Cerpen - MATAHARI MERAH DI PADANG KURUSETRA
Tuesday, 27 February 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - MATAHARI MERAH DI PADANG KURUSETRA |
MATAHARI MERAH DI PADANG KURUSETRA
Oleh: Parpal Poerwanto
Angin berhenti pada titik porosnya. Mencapai titik nol. Kosong. Segala aktivitas luluh pada tingkat nol. Bahkan, padang Kurusetra yang sebantar lagi akan menjadi lautan darah dan mayat menjadi gelap karena gerakan si kosong.
Kunti berusaha menyentuh titik nol di hatinya. Keinginan menyatukan anak-anaknya tersaput oleh masa lalunya.
"Ngger, Radeya?" dengan berat hati Kunti mulai bicara.
"Aku bukan Radeya. Aku Karna. Si anak kusir yang kerjanya mencari rumput untuk makanan kuda. Yang tertatih-tatih mencari jati diri atas kelakuan alam yang harus diterima dengan mata hati.
"Jangan menyayat-nyayat hati Ibu, Ngger."
"Ibu, bertahun-tahun aku melawan sejarah. Bertahun-tahun aku bersimpuh dan selalu mengalah dalam tatanan hidup. Hingga suatu hari nasib membawaku bertemu dengan seorang guru. Banyak anak bangsawan dan ksatria berguru berlatih kanuragan dan memainkan senjata. Aku diterima murid oleh guru. Namun, pelajaranku tetap tugas-tugas calon seorang kusir. Tidak! Begitu hatiku. Seseorang tidak bergantuk oleh keturunan atau pakaian yang dikenakannya. Tekadku bulat. Aku mempelajari jurus-jurus yang diberikan guru kepada para ksatria tersebut.
Akan tetapi, langkah-langkahku tercium oleh guru. Namun, beliau tidak marah. Beliau malam memperbolehkan aku ikut berlatih bersama para ksatria tersebut. Walau begitu, aku tetap menjalankan tugasku mencari rumput serta merawat kuda dan istalnya.
Dari situlah Ibu, aku berpikir bahwa seseorang berani menjadi ksatria bukan karena keturunan. Ksatria adalah kerendah hatian dan juga kejujuran serta menepati janji. Aku telah berjanji dalam hidupku. Siapa saja yang pernah meninggalkan budi padaku, akan aku bela sampai titik darahku!"
Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap. Guntur menggelegar. Kunti tak kuasa menahan air matanya. Hancur lebur hatinya. Keinginannya untuk menyatukan anak-anaknya untuk saling tidak membunuh rupanya sia-sia. Berarti, harus ada yang mati terbunuh di antara keduanya. Radeya atau Arjuna.
"Ibu, tidak ada diplomasi atau tipu daya dalam hidup ini. Bagaimanapun aku telah lahir ke dunia. Bagaimanapun pula aku harus hanyut mengikuti arus sungai hingga aku ditemukan oleh seorang kusir. Ya, aku telah dibuang oleh seorang yang telah mengandungnya untuk menutupi aib dan virginitas!"
"Radeya, jaga mulutmu! Tak ada gunanya kau mengusik masa lalu. Kalau kedatanganmu untuk kembali bersatu, kumpul dengan ibu dan saudaramu, pintu itu terbuka lebar-lebar. Tetapi, kalau kedatanganmu mencari restu seorang ibu, kau tak bakal menemuinya. Pergilah kau ke padang Kurusetra!"
Bendera telah dikibarkan di padang Kurusetra. Kedua belah pihak telah siap dengan pasukan yang lengkap dengan segala fasilitas dan persenjataannya. Terompet-terompet kebesaran terdengar melengking mengisyaratkan bau anyir kematian segera berlangsung kembali. Bende-bende telah ditabuh. Derak kuda dan gajah mengepulkan debu-debu, menambah angkernya suasana.
Karna telah duduk di atas kereta perang. Salva, mertuanya, dipercaya menjadi kusir. Kereta bergerak maju. Sorak-sorai bala Korawa terdengar garang. Mereka mengelu-elukan panglimanya, Karna.
Di lain pihak, Arjuna menghentikan langkah ketika akan menaiki kereta perangnya. Ada gamang di hatinya. "Telah banyak anak, keponakan, dan sanak kerabat yang gugur di medan laga. Haruskah aku kembali membunuh dan membunuh lagi?"
"Hai, Arjuna! Kenapa kau ragu? Cepatlah naik, musuh sudah di depan kita!" kata Kresna yang dipercaya menjadi kusir.
"Aku tidak gila kemenangan atau kekuasaan. Apalah arti kemenangan dan kesenangan bila kita berdiri di atas mayat saudara-saudara kita?"
"Arjuna, di mana dharma ksatriamu. Yang kau bunuh bukan mereka. Yang kau bunuh adalah angkara murka yang diliputi nafsu serakah atas kekuasaan dan tirani!"
Dengan hati berat dan tersayat, Arjuna menaiki keretanya. Hatinya galau. Ia teringat pesan ibunya untuk tidak saling bunuh antara dirinya dengan Radeya.
Kurusetra benar-benar telah menjadi lautan darah. Genderang semakin keras ditabuh. Ratusan kurban dari kedua belah pihak telah berjatuhan. Namun, belum ada tanda-tanda perang akan usai.
Kereta Karna berjalan dengan kencang. Diikuti ratusan bala tentara bersenjata pedang tameng. Tiba-tiba, kereta Karna berhenti. Salah satu rodanya terperosok ke dalam lumpur. Karna perperanjat. Ia turun sendiri untuk mengangkat roda kereta yang terbenam tanah hingga dalam sampai poros roda.
Di lain pihak, seseorang tengah bimbang. Ia tertunduk lesu.
"Saat yang tepat Arjuna, lepaskan anak panahmu!" perintah Kresna saat senopatinya tengah dirundung kebimbangan.
"Aku tidak kuasa, Kresna."
"Lepaskan anak panahmu!"
Arjuna meletakkan bedor ke tali busur siap merentang dan melepaskan senjata pamungkasnya.
"Tunggu Arjuna! Kau harus menungguku kembali ke atas kereta terlebih dahulu!"
Di saat itulah sumpah Rama Parasu berupuluh tahun silam terbukti. "He, Radeya. Mengapa kau telah berdusta kepadaku? Kau tak pernah jujur siapa sebenarnya orangtua dan guru yogamu. Nanti, suatu saat, bila kau dihadapkan dengan persoalan terpenting dalam hidupmu, kau tak bisa mengatasinya. Jika suatu saat ada bahaya besar mengancam jiwamu, kau akan lupa dengan mantramu, dan senjata yang kau inginkan tidak akan muncul membelamu!"
Benar! Ketika Karna mengangkat tangan, membaca mantra dengan mengharap datangnya senjata tersakti yang senantiasa ia batinkan untuk membunuh Arjuna --seorang pemanah tangkas yang sudah dianggap rival bebuyutan sejak gelanggang Astradharmakarya-- tidak muncul. Sebaliknya, craaaas! Sekelebat senjata pamungkas bermata bulan sabit memenggal lehernya.
Bendera perang diturunkan. Perang berhenti untuk menghormati seorang panglima yang gugur. Matahari merah saga di padang Kurusetra. Sinarnya merunyamkan hati seorang ibu yang duduk tersimpuh di samping mayat anaknya yang selama ini menghilang.
Berita Buana, Minggu: 7 Juni 1998
Sahabat, terima kasih atas ampirannya. Sampai jumpa.

0 Response to "Cerpen - MATAHARI MERAH DI PADANG KURUSETRA"
Post a Comment