-->

Legenda - Buaya Kedung Depis 8 (Habis) # Menghadapi Raja Buaya

Legenda - Buaya Kedung Depis 8 (Habis) # Menghadapi Raja Buaya
Legenda - Buaya Kedung Depis 8 (Habis) # Menghadapi Raja Buaya
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa dengan taman legenda. Kali ini merupakan edisi terakhir dari kisah Buaya Kedung Depis. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

BUAYA KEDUNG DEPIS 8 (HABIS)

MENGHADAPI RAJA BUAYA

Oleh : Parpal Poerwanto

Hampir separuh hari istri Ki Buyut Irapati belum ditemukan juga. Bahkan, buaya-buaya keparat itu melarikan diri tidak berani menampakkan diri. Maka semkain geramlah Ki Buyut Irapati. Suara lantangnya kembali terdengar.

"Apa semua buaya di kedung ini tidak punya telinga? Kalau punya, mana rajamu suruh keluar dan bertanding melawanku!" tantangnya. Namun, tidak ada makhluk dari Kedung Depis itu yang berani menampakkan dirinya.

"Hai buaya keparat! Ayo keluarlah semua, keroyoklan saya!" suaranya kembali menggema. Namun, itu pun sia-sia. Tidak ada tanda-tanda ada buaya yang datang menyerangnya. Untuk itu, Ki Buyut Irapati mengancam. "Dengarkan! Kalau tidak segera ada yang datang, Bengawan Semanggi akan saya bendung airnya sehingga semuanya binasa!"

Tidak berapa lama keluarlah seekor buaya yang sangat besar. Buaya itu berwarna putih dengantaring-taringnya yang sangat menyeramkan. Ia adalah raja siluman buaya Kedung Depis. Singkat cerita raja buaya menanyakan mengapa Ki Buyut menantang dirinya. Ki Buyut menjawab bahwa salah satu buaya Kedung Depis telah  berani mencuri ayam miliknya. 

Kemudian raja buaya memanggil seluruh anak buahnya dan menanyakan siapa yang berani mencuri ayam milik Ki Buyut Irapati. Awalnya semua diam tetapi ketika raja buaya marah, ada salah satu buaya yang mengaku membawa ayam putih. Namun, ia berkelit tidak mau dikatakan mencuri.


"Baik Kisanak, meskipun anak buahku mengaku tidak mencuri karena ayam itu masuk ke wilayahku, aku tetap mengormati Kisanak. Namun, saya malah ragu jangan-jangan yang dibawa anak buahku bukan ayam milikmu. Coba sebutkan ciri-cirinya apa!"
"Dengatkan semuanya! Ayam saya berwarna putih bercengger warna merah. Di sebelah sayap kiri ada warna hitam bulat sebesar ibu jari orang dewasa...."

"Bagaimana dengan ciri-ciri yang disampaikan Kisanak tersebut, bocah buaya?" tanya raja buaya kepada anak buahnya. Kemudian ayam itu diangkat dan diteliti. Ternyata yang dikatakan Ki Buyut tidak salah sedikitpun. Untuk itu buaya yang mencuri ayam itu menjadi gemetaran saking takutnya.`

Tiba-tiba ayang yang berada di tangan anak-buahnya disambar raja buaya. Serta merta dilempar bersama ribuan bangkai ayam lainnya. "Saya tidak tahu ayam Kisanak. Lebih baik Kisanak saja yang mengambilnya. Lihatlah di sana banyak bangkai ayam dan manusia!" kata raja buaya sambil tertawa keras sekali.

"Curang kamu, raja siluman. Awas, nanti setelah kutemukan kembali ayamku, akan kubuat perhitungan denganmu!" 

Di dalam kedung itu banyak sekali bangkai manusia. Selain itu, ada juga bangkai hewan seperti ayam, anjing, kijang, dan lain sebagainya. Ki Buyut Irapati agak kebingungan mencari ayam putihnya. Sudah beratus-ratus bangkai ayam dibongkar dan diteliti tetapi tidak kelihatan ayam yang dicari.


Waktu itu Ki Buyut Irapati sudah hampir putus ada. Namun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada tumpukan bangkai manusia. Di antara bangkai manusia itu terdapat seekor ayam putih yang masih bernapas. Dalam hati Ki Buyut bisa memastikan bahwa dialah ayang yang dicari itu.


Benar. Ayam itulah yang dicari. Untuk itu Ki Buyut segera membawanya ke daratan. Setelah sampai di daratan, Ki Buyut meletakkan ayanm miliknya di atas batu besar. Selanjutnya berdoa minta kepada Tuhan Yang Mahamurah agar istrinya kembali seperti sedia kala. Benar, atas kemurahan Tuhan Yang Mahaesa, Nyai Buyut kembali hidup tanpa kurang suatu apa.

Ki Buyut Irapati masih memendam marah kepada buaya-buaya Kedung Depis. Saking marahnya, Ki Buyut membabi buta. Puluhan buaya telah menjadi kurban. Air bengawan menjadi merah darah. Bau anyir menyengat hidung tetapi belum ada tanda-tanda pertarungan berakhir.

Kali ini Ki Buyut membawa tambang dari sabut aren. Tambang itu berwarna hitam dan panjang. Dengan senjata tambang itulah Ki Buyut berhasil mengikat satu per satu buaya-buaya Kedung Depis. Buaya-buaya itu dipukuli sejadi-jadinya. Mereka teriak minta ampun agar Ki Buyut menyudahi pukulannya.

"Tolong Kisanak, hentikan pukulanmu....!
"Baiklah, saya akan berhenti memukuli kalian, tetapi dengan syarat. Pertama, tambang yang mengikat leher kalian tidak dilepas. Kedua, kalian tidak boleh mengganggu apalagi makan orang dari desa Banjarsari."
"Baiklah Kisanak, saya setuju."

Kemudian, Ki Buyut melepas buaya-buaya dengan tambang dari ijuk arennya masih melilit di leher buaya. Aneh, dalam sekejap mata, tambang warna hitam itu telah menyatu dengan punggung buaya-buaya itu. Karenanya, sejak peristiwa itu punggung buaya menjadi hitam warnanya. (TamaT)


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - Buaya Kedung Depis 8 (Habis) # Menghadapi Raja Buaya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel