Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 16
Tuesday, 20 February 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 16 |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali merupakan episode terakhir dari kisah Cempurung Ki Ageng Donoloyo yang merupakan cerita asal mula Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah.
CEMPURUNG
KI AGENG DONOLOYO # 16
Oleh: Parpal Poerwanto
Sepeninggal Sunan Giri, Ki Ageng Donoloyo merasa bangga dan bersyukur . Hal tersebut disebabkan karena dirinya telah berhasil membuat hutan lindung, yaitu Hutan Donoloyo. Bahkan, salah satu pohon jatinya kini digunakan sebagai tiang utama Masjid Agung Demak.
Sejak peristiwa kedatangan Sunan Giri itu, banyak warga yang mengetahui siapa sebenarnya Ki Ageng Donoloyo tersebut. Karenanya, orang-orang di daerah Watusomo semakin merauh hormat kepada Ki Ageng Donoloyo.
Sebaliknya, Ki Ageng Donoloyo merasa risih diperlakukan demikian. Ia menginginkan agar sikap semua warga terhadap dirinya tidak berubah. Sebab, kini Ki Ageng Donoloyo adalah warga Dusun Watusomo, bukan priyayi dari Majapahit.
Sebagaimana umur manusia, Ki Ageng Donoloyo pun bertambah tua. Menjelang akhir hidupnya, Ki Ageng Donoloyo memberikan safaat kepada warga Watusomo dan sekitarnya.
"Wahai warga Watusomo dan sekitarnya yang aku cintai. Kita telah lama bersusah payah membuat hutan jati ini. Hutan jati ini milik kita semua. Untuk itu, marilah kita jaga kelestariannya. Jangan sampai kita menebangnya. Sebagai hutan lindung, hutan ini sangat banyak manfaatnya. Selain mencegah terjadinya banjir, hutan juga bisa menyimpan air tanah untuk keperluan sekarang dan masa yang akan datang...."
Semua warga mendengarkan dengan seksama. Kemudian Ki Ageng Donoloyo melanjutkan, "Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku. Beberapa hari yang lalu aku telah kedatangan tamu agung. Tamu itu adalah seorang waliullah dari Demak Bintoro. Beliau itu Kanjeng Sunan Giri. Beliau pernah berdoa memohon kemurahan Tuhan Yang Maha Esa untuk masa depan kita. Pertama, daerah sini tidak pernah mengalami kekurangan sandang dan pangan. Kedua, mudah-mudahan daerah Watusomo dan sekitarnya senantiasa terlepas dari wabah penyakit. Kemudian yang terakhir adalah supaya wilayah sini tidak pernah menjadi ajang peperangan...."
Semua warga tidak ada yang berkata sepatah katapun. Mereka benar-benar mendengarkan kata-kata orang yang mereka hormati itu. Selanjutnya Ki ageng Donoloyo melanjutkan safaatnya. "Ada satu hal yang kalian ingat. Pada waktu Kanjeng Sunan Giri menebang kayu Cempurung, kayu itu susah diangkut untuk dihanyutkan di Kali Keduang. Atas jasa seorang pesinden yang memakai baju hijau pupus, barulah kayu jati itu bisa diangkut. Karenanya, untuk menghormati jasanya, siapa saja yang hendak ke hutan Donoloyo jangan sekali-kali memakai baju berwarna gadhung mlathi atau hijau pupus...."
Aneh sekali! Ketika Ki Ageng Donoloyo mengakhiri safaatnya, tiba-tiba turun hujan dengan derasnya.
Sekitar satu bulan kemudian, Ki Ageng Donoloyo jatuh sakit. Warga sekitar bergantian merawat dan mencarikan obat. Namun, Allah berkehendak lain. Tiga hari kemudian Ki Ageng Donoloyo berpulang ke rahmatullah. Jasadnya dirawat denganbaik dan dikebumikan di dekat Hutan Donoloyo. Warga Watusomo benar-benar kehilangan tokoh yang mereka banggakan. Yaitu seorang yang bersahaja di mana kehidupannya dihabiskan untuk mengabdi kepada kehidupan sesama, bebrayan agung.
Sementara itu, Hutan Donoloyo semakin lebat. Kayu-kayunya besar-besar dan lurus-lurus. Keberadaan dan keunggulan kayu Donoloyo terkenal di mana-mana.
Walaupun Ki Ageng Donoloyo sudah tiada, hutan tersebut masih terjaga kelestariannya. Sehingga cita-cita Ki Ageng Donoloyo untuk melestarikan lingkungan dan memberi manfaat terhadap kehidupan bersama benar-benar tercapai.
Tahun demi tahun terus berganti. Bumi Nusantara senantiasa berubah. Perang terjadi di mana-mana. Tidak terlepas daerah Wonogiri di mana Hutan Donoloyo berada. Namun, ternyata safaat Ki Ageng Donoloyo terbukti. Wilayah Watusomo atau Hutan Donoloyo dan sekitarnya tidak pernah menjadi ajang peperangan.
Kono diceritakan, ketika kompeni Belanda mengejar Pangeran Sambernyowo, seorang pahlawan dari Mataram, selalu kehilangan jejak di daerah Watusomo. Mereka lalu memutuskan untuk menarik pasukannya.
Begitu juga ketika peristiwa Tambak Merang. Yaitu seorang yang gagah berani menentang pemerintahan kolonial waktu itu. Tentara kolonial selalu kehilangan arah jika memasuki wilayah Watusomo.
Selain itu, daerah tersebut benar-benar terhindar dari wabah penyakit. Bahkan, ketika terjadi kekurangan pangan di daerah lain, daerah Watusomo tetap kecukupan pangan. Hal yang demikian inisemakin membuat para warga untuk hormat dan patuh kepada Ki Ageng Donoloyo. Tidak ada seorang wargapun yang berani menebang kayun jati di Hutan Donoloyo.
Konon dikisahkan, pada sutau ketika keraton Surakarta akan mengadakan pembangunan. Banyak membutuhkan kayu jati dalam pembangunan tersebut. Maka, raja menyuruh abdi keraton untuk menebang kayu jati di Hutan Donoloyo. Berpuluh-puluh kayu jati telah ditebang kemudian dihanyutkan di Kali Keduang.
Dalam perjalanan, ada satu kayu jati yang dianggap cacat oleh seorang abdi. Karena dianggap cacat, maka kayu itu marah. Seketika itu pula kembali ke Hutan Donoloyo. Kini, kayu tersebut berada di barat punden, tepatnya di alas Jugir sekitar setengah kilometer jauhnya. Pohon tersebut dinamakan Jati Jegot.
Penjarahan pada masa reformasi juga melanda di daerah ini. Akibatnya bumi pun marah. Pada akhir Desember 2007 terjadilah banjir bandang yang salah satu penyebabnya adalah tanah di sepanjang hulu Sungai Keduang tidak bisa lagi menahan derasnya air hujan. (TamaT).
Sahabat, terima kasih atas ampirannya. Sampai jumpa di kisah yang lain.

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 16"
Post a Comment