Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 13
Sunday, 25 March 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 13 |
DEMANG JEBRES
Bagian 13
Oleh: Parpal PoerwantoDi hadapan Bupati Cakraningrat, Panji Kuning menjelaskan maksud kedatangannya. Mendengar kabar dari Surakarta itu Bupati berdiri sambil mengepalkan tangan. Alisnya yang tebal seolah menyatu. Matanya merah membara. Jaja bang mawinga-winga. Melihat junjungannya marah tiada tara, Patih berusaha meredamnya. Untung saja kata-kata Patih dapat dimaklumi. Raden Cakraningrat kemudian minta pendapat para ponggawa untuk mengambil langkah dan memberikan pelajaran kepada raja Surakarta yang dianggap kelewatan itu. Kesepakatan pun diambil. Pamekasan menyerbu Surakarta. Alasannya dua yakni karena raja Surakarta sudah memihak kepada penjajah Belanda dan memulangkan putri Pamekasan sebagai seorang prameswari.
Sesuai dengan pesan Putri Handaya yang disampaikan Panji Kuning, Panji Kuning diangkat sebagai senopati dalam penyerbuan ke Surakarta. Kemudian, persiapan pun segera dilaksanakan. Semua prajurit dilatih khusus berperang di sungai. Bila ada prajurit yang tidak bisa berenang pastilah tidak akan diajak serta. Hal ini sangat beralasan sebab perjalanan mereka menuju Surakarta menggunakan jalur air. Bisa saja sebelum prajurit Pamekasan tiba disambut terlebih dahulu oleh prajurit Surakarta, bisa di laut atau di sungai. Untuk itu dipilihlah prajurit-prajurit yang memiliki keterampilan khusus, yakni yang bisa bertempur baik di darat maupun di sungai. Akhirnya setelah melalui seleksai yang ketat terpilihlah ratusan prajurit muda yang siap tempur dan memiliki semangat juang. Maka, pada waktu yang telah ditentukan berangkatkan prajurit Pamekasan menuju Surakarta.
RM Sugandhi berkenan melihat perahu bersama Teruna secara nyata di Pelabuhan Beton. Setiap detail-detail mereka amati. Sambungan-sambungan sangat halus dan licin. Pancang-pancang juga berdiri kokoh tiada cela. Begitu juga alat dayung tak satupun yang mengecewakan. Tangan RM Sugandhi mencoba menggerak-gerakkan dayung itu lalu manggut-manggut. Keduanya kemudian menuju ujung depan perahu itu. Di sana terdapat sebuah patung kepala raksasa. Wajahnya merah matang dengan sepasang mata bulat membara. Rambutnya gimbal panjang. Sosok yang menyeramkan. Itulah sosok Rajamala seorang ksatria raksasa manifestasi dari penyakit dari seorang bidadari bernama Dewi Durgandini.
Perahu yang ditambatkan di pelabuhan terbesar di Bengawan Solo itu tampak bergoyang-goyang lemah akibat aliran sungai. Seolah-olah Raden Rajamala berjalan dengan gagahnya. Di balik wajahnya yang seram dia seorang ksatria yang memiliki kharisma dan wibawa. Hal itu juga dimiliki oleh perahu buatan anak negeri ini. Perahu yang memiliki panjang 59 meter dengan lebar 6,5 meter tampak benar-benar bagaikan ksatria raksasa di aliran sungai Bengawan Solo.
Perihal Teruna, RM Sugandhi sangat berkenan dengan kesungguhan pemuda itu untuk mengabdikan diri di Surakarta. Karenanya hampir di setiap kesempatan kedua sering berdua untuk urusan-urusan tertentu. Di mata RM Sugandhi, sosok seperti Teruna cocok untuk dijadikan teman dekat. Ia tidak memiliki tendensi yang tidak-tidak. Pengabdiannya tulus. Lebih itu tak satupun pekerjaan yang diamanatkan gagal atau mengecewakan. Kebersaam RM Sugandhi melihat dan meneliti perahu bersama Teruna adalah salah satu bukti kedekatan mereka.
Ketika hari menjelang siang, tampak ada perahu dayung berjalan dengan cukup cepat. Dua orang memberi aba-aba agar si pendayung lebih cepat melakukan gerakannnya. RM Sugandhi dan Teruna berdiri dan memperhatikan kedatangan perahu yang tampak tergesa-gesa itu. Semakin dekat semakin jelas siapa yang memberi aba-aba mempercepat laju perahu tadi. Dua orang prajurit telik sandi rupanya. Untuk itu RM Sugandhi memberi isyarat agar perahu segera merapat di dekat perahunya. Teruna segera turun dari perahu dan memerintahkan kedua prajurit telik sandi untuk menghadap RM Sugandhi. Kedua prajurit telik sandi segera menghadap RM Sugandhi. Keduanya melaporkan bahwa akan ada serangan besar-besaran ke Surakarta dari kadipaten Pamekasan.
“Apa laporanmu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya?” tanya RM Sugandhi.
“Saya berani bersumpah, Gusti.”
“Baiklah, akan saya sampaikan laporanmu ke hadapan Ramanda Sunan.”
“Baik Gusti, apa diperkenankan saya undur diri?”
“Silakan, terima kasih atas keberhasilan tugasmu.”
Kedua prajurit telik sandi segera undur diri. RM Sugandhi kemudian meminta pendapat Teruna. Teruna mengusulkan agar semua keputusan sebaiknya diserahkan kepada Kangjeng Sunan. Seandainya prajurit Pamekasan benar-benar menggempur ke Surakarta, untuk menghadangnya sebaiknya menggunakan perahu terbesar yang dimiliki Surakarta saat ini yaitu perahu berhias kepala Rajamala itu.
“Itu ide yang bagus. Mari kita menghadap Ramanda Sunan!” ajak RM Sugandhi.
Keduanya kemudian menghadap Sunan. Kebetulan waktu itu Sunan tengah duduk seorang diri. Melihat kehadiran RM Sugandhi dan Teruna, Sunan berdiri. Setelah kedua memberikan sembah hormat kepada Sunan, lalu duduk bersila dihadapan raja. RM Sugandhi menyampaikan hasil laporan prajurit telik sandi. Mendengar laporan itu, Sunan bangkit dari duduknya. Beliau menyumpah serapah kepada Adipati Cakraningrat yang dianggap telah berani kepada raja atasannya. Beliau lupa bahwa Adipati Pamekasan itu adalah mertuanya. Untuk itu, RM Sugandhi segera meredakan amarah Ayahandanya. Untung saja usaha RM Sugandhi dapat meredakan kemarahan itu. Kemudian Sunan meminta pendapat RM Sugandhi untuk menghadapi persoalan ini. Pendeknya, Sunan berkenan dengan usul RM Sugandhi dan menyerahkan sepenuhnya kepada Pangeran Pati tersebut.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 13"
Post a Comment