendengar ucapak bocah tanggung itu. Walau kadang-kadang terasa kurang sopan dalam berbicara, tetapi anak itu tidak bermaksud untuk sombong atau kurang ajar kepadanya. Mpu Braja tahu gejolak yang ada di dalam dada anak ingusan itu. Gelora dada yang menyimpan suatu keinginan yang kuat. Keinginan yang diperjuangkan demi sesuatu yang tak bisa diukur dengan harta benda. Tak bisa disuratkan dalam tulisan, tak diujarkan lewat kata-kata.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 4"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel