-->

Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 11

Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 11
Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 11
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, jumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Episode kali ini melanjutkan cerita Cempurung Ki Ageng Donoloyo pada bagian ke-11. Legenda ini menceritakan terjadinya Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

CEMPURUNG

KI AGENG DONOLOYO # 11

Oleh: Parpal Poerwanto

Ki Ageng Donosari bersyukur kepada Tuhan Yang Mahamurah yang tiada tara atas keberhasilannya memiliki hutan jati meskipun tanamannya masih kecil-kecil. Ribuan pohon jati telah berhasil ditanam di area tanah sekitar Gunung Brojo. Ki Ageng bekerja tidak sendirian. Ia dibantu warga Watusomo yang secara suka rela membantu usahanya membuat hutan jati.

Ribuan tanaman jati tampak lurus dengan ketinggian dua depa. Melihat hasil jerih payahnya itu Ki Ageng Donosari merasa gembira sekali. Kecuali memiliki kekayaan alam yang kelak bisa digunakan oleh masyarakat sekitar, cita-citanya dalam usaha melestarikan lingkungan berhasil.

Tahun demi tahun sudah berlalu. Hutan jati milik Ki Ageng Donosari jauh lebih luas jika dibandingkan dengan hutan milik Ki Ageng Sokoboyo, iparnya. Selain itu, batang-batangnya juga lebih lurus-lurus serta besar-besar. Banyak warga yang membicarakan keberhasilan Ki Ageng Donosari dalam menanam pohon jati. Akhirnya, kabar itupun sampailah ke Sokoboyo. 


Tidak urung Ki Ageng Sokoboyo juga mendengarnya. Ia mesara kebakaran jenggot. Apalagi ketika mendengar bahwa pemilikhutan jati itu adalah Ki Ageng Donosari yang tidak lain adalah Pangeran Dono Kusumo. Ki Ageng Sokoboyo sangat marah karenanya.

"Dasar keparat Dono Kusumo. Dia itu masih keturunan ningrat. Tapi mengapa tidak memiliki sifat ksatria? Dari mana bibit jati itu jika bukan didapat dari mencuri? Hai, Brajageni dan Brajalintang, siapkan kudaku. Ayo, ikuti aku ke Watusomo!"
"Siap Ki Ageng."
"Siap Ki Ageng."

Dengan dikawal kedua abdinya, Ki Ageng Sokoboyo berangkat ke Watusomo. Mereka naik kuda maing-masing. Paling dengan Ki Ageng Sokoboyo kemudian disusul Ki Brajageni dan Ki Brajalintang.


Sepeninggal Ki Ageng Sokoboyo, Nyai Ageng sangat was-was hatinya. Ia paham bagaimanan watak Ki Ageng Sokoboyo suaminya. Jika marah, Ki Ageng tidak pernah memandang dengan siapa yang dihadapinya. Ia juga selalu memaksakan kehendak kepada orang lain meskipun belum tentu pendapatnya itu benar.

Selain itu, Nyai Ageng juga merasa salah sebab telah berani memasukkan tiga biji jati ke tongkat adiknya waktu itu. Nyai Ageng yakin bahwa dari ketiga biji jati tersebut adiknya bisa memiliki hutan jati yang luasnya melebihi hutan jati suaminya.

Karenanya, dengan nelangsa Nyai Ageng berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di antara suami dan adik tercintanya.
"Ya Tuhan, semoga Engkau lindungi adik dan suamiku. Semoga di antara keduanya tidak saling bertengkar."

Sahabat, terima kasih atas ampirannya. Sampai jumpa di seri-12. Salam.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 11"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel