Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 1
Wednesday, 7 February 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 1 |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa dengan taman legenda. Kali ini disajikan legenda (cerita rakyat) yang berkaitan dengan Alas Donoloyo, yakni Cempurung, Ki Ageng Donoloyo. Ini merupakan kisah pertama. Selamat menikmati.
CEMPURUNG
KI AGENG DOLOLOYO (1)
Oleh: Parpal Poerwanto
Majapahit tinggal puing-puing. Negara terbesar di Nusantara itu dapat dilambangkan: sirna ilang kertaning bumi. Perpecahan timbul di mana-mana. Bukan hanya dalam keluarga istana tetapi juga timbul di daerah-daerah.
Banyak wilayah yang sebelumnya masuk Majapahit, satu demi satu melepaskan diri dan bergabung dengan Demak Bintoro. Penyebabnya tiada lain karena hilangnya kewibawaan para penguasa. Selain itu, juga adanya pengaruh keyakinan baru yaitu agama Islam yang disebarkan oleh para wali yang terkenal dengan nama Walisongo.
Ada beberapa pangeran yang ingin hidup tenang seperti yang dilakukan oleh Pangeran Dono Kusumo dan Dewi Donowati, kakandanya.
"Keadaan semakin tidak karuan, Kanda. Aku ingin lepas dari perebutan kekuasaan ini, " kata Pangeran Dono Kusumo.
"Benar Dimas. Aku ingin pergi jauh meninggalkan istana ini."
"Aku sependapat dengan Kakanda. Namun, kemana kita harus pergi?"
"Aku sependapat dengan Kakanda. Namun, kemana kita harus pergi?"
"Aku juga bingung harus ke mana. Namun, jika bertahan di istana, rasanya semakin tidak nyaman. Kita serba salah."
"Selain tidak nyaman, sebenarnya aku merasa sangat kecewa, Kanda...."
"Kecewa? Apa yang membuatmu kecewa, Dimas?"
"Apa Kanda tidak prihatin jika keluarga istana saling berebut kedudukan dan kekuasaan. Padahal, jika tidak terkendali kurban semakin banyak berjatuhan. Kanda tahu bahwa mereka itu adalah sanak saudara kita sendiri."
Dewi Donowati paham dengan apa yang dikatakan Pangeran Dono Kusumo. Dewi Donowati membenarkan apa yang dikatakan adiknya tersebut. Namun, dirinya juga bingung akan berbuat apa.
"JIka kita masih di sini, bisa-bisa kita ikut menjadi kurban. Atau setidaknya melihat kurban-kurban yang tiada lain adalah darah daging kita sendiri. Namun sebaliknya, jika kita benar-benar pergi, kemana langkah kita yang tepat, Dimas?"
"Kanda, tanah Jawa itu luas. Apa lagi wilayah Majapahit itu tidak hanya sebatas di tanah Jawa saja. Aku yakin di Nusantara ini masih banyak yang setia dengan Majapahit. Oleh sebab itu, kita bisa hidup di mana saja selama masih dalam lingkup Nusantara."
Dewi Donowati setuju dengan keputusan Pangeran Dono Kusumo. Akhirnya, di malam yang gelap kedua kakak beradik itu meninggalkan istana. Kepergian mereka diikuti oleh salah satu anggota keluarga lainnya, yaitu Pangeran Meleng.
"Apa Kanda Pangeran sudah bulat tekadnya," tanya Pangeran Dono Kusumo kepada Pangeran Meleng.
"Sudah, Dimas. Saya sudah bertekad untuk mengikuti ke mana Dimas pergi meninggalkan istana."
"Jika demikian, sebaiknya kita tentukan arah."
"Ke arah timur saja. Bagaimana pendapatmu, Yayi Dewi?" Pangeran Meleng minta persetujuan kepada Dewi Donowati.
"Aku menurut saja."
"Lebih baik ke arah barat saja. Sebab, daerah timur pasti dekat dengan Blambangan. Jangan-jangan malah mendapat masalah baru."
"Jika begitu, aku ikut Dimas Pangeran saja."
Ketiganya kemudian meninggalkan istana.
Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Nantikan lanjutan kisah ini, sampai jumpa!

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 1"
Post a Comment