Cerita Wayang # WAHYU KASTUBA URIP # 6
Friday, 16 March 2018
Add Comment
![]() |
| Cerita Wayang - WAHYU KASTUBA URIP # 6 |
WAHYU KASTUBA URIP
Bagian 6 (Tamat)
Oleh: Parpal PoerwantoSementara itu, Pandawa telah sampai di Astinapura. Werkudara langsung menuju ke penjara. Melihat kedatangan keempat Pandawa dan Anoman, awalnya Prabu Duryudana terperanjat dan takut bukan kepalang. Ia mengira bahwa Pandawa telah berhasil membunuh semua pasukannya dan kini saatnya untuk menghakimi dirinya. Maka, serta-merta Prabu Duryudana minta ampun kepada Bima. Dia yakin bahwa Bima mau mengampuni dirinya.
“Dimas Bima, mohon ampun. Janganlah awak yang sudah tidak berdaya ini kamu siksa atau membunuhnya sekaliyan. Aku masih ingin hidup. Kelak, negara Astinapura akan kukembalikan kepadamu.”
“Kanda Prabu. Kedatanganku kemari memang untuk menolong Kanda. Kanda adalah raja agung tentu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Mengenai negara Astinapura, biarlah waktu yang menjawabnya.”
Selesai mengeluarkan Prabu Duryudana dan semua prajuritnya, datanglah pasukan Korawa yang kalah perang melawan Jala Lengkara. Melihat hal itu Bima seraya bertanya sebab musababnya sampai para Korawa tubuhnya penuh luka seperti baru saja kalah perang. Kemudian, Dursasana berdalih bahwa para Korawa baru saja dihajar oleh ksatria muda yang bernama Jala Lengkara. Bahkan, Jala Lengkara sesumbar juga ingin membunuh para Pandawa.
Sebenarnya Pandawa tidak terhasut dengan kata-kata Dursasana itu. Akan tetapi melihat saudara tuanya badannya penuh luka, keempat Pandawa itu tidak merelakannya. Kemudian, keempat Pandawa itu melesat pergi mencari Jala Lengkara. Maka terjadilah perang antara keempat Pandawa dengan Jala Lengkara.
Pertama yang menghadang Jala Lengkara adalah Wrekudara. Panenggak Pandawa itu langsung menerjang tubuh Jala Lengkara. Namun sial, ternyata menemui udara kosong. Maka semakin mengamuklah ia. Saking tidak sabar lagi, dengan sekali gerakan Jala Lengkara bisa mengatasi Wrekudara. Maka majulah kstaria kembar, Nakula dan Sadewa. Kedua ksatria itu mengeroyok Jala Lengkara. Namun ternyata Jala Lengkara bukan musuh mereka. Dengan sekali gerakan Nakula dan Sadewa telah dilumpuhkan Jala Lengkara.
Maka prihatinlah Puntadewa melihat ketiga adiknya yang tidak berdaya di hadapan Jala Lengkara. Di saat genting seperti itu, datanglah Indra Tanaya. Kepada Puntadewa, Indra Tanaya menyatakan akan membantu. Hal ini disebabkan bahwa Pandawa telah menepati janjinya, yaitu mengeluarkan Prabu Duryudana dari dalam penjara.
Indra Tanaya telah berhadapan dengan Jala Lengkara. Ia sengaja menantang untuk membalas kekalahan para Pandawa. Dengan tenang Jala Lengkara meladeni apa kemauan Indra Tanaya. Perang tanding satu sama satu terjadi. Kedua kstaria itu ternyata pilih tanding. Sudah hampir satu jam belum ada tanda-tanda mana yang menang dan mana yang kalah. Namun, karena kalah dalam usia, Jala Lengkara akhirnya keteter pula. Ksatria muda itu sekarang telah dirangket oleh Indra Tanaya kemudian dipukuli dengan penjalin.
Karena sakit, Jala Lengkara menangis minta tolong. Mendengar itu Indra Tanaya mengejek. Kata Indra Tanaya sangat memalukan bahwa seorang ksatria menangis dalam peperangan. Seorang ksatria itu harus berani mati.
Akan tetapi, Jala Lengkara semakin menjadi tangisnya. Ia mengatakan bahwa ajalnya segera datang. Maka yang bisa menolong hanyalah orang tuanya. Kemudian Indra Tanaya bertanya tentang nama orangtua Jala Lengkara. Ketika Jala Lengkara menyebut nama Raden Janaka kstaria Madukara, berubahlah menjadi wujud aslinya yaitu Raden Abimanyu. Begitu juga dengan Indra Tanaya. Ia segera berubah menjadi Raden Arjuna. (Tamat).
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya.
Tunggu unggahan-unggahan kami berikunya.

0 Response to "Cerita Wayang # WAHYU KASTUBA URIP # 6"
Post a Comment