-->

Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 4

Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 4
Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 4
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini merupakan lanjutan dari kisah Cempurung Ki Ageng Donoloyo, yakni seri ke-4. Cerita ini merupakan terjadinya Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

CEMPURUNG

KI AGENG DONOLOYO # 4

Oleh: Parpal Poerwanto

Pangeran Meleng serasa tertantang. Namun, dalam hatinya sangat gembira. Sebab, itulah sebenarnya yang ia harapkan. Yakni, pamer kecakapan di hadap gadis pujaannya. Selain itu, Pangeran Meleng merasakan bahwa sumua itu bukan merupakan suatu hukuman. Ia tahu bahwa Dewi Donowati tengah menjajagi sejauh mana rasa cinta yang dimilikinya. Memang benar di antara dirinya dengan Dewi Donowati sama-sama belum mengutarakan rasa cinta. Namun, bahasa tubuh tidak bisa disembunyikan di antara keduanya.

"Kanda sudah keterlaluan," kata Pangeran Dono Kusumo kepada Dewi Donowati.
"Masak Kakang Meleng dihukum mencari menjangan sendirian. Kita tahu, hutan kelihatannya belum pernah dijamah manusia dan kelihatan angker."
"Biarlah, Dinda. Aku hanya menguji apa ia masih setia dengan niat semula, yakni ingin hidup seperti rakyat biasa. Apa-apa harus dicari sendiri tanpa ada yang meladeni," dalih Dewi Donowati menyembunyikan maksud dan tujuan sebenarnya.


"Setia, apa setia?" ledek Pangeran Dono Kusumo.

Dewi Donowati tidak menjawab. Pipinya semburat merah. Hidungnya yang mancung tampak kembang kempis. Bibirnya seakan-akan ingin mengutarakan suatu hal. Namun, tak seucap katapun terlontar.


"Aku bukan anak kecil lagi, Kanda. Dari gerak-gerik dan ucapan-ucapan sudah bisa dipahami."
"Maksudnya apa, Dinda?"
"Kulihat selam ini, jelas sekali bahwa Kanda telah jatuh hati pada Kakang Meleng. Dan sepertinya Kanda tidak bertepuk sebelah tangan."
"Alaaaa.... Kamu ini omong apa?"
"Kanda, tak baik mengingkari perasaan hati. Lagi pula aku bukan anak kecil lagi. Jadi, apa salah jika aku sempat berprasangkan bahwa kepergian Kakang Meleng ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa ia akan melakukan apa saja demi orang terkasih."

Belum usai percakapan antara Dewi Donowati dan Pangeran Dono Kusumo, datanglah Pangeran Meleng. Langkahnya yang gagah dengan memanggul seekor menjangan sebesar anak lembu. Menjangan itu tampak terluka di lehernya. Melihat itu, Dewi Donowati bertambanh gembira hatinya. Ternyata, selain gagah dan tampan, Pangeran Meleng juga cekatan dalam berburu.


"Ini Dinda, hukumannya telah kulaksanakan," kata Pangeran Meleng setelah meletakkan hasil buruannya di hadapan Dewi Donowati dan Pangeran Dono Kusumo.
"Kakang, pintaku kan ingin makan daging menjangan."
"Coba teliti Dinda, apa Kakang salah tangkap."
"Tidak Kakang, tapi saya harus mulai makan dari mana, ya?" kata Dewi Donowati sembari tersenyum tetapi terasa kecut di hati Pangeran Meleng. Pangeran Meleng sadar bahwa ia agak gegabah. Untuk itu, ia segera mencari kayu bakar. 

Melihat hal itu, Pangeran Dono Kusumo tidak mau tinggal diam. Ia segera membuat perapian dari batu lintang. Kebetulan tidak jauh dari tempat itu banyak sabut kelapa dan kayu rapuh. Tidak lama kemudian perapian sudah menyala. Pangeran Meleng juga sudah siap dengan kayu bakarnya.

"Kakang Meleng, maafkan aku yang telah menyusahkanmu," kata Dewi Donowati lirih. Dalam hatinya ada rasa penyesalan karena telah membuat susah Pangeran Meleng.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. sebab, sebenarnya aku ya lapar dan ingin menikmati daging menjangan."

Ketiganya asyik memanggang menjangan. Kini, menjangan itu sudah menjadi kaku. Tampak kulitnya terbakar api menjadi hitam kekuning-kuningan. Bau sedap mulai menusuk hidung. Pertanda sebentar lagi daging menjangan segera matang.

Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Nantikan kelanjutannya, yaitu seri ke-5. Sampai jumpa.


Pangeran

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 4"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel