Legenda - Pangeran Sambernyowo
Saturday, 20 January 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - Pangeran Sambernyowo |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan taman legenda atau cerita rakyat. Legenda kali ini menceritakan sejarah berdirinya pemerintahan di Wonogiri. Selamat membaca!
PANGERAN SAMBERNYOWO
Oleh: Parpal PoerwantoRaden Mas Said adalah putra Pangeran Ario Mangkunegoro, Raja Kartosuro (Mataram). Berarti ia merupakan cucu dari istri Paku Buwono II yang berasal dari Nglaroh (Wonogiri) yang bernama Mas Sumarsono.
Sejak kecil Raden Mas Said tidak mengalami masa-masa bahagia. Pada usi dua tahun, bersama dua saudaranya yang bernama Raden Mas Ambiya dan Raden Sabar, ditinggalkan orangtuanya. Ayahnya yang bernama Pangeran Ario Mangkunegoro diasingkan ke Sailon (sekarang: Srilanka). Raden Mas Said dan kedua saudaranya hidup dalam kekurangan.
Pada usi 13 tahun, Raden Mas Said dan kedua adiknya dipanggil oleh Raja (Paku Buwono II). Menurut Raja, sudah sepantasnya mereka menerima jabatan dan pendapatan. Namun, pemberian jabatan dan penghasilan itu dirasa menyalahi adat dan tradisi yang berlaku. Raden Mas Said diberi jabatan sebagai Manteri Anom dengan sebutan Raden Mas Suryokusumo, sejajar dengan abdi dalem manteri. Begitu juga dengan kedua adiknya.
Raden Mas Said kecewa diperlakukan sewenang-wenang. Rasa kecewanya itu diutarakan kepada Patih. Namun, Patih tidak menjawab dan tidak lama kemudian Patih membawa sekantong uang emas. Raden Mas Said marah karena merasa diremehkan. Ia mengadu bukan untuk mengemis, melainkan untuk menuntut keadilan.
Sejak itu, Raden Mas Said tidak setia lagi kepada penguasa Kerajaan Kartosuro. Rasa sedih dan kecewa itu diutarakannya kepada Raden Sutowijoyo dan Ki Wirodiwongso, pamannya. Keduanya mengalami nasib yang sama seperti Raden Mas Said, yaitu diperlakukan tidak adil oleh kerajaan.
Pada masa pemerintahan Paku Buwono II selalu timbul kemelut antara keluarga raja. Di balik semua itu adalah kompeni Belanda. Sebenarnya raja sadar akan hal itu. Sikap kompeni Belanda yang selalu campur tangan dan merongrong kekuasaan raja dan menindas rakyat menimbulkan kebencian dari keluarga raja maupun dari rakyat.
Ketika terjadi peristiwa geger Pacinan, Paku Buwono II bersikap plinplan. Pada awalnya Paku Buwono II membantu Cina. Namun, setelah melihat kekuatan besar di pihak Belanda, Paku Buwono II mengadakan perundingan dengan wakil kompeni Belanda, Kapitan Van Hohendorff. Tentu saja hasil perundingan itu menguntungkan kompeni Belanda. Hal ini semakin membuat Raden Mas Said kesal dan marah.
Pada hari Rabu Kliwon tanggal 3 Rabiulawal (Mulud) Windu Sengara, 1666 Tahun jawa, atau tanggal 19 Mei 1741 Masehi, Raden Mas Said bersama pengikutnya meninggalkan istana. Saat itu juga Raden Mas Said didampingi neneknya, Bendoro Raden ayu Kusumonarso. Semua diliputi rasa prihatin, tidak ada seorang pun yang berbicara dalam perjalanan itu.
Mereka sampai di tepian Bengawan Solo yang belum ada jembatan penyeberangannya. Arus bengawan sangat deras. Agar bisa menyeberang, merka harus menggunakan rakit. Para pengikut membuat rakit yang kemudian digunakan untuk menyeberang yang hanya diterangi dengan obor.
Setelah fajar menyingsing, mereka berhasil menyeberangi Bengawan Solo. Ketika melewati sebuah sendang (kolam), Bendoro Raden Ayu Kusumonarso memerintahkan agar semua pengikut istirahat dulu.
"Semua kerabat yang saya hormati dan cintai. Kita telah menempuh perjalanan panjang. Badan terasa letih dan penat. Mari kita istirahat terlebih dahulu supaya bisa menlanjutkan perjalanan berikutnya," kata Bandoro Raden Ayu Kusumonarso. Kemudian lanjutnya, "Cucu, anak-anakku, dan semua kerabata yang saya cintai. Ketahuilah! Niat kita semua adalah melawan kompeni Belanda. Hal ini bukan berarti kita melawan Kanjeng Sunan Paku Buwono II. Meskipun Kanjeng Sunan saat ini berada di pihak kompeni Belanda, saya tahu apa yang dilakukan Kanjeng Sunan itu hanya karena takut kehilangan kedudukannya sebagai raja."
Mereka semua memperhatikan nasihat Bandoro Raden Ayu Kusumonarso yang penuh bijaksana itu. Mereka membenarkan apa yang diucapkan sesepuh itu. Beberapa saat tidak ada yang mengucapkan kata-kata. Kemudian terdengar sabda penuh wibawa dari mulut Raden Mas Said.
"Paman Dipati Kudonowarso, Ronggo Panambangan dan semua pengikut yang setia. Saya sangat menghargai pendapat nenek yang saya cintai itu. Semua kekacauan dan perebutan kekuasaan di Keraton Kartosuro didalangi kompeni Belanda. Saya sangat menyayangkan mengapa semua itu bisa terjadi. Antara kakak, adik, paman, kakek, dan kerabat lainnya mudah dihasut oleh kompeni Belanda. Seandainya Paman Sunan tidak dapat dipengaruhi oleh kompeni Belanda tentu keluarga kerajaan akan bersatu dan kuat. Namun, semua sudah lewat. Untuk itu, marilah kita menggalang persatuan dan kesatuan bersama rakyat untuk mengenyahkan kompeni Belanda dari tanah tumpah darah ini!"
Semuanya menjawab setuju.
Perjalanan kemudian dilanjutkan. Perkampungan yang dilewati tampak tenang dan aman. Melihat rombongan itu, orang-orang desa tampak keheranan. Bendoro Raden Ayu Kusumonarso bisa membaca situasi. Semua orang dipanggil dikumpulkan di suatu tempat.
"Ketahuilah hai rakyatku! Kami semua ini dari mataram sengaja keluar dari istana karena tidak betah dilakukan sewenang-wenang oleh kompeni Belanda. Oleh karena itu, kabarkan berita ini sampai ke pelosok-pelosok desa. Mari kita bersatu padu membantu perjuangan cucuku Raden Mas Said dalam mengusir kompeni Belanda."
Mendengar penjelasan itu, rakyat gembira sekali. Mereka lalu mengabarkan kabar baik itu ke para tetangga. Kemudian, banyak pemuda yang menyatakan akan bergabung dengan rombongan dari kerajaan itu jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Sampailah rombongan itu di Majasto dan singgah di rumah Ki Ageng Majasto. Kepada Ki Ageng Majasto, Raden Mas Said menjelaskan sebab musabab keluar dari istana serta maksud dan tujuannya pergi ke tempat yang dituju, yaitu Nglaroh.
"Raden, jika demikian tepat sekali rencana itu. Di Nglaroh ada seorang tokoh tua namanya Kiai Nur Iman. Beliau itu keturunan Raja Pajang, Sultan Hadiwijoyo turunan yang keempat. Nama lengkapnya Kanjeng Aryo Prabu Wijoyo. Kiranya beliau berkenan jika diajak bersama-sama menggerakkan rakyat untuk mengusir kompeni Belanda," Ki Ageng Majasto memberi petunjuk.
Perjalanan dilanjutkan dan harus menyeberangi sungai Bengawan Solo. Untung di tempat itu ada juru rakit. Setelah mengetahui siapa rombongan itu, juru rakit yang bernama Ki Jolesono bersedia menyeberangkan rombongan tanpa upah sepersenpun.
Semua rombongan telah berhasil diseberangkan dengan rakit, tinggal Raden Mas Said yang ada di seberang. Ketika kembali, juru rakit itu tidak dengan rakitnya tetapi hanya beralaskan selembar daun talas (lumbu).
"Mengapa kamu kembali tanpa rakit?" tanya Raden Mas Said.
"Maafkan saya, Raden. Menyeberangkan satu orang dengan rakit tentu akan membuang tenaga. Dengan daun talas ini akan lebih ringan dan menghemat tenaga. Untuk itu Raden, silakan naik ke atas daun lumbu ini, kita segera tiba di seberang!"
Setelah Raden Mas Said naik ke daun talas, seperti kilat telah sampai ke seberang.
Singkat cerita, rombongan telah sampai di Nglaroh. Pada hari itu juga dibangunnya sebuah rumah sebagai pusat pemerintahan. Para punggawa juga mulai dibentuk. Raden Mas Sutowijoyo diangkat sebagai senopati (lurahe punggawa) dengan nama Kiai Ngabehi Ronggo Panambangan. Ki Wirodiwongso diangkat sebagai patih dengan nama Kiai Ngabehi Kudonowarso. Selain itu, para pengikut dari Kerajaan Kartosuro yang berjumlah 22 orang diangkat sebagai prajutit inti dengan mengucap ikrar Tiji Tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh (mati satu mati semua, bahagia satu bahagia semua). Selain itu, mereka menjunjung sumpah kawula-gusti atau pamoring kawula-gusti, yaitu berdiri sama tinggi, duduk sama rendah; berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Sejak itu pula perlawanan menentang ketidakadilan dan kolonial Belanda dikobarkan.
Pada suatu sore, Raden Mas Said mengumpulkan semua pasukannya.
"Ketahuilah utnuk semua yang hadir di sini! Sebelum saya datang di Nglaroh ini, dulu saya telah menduduki tanah Sukowati. Saya tekah mengumunkan diri sebagai sunan yang merdeka di Sukowati. Namun, saya diusir oleh Paman Mangkubumi atas kehendak Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II. Oleh sebab itu, saya mengalihkan kedudukan di bumi Nglaroh ini...."
Belum selesai Raden Mas Said berbicara, tiba-tiba ada petir menyambar. Namun, tidak ada korban jiwa. Konon, itu semua berkat kesaktian Raden Mas Said yang bisa menjinakkan petir. Selanjutnya, Raden Mas Said berkata lagi.
"Kalian dengan semua! Seperti yang kalian saksikan, petir yang menyambar tempat duduk saya tadi, mengisyaratkan agar kita harus bersabar. Kita harus prihatin dan berjuan mengusir kompeni Belanda dahulu. Perlu saudara ketahu dan sampaikan kepada siapa pun, mulai hari ini sebutlah saya dengan Pangerang Sambernyowo!"
Sejak saat itu berdirilah pemerintahan pertama kali di Wonogiri yang berpusat di Desa Nglaroh. Kelak, daerah Nglaroh merupakan benteng atau basis perjuangan Pangeran Sambernyowo dalam mengusir penjajah. Perjuangan Pangeran Sambernyowo bertahan sampai 16 tahun.
Konon, pada pertempuran di Dlepih Tirtomoyo, pasukan Pangeran Sambernyowo hampir tertangkap musuh. Semua jalan telah dikepung. Satu-satunya cara hanya menyeberangi kali. Padahal, waktu itu kalinya sedang banjir. Dalam menghadapi kesulitan itu, Pangeran Sambernyowo segera mengambil tindakan. Ia menendang pohon beringin yang berdiri di pinggir kali. Seketika itu, pohon beringin itu tumbang dan roboh melintang kali. Pangeran Sambernyowo segera menyuruh semua pasukannya untuk menyeberangi kali menggunakan pohon beringin sebagai jembatannya.
Kompeni Belanda dan prajurit Kasunanan ingin mengejar melalui jembatan pohon beringin yang sama. namun, sebelum sampai di seberang mereka sudah disambut dengan senjata pasukan Pangeran Sambernyowo. Selamatlah pasukan Pangeran Sambernyowo. Pada waktu itu kompeni Belanda dan prajurit Kasunanan mengalami kerugian besar. Banyak pasukannya yang tewas.
Pangeran Sambernyowo pantang mundur. Berbagai serangan dilancarkan untuk mengacau kompeni Belanda. Kompeni Belanda merasa kewalahan sehingga mencari jalan damai melalui suatu perundingan. Akhirnya, berdasarkan Perjanjian Salatiga, Pangeran Sambernyowo berhak atas tanah 6.000 karya (kerja) beserta daerah-daerah yang dikuasanya terlebih dahulu. Pangeran Sambernyowo dinobatkan sebagai adipati yang berkedudukan di Mangkunegaran dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I, disingkat K.G.P.A.A. Mangkunegoro I.
Daerah Nglaroh sebagai basis pemerintahan dan perjuangan Pangeran Sambernyowo sekarang masuk wilayah Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Oleh karena itu, hari Rabu Kliwon tanggal 3 Rabiulawal (Mulud) Windu Sengara, 1666 Tahun Jawa atau tanggal 19 Mei 1741 Masehi ditetapkan sebagai berdirinya pemerintahan di Wonogiri dan diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Wonogiri.

0 Response to "Legenda - Pangeran Sambernyowo"
Post a Comment